BALIEXPRESS.ID- Rumah jabatan Bupati Bangli tampaknya tak lama lagi bakal dibongkar.
Hal ini seiring rencana pemerintah daerah melakukan pembangunan ulang dengan anggaran Rp29 miliar.
Pantauan Senin (26/1/2026), rumah jabatan yang beralamat di Jalan Lettu Kanten, Kota Bangli, tersebut telah dikosongkan.
Barang-barangnya dipindahkan ke tempat lain. Sejumlah tanaman juga dicabut dan dipindahkan ke beberapa lokasi, seperti Kantor Bupati Bangli, Alun-alun Bangli, Bale Kambang, dan lokasi lainnya.
Kepala Bagian Umum Setda Bangli, I Putu Gede Surya Pujawan, mengatakan pengosongan rumah jabatan sudah dilakukan sejak sekitar sepekan lalu.
Namun demikian, pihaknya belum dapat memastikan waktu pembongkaran bangunan tersebut.
“Saat ini masih dalam proses penilaian oleh KPKNL. Setelah nilai keluar, baru dilakukan penjualan,” kata Pujawan.
Sesuai perencanaan, lanjut dia, bangunan rumah jabatan tersebut ditargetkan sudah rata paling lambat 20 Februari 2026.
Pelaksanaannya masih menunggu hasil penilaian dari KPKNL. “Sudah dinilai, tapi hasilnya belum keluar. Mungkin masih dalam tahap kajian,” tegasnya.
Diketahui, Pemkab Bangli akan membangun rumah jabatan bupati dengan konsep arsitektur Bali, yakni sikut satak khas Bangli.
Anggaran pembangunan mencapai Rp29 miliar. Adapun luas lahan lokasi pembangunan sekitar 50 are.
Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta menegaskan pembangunan rumah jabatan ini bukan untuk menunjukkan kemewahan atau kesombongan, melainkan sebagai tanggung jawab moral pemerintah dalam melestarikan warisan budaya adiluhung bagi generasi mendatang.
Ia menyebutkan, hingga saat ini belum ada rumah jabatan di Bali yang dibangun menggunakan konsep sikut satak.
“Kabupaten bangli ini memang dari sejarahnya dulu adalah salah satu pusat peradaban termasuk juga dari sisi arsitektur bangunannya, maka muncullah ide untuk pelestarian bangunan sikut satak khas Bangli," jelasnya.
Sedana Arta menambahkan, pembangunan rumah jabatan tersebut juga diarahkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.
Tidak menutup kemungkinan, bangunan ini ke depan dapat menjadi daya tarik wisata, mengingat konsep sikut satak kini sudah sangat jarang diterapkan.
“Hadirlah pemerintah sekaligus rumah jabatan sebagai wujud komitmen pelestarian,” tambah bupati asal Desa Sulahan, Kecamatan Susut, itu dalam Forum Group Discussion (FGD) pada Sabtu (24/1/2026). (*)
Editor : I Made Mertawan