Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sekaa Teruna Satya Kanti Banjar Ambengan Sayan Hidupkan Kembali Janger Kolaboratif Janger

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 2 Januari 2026 | 20:19 WIB
JANGER : Janger Sekaa Teruna Satya Kanti Banjar Ambengan, Desa Sayan, Ubud.
JANGER : Janger Sekaa Teruna Satya Kanti Banjar Ambengan, Desa Sayan, Ubud.

BALIEXPRESS.ID - Semangat pelestarian seni tradisi Bali kembali digaungkan oleh Sekaa Teruna Satya Kanti Banjar Ambengan, Desa Sayan, Kecamatan Ubud. Melalui garapan seni Janger yang dikolaborasikan dengan Tecake, para pemuda banjar ini menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.

Sekaa Janger yang diberi nama Manik Swari ini resmi dibentuk pada 22 Desember 2025. Kehadirannya menjadi wadah kreativitas generasi muda Banjar Ambengan Sayan dalam merawat dan mengembangkan seni Janger secara kolektif, tanpa meninggalkan pakem tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Garapan Janger Manik Swari disusun secara utuh dan berstruktur, dimulai dari Gending Pamungkah Janger, dilanjutkan Papeson Janger dan Tecake, kemudian Nariking, Tambur Tecake, Tabuh Batel, Pategak, dan ditutup dengan Pekaad. Setiap bagian disajikan dengan kekuatan vokal yang solid, dinamika ritmis yang hidup, serta kekompakan penari dan penabuh yang mencerminkan keseriusan latihan dan kecintaan mendalam terhadap seni tradisi.

Penggerak kegiatan, I Made Raharja, menjelaskan bahwa Janger yang dibawakan oleh Sekaa Teruna Satya Kanti tidak semata-mata menjadi tontonan hiburan, melainkan juga sarana pendidikan budaya bagi generasi muda.

“Janger puniki wawu malajah. Kami sadar masih terus belajar. Namun yang terpenting adalah keberanian generasi muda untuk tampil, menjaga pakem, dan tetap rendah hati menerima masukan,” ujarnya.

Nilai-nilai luhur turut tersirat dalam gending-gending yang dilantunkan. Pesan kerendahan hati, kebersamaan, dan pengabdian tergambar jelas melalui lirik seperti “Yening wenten iwang titiang, suweca ugi sami pada ngampurayang”, yang menjadi simbol keterbukaan para pemuda terhadap kritik demi penyempurnaan karya.

Kolaborasi Janger dengan Tecake menghadirkan energi tersendiri dalam pementasan. Irama vokal “cak” yang ritmis berpadu harmonis dengan gerak Janger yang luwes, menciptakan suasana magis sekaligus dinamis. Bagian Tambur Tecake dan Tabuh Batel menjadi penanda klimaks pertunjukan, menegaskan kekuatan kolektif dalam satu napas kebersamaan.

Tak hanya menonjolkan aspek teknik, pementasan ini juga sarat nilai sosial. Melalui kisah Titiang Lacur, ditampilkan refleksi kehidupan masyarakat kecil, keteguhan hati, serta semangat bertahan dalam keterbatasan pesan yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Sekaa Teruna Satya Kanti berharap garapan Janger Manik Swari dapat terus dipentaskan, baik di tingkat desa maupun pada ajang seni yang lebih luas, sebagai wujud nyata peran pemuda dalam merawat identitas budaya Bali.

“Kami ingin seni ini tetap hidup, tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan,” tutup Wayan Raharja.*

Editor : Putu Agus Adegrantika