Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Putu Winata Melukis Keindahan Sekaligus Polemik Jatiluwih, Harapkan Penataan Utamakan Petani

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 25 Januari 2026 | 16:08 WIB

Putu Winata.
Putu Winata.

BALIEXPRESS.ID - Polemik di kawasan Jatiluwih, Tabanan, menjadi pameran tunggal yang dibawakan, oleh Pelukis Putu Winata.

Beragam karya lukisan yang menunjukkan ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dari situs warisan budaya dunia UNESCO tersebut.

Karya yang bertajuk “Jatiluwih, A Beauty Interrrupted” ini pun dapat dilihat langsung di Deus Ex Machina, Canggu, Kecamatan Kuta Utara, hingga 22 Februari 2026.

Baca Juga: Hadiri WEF Davos 2026, Dirut BRI Angkat Peran Kunci UMKM ke Panggung Keuangan Global

Kepada Koran Bali Express Putu Winata mengaku, ada suatu kegelisahan yang dilihat di Jatiluwih.

Setelah melakukan riset, ia menilai perlu ada yang diperbaiki, dan mengingatkan kembali sistem irigasi di kawasan tersebut.

Kemudian warisan budaya dunia yang ditetapkan oleh UNESCO, yang harus dijaga bersama.

Baca Juga: Rakorwil PSI, Kaesang Sebut Bali Tempat Baik untuk Memelihara Gajah

“Untuk karya ada 42 karya (lukisan) yang terbagi ada beberapa karya kecil, kemudian ada yang besar dan cukup besar satu,” ujar Winata, saat ditemui Sabtu (24/1).

Selain karya lukisan miliknya, ada juga instalasi seng yang menggambarkan protes oleh para petani di Jatiluwih.

Hal ini pun diakuinya menggambarkan protes masyarakat yang dilakukan pada Desember 2025 terhadap kebijakan pemerintah.

Baca Juga: Retribusi Pelayanan Kebersihan Bangli Ditarget Rp416 Juta, DLH Fokus Benahi Kedisiplinan

“Ada suatu kejadian di mana para petani sedikit memprotes dengan kebijakan pemerintah pada saat itu, yang mereka menganggap kurang berpihak kepada petani,” ungkapnya.

Dalam membuat karyanya, pria yang juga akrab disapa PW ini mempersiapkan waktu selama enam bulan.

Puluhan lukisan ini pun dibuat dengan tiga ukuran.

Kemudian lukisannya dibagi menjadi tiga kelompok yakni, Jatiluwih dalam perspektif pagi, siang, dan malam hari.

“Saya dari dulu memang melukis konsep abstrak, tepatnya abstraksia. Jadi abstraksia itu melukis abstrak, tapi masih ada berpola atau ada bentuk-bentuk yang kita bisa sedikit kenal,” terangnya.

Pameran tunggal ini pun telah digelar dua kali di Januari 2025 ini.

Namun Winata menerangkan, karya yang ditampilkan memiliki tema yang berbeda.

Dirinya yang aktif menggelar pameran tunggal sejak tahun 2001 ini pun berharap, lukisan-lukisan karyanya dapat menjadi cerminan untuk saling mendukung.

Terutama untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang menjadi objek di Jatiluwih.

Kemudian sistem tata kelola pembangunan yang harus ditata dengan baik dan saling mendukung.

“Ya tentunya semua harus saling mendukung, ada restoran misalnya, ada tempat penginapan hotel, atau kemudian atau cafe-cafe, harus sebenarnya ditata dengan baik, konsepnya harus jelas. Sehingga bagaimana UNESCO memandang Jatiluwi itu benar-benar murni,” imbuhnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#winata #pameran #Jatiluwih #unesco #lukisan