BALIEXPRESS.ID – Aktivitas warga tampak tak pernah sepi di sebuah toko sederhana di kawasan Kapten Japa, Denpasar.
Sebagian datang membawa kartu ATM, lainnya menggenggam uang tunai hasil berdagang, sementara yang lain membayar tagihan listrik maupun air.
Di balik deretan galon dan es kristal, I Nyoman Wisnaya Putra melayani mereka dengan sigap dan ramah.
Toko bernama Toko Toya itu mulai beroperasi pada 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda.
Baca Juga: Disbud Badung Umumkan Tiga Peringkat Ogoh-ogoh Tingkat Zona, Berlanjut Lomba Tingkat Kabupaten
Setahun berselang, tempat tersebut berkembang menjadi Agen BRILink di bawah naungan Bank Rakyat Indonesia.
Bagi Wisnaya, keputusan membuka usaha bukan sekadar mencari peluang, melainkan langkah bertahan setelah dirinya mengalami pensiun dini.
“Saya agen itu tahun 2021. Tokonya buka 2020, masuk Covid. Waktu Covid saya sudah dipensiunkan dini, akhirnya saya buka toko. Orang tetap perlu air, pulsa, dan kebutuhan sehari-hari (jadi memutuskan untuk berjualan tersebut,” kenangnya.
Sebelumnya, lokasi toko tersebut dikenal sebagai kantor pos yang melayani berbagai pembayaran masyarakat.
Baca Juga: Libatkan FKUB dan Lintas Sektoral, Sosialisasi Imbauan Pelaksanaan Nyepi Digelar di Kemenag Gianyar
Ketika layanan itu berhenti beroperasi, Wisnaya melihat kebutuhan warga belum berubah.
“Karena banyak permintaan bayar listrik, kami minta kerja sama dengan BRI. Tahun 2021 kami resmi jadi agen,” ujarnya.
Sejak resmi menjadi Agen BRILink, ia aktif mengenalkan layanan keuangan kepada warga sekitar, termasuk dengan menyebarkan brosur.
Ia ingin masyarakat mengetahui bahwa Toko Toya tak hanya menjual kebutuhan harian, tetapi juga melayani transaksi perbankan.
Sebagai Agen BRILink, ia melayani berbagai kebutuhan transaksi.
“Kalau agen BRILink, jasa pengiriman uang, transfer, tarik tunai, bayar listrik, PDAM, pembayaran online, pinjaman seperti Adira, FIF, bayar KUR. Dulu orang bayar KUR harus ke bank, sekarang bisa di sini,” katanya.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Pohon Tumbang dan Tembok Jebol di Buleleng
Untuk nominal transaksi, Wisnaya menyesuaikan dengan ketersediaan saldo yang dimiliki.
“Kami sesuai saldo saja. Biasanya Rp1 juta sampai Rp5 juta kami layani. Kalau di atas itu harus janji dulu,” tambahnya.
Ia mengakui dukungan dari tim BRI turut memperkuat keberlangsungan layanan di tokonya.
“Tim BRI men-support sekali. Setiap dua hari kami dikunjungi, kalau ada informasi baru langsung diberitahukan. Kalau ada yang belum mengerti, mereka datang langsung jelaskan,” ujarnya.
Baca Juga: Gaktibplin dan Pemeriksaan Urine, Polres Gianyar Pastikan Personel Bebas Narkoba
Selain mendapat pendampingan rutin, ia juga tergabung dalam grup komunikasi agen untuk bertukar informasi dan mengikuti pembaruan layanan digital.
Dari sisi ekonomi, keberadaan layanan keuangan memberi tambahan pemasukan bagi usaha yang dirintisnya.
“Setiap transaksi ada fee. Kami juga tambah biaya layanan toko. Itu membantu pemasukan toko dan perekonomian,” katanya.
Layanan tersebut juga mempermudah masyarakat karena dapat melakukan beberapa transaksi sekaligus tanpa perlu antre di bank atau ATM.
“Orang datang bisa transfer, tarik tunai, bayar PLN, PDAM. Sekali datang bisa banyak transaksi. Mereka tidak perlu antre di bank atau ATM,” ujarnya.
Dalam sehari, transaksi yang dilayani bisa mencapai puluhan kali dan meningkat menjelang jatuh tempo pembayaran.
“Sehari bisa 60 sampai 70 transaksi. Kalau tanggal bayar listrik, tanggal 20-an, itu meningkat (customer-nya). Bayar listrik, PDAM, BPJS banyak,” katanya.
Lokasi toko yang berdekatan dengan pasar turut memberi keuntungan tersendiri. Banyak pedagang memilih langsung mentransfer hasil penjualan mereka.
Baca Juga: LPS bayarkan Rp25,65 miliar kepada 1.994 nasabah BPR Kamadana
“Karena dekat pasar, pedagang habis jualan langsung transfer ke bosnya. Mereka tidak mau bawa uang cash banyak,” ujarnya.
Pria kelahiran Singaraja tahun 1982 yang kini menetap di Sesetan ini menyebut pandemi sebagai titik balik dalam hidupnya.
“Waktu Covid saya harus survive. Harus berani coba buka usaha,” katanya.
Kini, Toko Toya berkembang bukan hanya sebagai tempat membeli kebutuhan harian, melainkan juga sebagai pusat layanan keuangan masyarakat sekitar, menghadirkan akses transaksi yang lebih dekat dan praktis.
Sementara itu, Pemimpin Cabang BRI Denpasar Gajah Mada, Janarka Dwi Atmaja, menyampaikan bahwa pihaknya secara konsisten melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para Agen BRILink, baik dari sisi operasional, manajemen risiko, maupun penguatan aspek keamanan transaksi.
Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan layanan kepada masyarakat berjalan aman, andal, serta sesuai prinsip kehati-hatian perbankan dan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).
Ia menambahkan, Agen BRILink tidak hanya menjadi perpanjangan layanan transaksi perbankan, tetapi juga mitra strategis BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di tengah masyarakat.(***)
Editor : Rika Riyanti