BALIEXPRESS.ID – Seorang wanita Warga Negara Asing (WNA) asal Rusia berinisial VG, 50, ditemukan tewas di sebuah rumah kawasan Jalan Muding Indah, Kelurahan Kerobokan Kaja, Kuta Utara, Badung, Bali. Korban diduga kuat melakukan aksi ulah pati (Meng*khiri hidup) tepat di hari pertama tahun baru, Kamis (1/1).
PS Kasubsipenmas Sihumas Polres Badung, Aiptu Ni Nyoman Ayu Inastuti, mengonfirmasi adanya aksi ulah pati yang dilakukan WNA Rusia di Kerobokan, Bali, tersebut. Jenazah korban pertama kali ditemukan sekitar pukul 10.00 WITA oleh saksi NWL, 50, yang bekerja di rumah tersebut.
Kejadian bermula saat saksi NWL sedang memberi makan kucing di depan rumah. Ia merasa curiga karena melihat lampu garasi masih menyala di siang hari. Saat hendak mematikan lampu, saksi dikejutkan dengan sosok VG yang sudah dalam posisi tergantung di garasi rumah.
"Saksi yang ketakutan langsung berlari memanggil suaminya, INK, untuk mengecek kondisi korban. Setelah dipastikan korban tergantung, mereka segera menghubungi pemilik rumah dan pihak kepolisian," ujar Aiptu Ayu Inastuti.
Unit Intelkam dan UKL Kuta Utara tiba di lokasi pada pukul 10.45 WITA. Dari hasil olah TKP oleh Tim Identifikasi Polres Badung, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Namun, ditemukan ciri-ciri identik gantung diri, seperti bekas jeratan simpul hidup di leher dan posisi tangan mengepal. Korban ditemukan mengenakan daster berwarna hijau tosca.
Pemilik rumah, MN mengungkapkan bahwa korban memang menunjukkan tanda-tanda depresi sejak pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina. Korban bahkan sempat dibawa ke RS Garba Med dan didiagnosis mengalami depresi.
"Korban hampir tidak pernah keluar rumah dan sangat tertutup," tutur Aiptu Ayu. Di meja ruang tamu, polisi menemukan surat wasiat yang ditulis tangan dalam bahasa Inggris, sejumlah uang tunai senilai Rp 60 juta, mata uang asing (USD, SGD, dan Baht), paspor, serta ponsel milik korban.
Dalam surat wasiatnya, VG secara gamblang mengungkapkan rasa putus asanya terhadap situasi di negaranya dan dampak perang yang menghancurkan hidupnya. Berikut adalah isi lengkap surat tersebut:
“I have no money left to live. Long ago I quit the job because my conscience doesn’t allow me to pay my taxes to fascist russia for the war. Putin has taken everything from me. Nothing good ahead, so no reason and power to continue.
Here are some instructions:
Please take care of the cat Kisa. Feed her 3 times per day, give her some water and pet her, please. The rest of the food is in the fridge. I gave her the wet food in the middle of the day (2–3 pm), the dry one in the morning (8–9 am) and in the evening (8–9 pm). After she eats all the wet food you can give her only the dry one.
I officially give my permission to donate my organs if it’s legal in Indonesia.
There are some decent clothes in the suitcase to give it away to someone in need. Perhaps orphanage.
Please use all the rest of my stuff (furniture, household appliances, kitchen utensils etc) at your discretion.
Please cremate my body or what’s left after possible organ donation here in Bali. I would like my ashes to be scattered over the ocean. I have left 60 million rupiah for the cremation. I’m sure it would be enough. No ceremony please, do it quickly and calm. The clothes for the procedure if needed is on the bed.
Please inform my brother T.G. Thank you. I am sorry for all the trouble I caused," tulisnya.
Berikut artinya dalam bahasa Indonesia, "Saya tidak punya uang lagi untuk bertahan hidup. Dulu saya berhenti bekerja karena hati nurani saya tidak mengizinkan saya membayar pajak kepada Rusia fasis untuk perang ini. Putin telah mengambil segalanya dari saya. Tidak ada hal baik di depan, jadi tidak ada alasan dan kekuatan untuk melanjutkan.
Berikut beberapa instruksi: Tolong rawat kucing Kisa. Beri dia makan 3 kali sehari, beri air minum dan elus dia, ya. Sisa makanan ada di kulkas. Saya biasa memberi makanan basah di tengah hari (jam 2–3 sore), makanan kering di pagi hari (jam 8–9) dan malam hari (jam 8–9). Setelah makanan basah habis, kamu bisa memberinya makanan kering saja.
Saya secara resmi memberikan izin untuk mendonorkan organ saya jika hal tersebut legal di Indonesia.
Ada beberapa pakaian yang masih layak di dalam koper untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Mungkin ke panti asuhan.
Silakan gunakan semua barang saya yang lain (perabot, peralatan rumah tangga, peralatan dapur, dll.) sesuai kebijaksanaan kamu.
Tolong kremasi tubuh saya atau apa pun yang tersisa setelah kemungkinan donor organ di sini di Bali. Saya ingin abu saya ditebarkan di laut. Saya telah meninggalkan 60 juta rupiah untuk kremasi. Saya yakin jumlah itu cukup. Tidak perlu upacara, lakukan dengan cepat dan tenang. Pakaian untuk prosedur jika diperlukan ada di atas tempat tidur.
Tolong beri tahu saudara saya, TG. Terima kasih. Saya minta maaf atas semua kesulitan yang telah saya timbulkan."
Jenazah korban telah dievakuasi ke RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah menggunakan ambulans pada pukul 12.40 WITA.
Pihak kepolisian saat ini tengah berkoordinasi dengan pemilik rumah untuk menghubungi keluarga atau kerabat korban guna proses pelaporan resmi dan pemulangan jenazah. (*)
Editor : I Gede Paramasutha