Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Semarak Pengerupukan, Ogoh-ogoh ST Paramartha Kusuma Angkat Kisah Belog Megandong

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 22 Februari 2026 | 18:45 WIB

Ogoh-ogoh karya ST Paramatha Kusuma, Banjar Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, saat dinilai Sabtu (21/2).
Ogoh-ogoh karya ST Paramatha Kusuma, Banjar Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta, saat dinilai Sabtu (21/2).

BALIEXPRESS. ID - Dalam menyambut Tahun Baru Caka 1948, Sekaa Teruna Paramartha Kusuma, Banjar Ketapang, Kelurahan Kedonganan, Kecamatan Kuta membuat karya ogoh-ogoh dengan tema “Belog Megandong”.

Tema ini dipilih lantaran sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Bali, sekaligus untuk mencegah berkembangnya hal tersebut.

Istilah ini pun diangkat berdasarkan Lontar Gumi Kemulan dan Siwa Gama.

Baca Juga: 10 Pasang Finalis Jegeg Bagus Gianyar Sampaikan Advokasi di Bidang Pariwisata

Ogoh-ogoh yang akan dipentaskan dalam saat pengerupukan menjelang Hari Raya Nyepi ini terinspirasi dari sosok seorang manusia yang hidup dalam kebodohan dan keras kepala.

Terlebih sosok ini tidak memiliki keinginan untuk belajar dari nasihat orang lain, bahkan cenderung meremehkan dan menganggap dirinya paling benar.

Akhirnya sosok tersebut malah akan terbebani dengan masalah akibat kebodohan dan sifat keras kepala.

Baca Juga: Polres Gianyar Gelar Razia Kamtibmas Atensi Kasus Dugaan Penculikan WNA

Ketua Sekaa Teruna Paramartha Kusuma, Komang Adi Dharmana mengatakan, karya di tahun 2025 ini diangkat dari Lontar Gumi Kemulan dan Siwa Gama.

Dalam ogoh-ogoh ini ada dua sosok yang dibuat untuk mencerminkan Belog Megandong.

Sosok yang berada di atas mencerminkan sifat seseorang yang memiliki perkataan kasar, melebihkan, dan membebani orang lain.

Baca Juga: Pemerintah Tegaskan MBG 3B Prioritaskan Ibu Hamil, Menyusui, dan Balita Non-PAUD

“Tiyang (saya) mengangkat tema belog megandong ini supaya meninspirasi masyarakat di luar sana,” ujar Adi Dharmana saat ditemui Sabtu (21/2).

Sedangkan untuk tokoh yang berada paling bawah, ia menyebutkan, adalah orang yang seharusnya dapat diajak bertukar pikiran.

Namun kondisi ini malah berbanding terbalik, sebab sosok tersebut malah tertindas dari sifat belog megandong.

“Proses (pembuatan) tiyang (saya) ambil pada akhir Desember. Kemudian rampung pada saat tanggal 18 Februari kemarin. Kurang lebih satu setengah bulan,” ungkapnya.

Pangliman Banjar Ketapang, I Putu Suda Suartana menyatakan, sangat mengapresiasi usaha yang telah dilakukan para sekaa teruna dalam pembuatan ogoh-ogoh.

Tema yang diangkat pun disebutkan sangat relevan dengan kebidupan saat ini.

Sebab dalam era globalisasi ini, kebodohan itu senantiasa dikurangi dan tidak kukuh.

“Bahkan (kebodohan) sampai megandong. Belognya itu bermacam-macam, bisa berkata-kata, atau berprinsip yang kaku tidak relevan dengan perkembangan zaman, susah dinasehati oleh orang tua. Pada prinsipnya kami sangat mengapresiasi para pemuda,” jelas Suda Suartana.

Sementara salah satu tokoh masyarakat setempat, Made Sumerta mengatakan, pembuatan ogoh-ogoh adalah suatu kegiatan rutin yang dilakukan setiap tahunnya.

Dirinya pun mengapresiasi pemerintah yang telah memfasilitasi lomba ogoh-ogoh, terlebih telah memberikan bantuan.

“Lomba ogoh-ogoh ini membuat pemuda bersatu, dalam hal kedekatan, terus bersosialisasi. Tetapi jangan sampai, pembutan ogoh-ogoh ini tidak memperhatikan waktu dan kesibukan yang utama. Utamanya bagi pelajar, bagi adik-adik yang perempuan, dan jam malam dikurangi,” papar Sumerta setelah menyerahkan bantuan dari Koperasi Sari Ketapang Agung dan pribadi. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#kedonganan #ogoh-ogoh #Sekaa Teruna