BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Kelusa, Desa Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar, berencana menyelenggarakan karya Wewalungan Kertih sebagai wujud bhakti dan upaya menjaga keharmonisan alam semesta. Upacara sakral ini direncanakan digelar dalam waktu dekat dan melibatkan krama desa adat secara gotong royong, mulai dari persiapan sarana upacara hingga rangkaian persembahyangan bersama.
Bandesa Adat Kelusa, I Nyoman Suarka, Kamis (12/2) menjelaskan bahwa karya Wewalungan Kertih merupakan bagian penting dari tradisi spiritual di Pura Hyang Api yang dikenal dengan adanya tradisi Aci Keburan. “Upacara ini adalah bentuk yadnya untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ini juga menjadi warisan leluhur yang wajib kami lestarikan,” ujarnya.
Secara makna, Wewalungan Kertih merujuk pada penggunaan sarana hewan (wewalungan) dalam upacara Kertih, yakni ritual penyucian dan penyeimbangan alam. Wewalungan berarti binatang atau hewan. Hewan-hewan tersebut tidak sekadar menjadi sarana upacara, tetapi disucikan terlebih dahulu melalui prosesi Mapepada sebelum dihaturkan sebagai bagian dari banten (persembahan).
Prosesi Mapepada menjadi tahapan penting karena melambangkan penyucian dan penghormatan terhadap makhluk hidup yang akan dihaturkan. Dalam pelaksanaannya, hewan-hewan tersebut diperlakukan dengan penuh etika dan doa-doa suci, sebagai simbol pengorbanan tulus demi keharmonisan jagat raya.
Adapun jenis wewalungan yang digunakan dalam karya Kertih biasanya meliputi kerbau seperti kerbau cemeng (hitam), kerbau anggrek ulan, maupun kerbau suci, serta sapi, kambing, bebek, dan ayam. Setiap jenis memiliki makna simbolis tersendiri yang berkaitan dengan unsur-unsur alam dan kekuatan kosmis dalam ajaran Hindu.
Upacara ini bertujuan sebagai sarana pecaruan untuk menyucikan lingkungan rohani dan alam (Bhuta Hita). Melalui karya seperti Danu Kertih maupun Tawur Labuh Gentuh, umat memohon agar segala unsur negatif dapat dinetralisir sehingga tercipta keseimbangan dan kedamaian di lingkungan sekitar.
I Nyoman Suarka menegaskan bahwa pelaksanaan Wewalungan Kertih di Pura Hyang Api juga merupakan pengejawantahan ajaran Sad Kertih, yakni enam upaya penyucian untuk menjaga harmoni alam semesta. “Kami percaya, dengan yadnya yang tulus, alam akan kembali seimbang dan masyarakat pun merasakan kedamaian,” katanya.
Melalui karya suci ini, Desa Adat Kelusa berharap nilai-nilai kearifan lokal dan spiritualitas Hindu Bali tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. Pura Hyang Api tidak hanya menjadi pusat persembahyangan, tetapi juga simbol komitmen bersama dalam merawat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. *
Editor : Putu Agus Adegrantika