Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Tirta Kamandalu, Doa yang Menari Merawat Energi Tirta Kehidupan di Festival Air Suwat 2026

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 1 Januari 2026 | 16:35 WIB
TARI : Tarian Tirta Kamandalu dari Sanggar Pancer Langit di Festival Air Suwat.
TARI : Tarian Tirta Kamandalu dari Sanggar Pancer Langit di Festival Air Suwat.

BALIEXPRESS.ID — Desa Adat Suwat, Desa Suwat, Kecamatan Gianyar, tak sekadar menandai pergantian tahun. Di antara embun yang belum sepenuhnya luruh dan denyut persiapan Festival Air Suwat (FAS), sebuah doa bergerak pelan dalam wujud Tari Tirta Kamandalu. Tarian sakral garapan Sanggar Pancer Langit ini menjadi pembuka festival, sekaligus penanda spiritual perayaan tahunan yang berakar pada tradisi Siat Yeh dan Mendak Tirta ritual air yang memuliakan sumber kehidupan.

Bukan sekadar pertunjukan seni, Tari Tirta Kamandalu dihadirkan sebagai medium spiritual. Owner Sanggar Pancer Langit, Dr. Anak Agung Gede Agung Rahma Putra, S.Sn., M.Sn., menegaskan bahwa tarian ini merepresentasikan energi Tirta Kamandalu air suci yang dalam kosmologi Bali dipercaya memiliki daya angruat, anglebur, angurip bhuana: membersihkan, melebur, dan menghidupkan semesta. “Karya ini berpijak pada pengetahuan lokal Bali, di mana kehidupan selalu terikat dengan kala atau waktu sebagai poros kosmologi,” ujarnya.

Momentum pementasan memperkuat makna tersebut. Dalam kalender Bali, 1 Januari 2026 jatuh pada Wraspati Pon Wuku Krulut, dengan nilai hari 22 yang direduksi menjadi angka 4 simbol arah utara, tempat bersemayamnya Tirta Kamandalu menurut lontar-lontar suci. Hari ini dipercaya sebagai saat medal-nya energi kesucian, ketika alam dan manusia berada pada titik keterhubungan yang halus namun kuat.

Di sinilah tarian menjadi doa yang hidup. Gerak, ritme, dan ruang menjelma bahasa sunyi antara bhuana agung dan bhuana alit. Art Director I Gusti Ngurah Krisna Gita menerjemahkan filosofi ini ke dalam garapan artistik yang sarat simbol. “Gerak dalam tarian ini adalah doa. Yeh, toya, dan tirta bisa meurip ketika doa dimasukkan ke dalam air, termasuk melalui bunyi-bunyian,” tuturnya.

Doa-doa itu disusun dalam empat segmen pementasan. Dimulai dari muput tirta dengan simbol jeding dan asap sebagai pengurip air, berlanjut pada euforia masyarakat menyambut tirta kehidupan. Segmen berikutnya adalah penglukatan, peleburan sekala dan niskala, sebelum ditutup dengan harmoni keseimbangan antara manusia, alam, dan bhuta kala. Pria dan wanita menari bersama dalam suka cita dunia nyata, sementara topeng dari ranting pohon mewakili alam yang disucikan dalam dimensi tak kasat mata.

Kostum dan properti yang dikenakan pun bukan tanpa makna. I Gusti Ngurah Arya Darmayoga bersama tim artistik merancang busana wanita bernuansa sesanghyangan dengan dominasi putih, dipadu gelungan sanghyang dan janger yang dibuat khusus untuk Festival Air Suwat. Sosok bhuta kala divisualkan melalui kostum dari ranting pohon ada yang gersang, ada yang rimbun melambangkan proses penciptaan dan peleburan alam. Sekitar 80 persen kostum dan properti merupakan karya baru yang diciptakan khusus untuk pementasan ini.

Gerak tari diramu Pande Niken Mirantika dan Aditya Kristanto dengan pijakan filosofi kamandalu: air, pasepan, dan penyatuan. Nuansanya pelan dan kontemplatif, memberi ruang penghayatan tanpa melepaskan akar tradisi Bali. Bagi Ni Kadek Aurani Sri Laksmi, salah satu penari, proses ini terasa berbeda. “Menari di sini bukan sekadar menghafal gerak, tapi memberi rasa. Geraknya pelan, melatih kesabaran dan mengalir,” ungkapnya.

Melalui Tari Tirta Kamandalu, Festival Air Suwat 2026 menjelma lebih dari sekadar agenda budaya dan pariwisata. Ia hadir sebagai ritual kolektif doa bersama yang menari, mengalir bersama air, merawat keseimbangan, keharmonisan, dan energi tirta kehidupan bagi alam dan manusia. *

Editor : Putu Agus Adegrantika