BALIEXPRESS. ID — Peringatan Hari Suci Siwaratri menjadi momentum refleksi mendalam bagi umat Hindu untuk melakukan perenungan diri, mengendalikan hawa nafsu, serta menata kembali arah kehidupan. Hal tersebut mengemuka dalam rangkaian kegiatan Siwaratri yang digelar di Gianyar dan dihadiri sejumlah pejabat daerah serta tokoh agama, Sabtu (17/1) malam.
Asisten Administrasi Umum Setda Gianyar, I Ketut Pasek Lanang Sadia, bersama anggota DPRD Gianyar, para kepala OPD, serta perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Gianyar yang diwakili Kasi Urusan Agama Hindu, Ida Bagus Rai Supada, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Upacara keagamaan dipuput oleh Ida Pedanda Manggis Putra Jelantik, dari Geriya Manggis Manuaba , Wanayu Blahbatuh.
Dalam sesi dharma wacana Ida Pedanda, menjelaskan pemaknaan Siwaratri yang bersumber dari Kekawin Siwalatri Kalpa, disampaikan bahwa manusia diajak untuk “berburu” bukan di hutan, melainkan di dalam dirinya sendiri. "Tokoh Lubdaka yang dikenal sebagai pemburu profesional dijadikan simbol perjalanan spiritual manusia dalam menghadapi sisi gelap kehidupannya, " papar Ida Pedanda.
Berburu dalam konteks Siwaratri dimaknai sebagai upaya membunuh sifat-sifat buruk yang bersemayam dalam diri manusia. Binatang buruan seperti harimau, babi hutan, gajah, dan badak bukan sekadar makhluk fisik, melainkan simbol beban karma dan karakter negatif yang harus ditaklukkan.
Harimau dilambangkan sebagai nafsu amarah dan kekerasan, babi hutan sebagai keserakahan dan kerakusan duniawi, gajah sebagai simbol ego, kesombongan, serta keinginan untuk dipuja, sedangkan badak melambangkan kekerasan hati, keras kepala, dan tumpulnya nurani. "Membunuh simbol-simbol tersebut berarti menundukkan amarah, keserakahan, keangkuhan, dan kekerasan batin dalam diri manusia, " imbuh beliau.
Ida Pedanda juga menjelaskan, makna mendalam Siwaratri juga menegaskan perubahan Lubdaka dari pemburu yang terbiasa menghadapi darah dan kematian menjadi pribadi yang disucikan melalui perenungan dan pengendalian diri. Siwaratri mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah menaklukkan makhluk lain, melainkan menjinakkan sifat liar dalam diri sendiri.
Melalui perayaan Siwaratri ini, umat Hindu diharapkan mampu menjadikan malam perenungan sebagai bekal spiritual untuk menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, berlandaskan dharma, serta terbebas dari belenggu sifat negatif yang menjadi sumber penderitaan manusia.*
Editor : Putu Agus Adegrantika