BALIEXPRESS.ID- Kabupaten Tabanan meraih juara dua untuk lomba Desa Ekspor tahun 2025 yang digelar pemerintah pusat.
Prestasi ini tidak terlepas dari peran CV Tanteri yang berlokasi di Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan.
CV Tanteri menjadi delegasi yang mewakili Kabupaten Tabanan untuk mengikuti lomba Desa Ekspor tersebut.
Apa keunggulannya, sehingga berhasil menyabet juara dalam event yang diselenggarakan oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI itu?
Ketika ditemui di studionya, owner Tanteri Keramik, Putu Oka Mahendra, menjelaskan bahwa dalam lomba desa tersebut, pihaknya membawa dua jenis produk unggulan, yakni keramik berglasir dan kerajinan terakota.
"Kami membawa dua produk ini, karena dua produk ini merupakan produk ekspor unggulan Desa Pejaten selain beberapa produk lainnya seperti, iron art, hingga ekspor buah salak," jelasnya Jumat (6/2/2026).
Dua jenis produk ini dibawa ke ajang lomba Desa Ekspor 2025, selain karena merupakan produk unggulan, juga sudah didaftarkan untuk mendapatkan Indikasi Geografis (IG) dalam Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Oka Mahendra menjelaskan, alasan keramik berglasir dan terakota diajukan untuk mendapatkan IG HKI, karena kedua produk tersebut menjadi ciri khas dari Desa Pejaten, seperti keramik berglasir motif cicak, capung, dan kodok.
"Begitu juga kerajinan terakota, karena ada unsur geografis dan karakterisik khas sebuah daerah, maka bisa didaftarkan untuk mendapatkan IG HKI," jelasnya.
Dengan adanya identitas ini, produk keramik berglasir dan terakota Desa Pejaten akan mendapatkan logo khusus yang melindungi produk dari peniruan dan pemalsuan.
"Logo IG HKI ini juga akan meningkatkan nilai ekonomi dan daya saing produk, mengangkat identitas, citra daerah, serta mendorong pelestarian lingkungan dan kearifan lokal, serta bisa menjamin keaslian dan kualitas produk," ungkapnya.
Sebagai salah satu produk ekspor unggulan, ternyata pasar dari produk ini sudah cukup melanglang buana, tidak saja di kawasan Asia, tapi ke pasar yang lebih luas yakni Amerika dan Eropa.
Menurut Oka Mahendra, pasar luar negeri berminat pada keramik yang tidak hanya untuk dipakai dalam kebutuhan sehari-hari (tableware), tetapi juga memenuhi permintaan pasar dekorasi dan furniture.
"Untuk negara tujuan utama ekspor produk Tanteri Keramik adalah Los Angeles, Australia, hingga Swiss, untuk serapannya, pasar ekspor ini mencapai 20 persen, dan untuk pasar domestik mencapai 80 persen," terangnya.
Meski sudah melayani pasar ekspor lebih dari 10 tahun, Oka Mahendra mengakui sampai saat ini pihaknya masih memiliki kendala dalam produksi keramik ini.
Salah satunya adalah kesulitan memberdayakan warga lokal di Desa Pejaten untuk bekerja di bidang pembuatan keramik.
Kesulitan menyerap tenaga kerja lokal ini, diakuinya bukan karena tidak ada yang mau bekerja sebagai pembuat keramik, tapi rata-rata masyarakat Desa Pejaten sudah menjadi owner kerajinan sendiri.
Selain itu juga lebih tertarik bekerja di bidang jasa dan hospitality seperti bekerja di kapal pesiar atau di industri pariwisata.
“Karena itu kami mengambil tenaga kerja dari luar Bali, tentunya dengan memberikan pelatihan dahulu," tambahnya. (*)
Editor : I Made Mertawan