Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tampil Berbeda, Banjar Pande Sayan Pentaskan Calonarang Bertajuk Tantra Bhairawa

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 27 Februari 2026 | 14:04 WIB

CALONARANG : Pementasan calonarang bertajuk Tantra Bhairawa dari Banjar Pande Sayan, di Pura Dalem Gede Sayan, Ubud.
CALONARANG : Pementasan calonarang bertajuk Tantra Bhairawa dari Banjar Pande Sayan, di Pura Dalem Gede Sayan, Ubud.

BALIEXPRESS. ID - Pementasan Calonarang bertajuk Tantra Bhairawa dari Banjar Pande, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, kembali memukau krama dan penonton dengan garapan yang sarat nuansa magis dan filosofis di Pura Dalem Gede Sayan, Ubud. Pertunjukan yang berdurasi kurang lebih empat jam ini tampil berbeda dari pakem yang biasa disaksikan masyarakat, baik dari segi alur cerita, visual artistik, maupun pendalaman karakter.

Sutradara pementasan, Gung Juan, Jumat (27/2) menjelaskan bahwa garapan ini mengangkat kisah Buda Paksa Bhairawa yang berlatar di jagat Medang Kemulan. Cerita tersebut mengisahkan pergulatan spiritual dan kekuatan tantra dalam dinamika kehidupan masyarakat masa lampau, yang sarat dengan simbol keseimbangan antara dharma dan adharma.

"Dalam alur kisahnya, tokoh Brahmana Mpu Barang menjadi figur sentral yang berhadapan dengan kekuatan Bhairawa. Konflik tidak hanya digambarkan sebagai pertarungan fisik, tetapi juga pertarungan batin dan spiritualitas yang mendalam," jelas Gung Juan. 

Gung Juan juga menuturkan bahwa konsep Tantra Bhairawa kali ini dirancang lebih teatrikal, dengan penekanan pada dialog dramatik dan komposisi gerak yang intens. Unsur ritual tetap dijaga, namun dipadukan dengan sentuhan artistik yang memberi warna baru bagi penonton.

Banjar Pande, Desa Sayan, memang dikenal memiliki kekhasan tersendiri dalam menggarap seni pertunjukan sakral. Dalam pementasan ini, karakterisasi Rangda dan Barong ditampilkan lebih eksploratif, mempertegas dimensi energi rwa bhineda yang menjadi roh utama Calonarang.

Durasi empat jam pertunjukan tidak terasa panjang karena alur disusun bertahap, mulai dari pengenalan jagat Medang Kemulan, munculnya pengaruh ajaran Bhairawa, hingga klimaks pertemuan kekuatan suci dan kekuatan kegelapan.

Dari sisi artistik panggung, dekorasi digarap oleh Gung Bernat atau dikenal dengan dekorasi Sri Melantingnya dengan sentuhan visual yang megah namun tetap berakar pada estetika tradisi Bali. Tata panggung memadukan unsur alam, simbol sakral, dan pencahayaan dramatis yang memperkuat suasana mistis.

Sementara itu, iringan tabuh dan komposisi musikal ditangani oleh Sekehe Gong Wasita Santi yang menghadirkan dinamika suara gamelan penuh tekanan dan ledakan ritmis pada adegan-adegan puncak. Harmonisasi antara gerak, musik, dan dialog menjadi kekuatan utama pertunjukan ini.

Keunikan lain tampak pada pembukaan pementasan yang diawali dengan prosesi sasuhunan napak pratiwi, serupa dengan tradisi ngunya desa. "Prosesi ini dimaknai sebagai penyucian dan penyaksian alam sebelum pertunjukan dimulai, menegaskan bahwa Calonarang bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan, " ungkap Gung Juan. 

Penonton tampak larut ketika energi sakral mulai terasa sejak awal pementasan. Unsur ritual yang kuat menghadirkan suasana hening sekaligus tegang, seakan membawa penonton memasuki ruang spiritual Medang Kemulan.

Memasuki babak akhir, ketegangan memuncak dalam pertemuan energi Barong dan Rangda. Adegan ini menjadi simbol abadi keseimbangan kosmis yang tidak pernah benar-benar saling meniadakan, melainkan saling menguatkan dalam harmoni semesta.

Pementasan ditutup dengan pementasan sasuhunan Barong berambut ribuan burung kokokan yang tedun masolah di tengah krama. Ribuan helai rambut kokokan yang menjuntai menjadi simbol kekuatan pelindung, sekaligus penegasan bahwa dharma tetap menjadi penuntun kehidupan.

Menurut Gung Juan, garapan ini juga menjadi ruang edukasi bagi generasi muda Banjar Pande agar memahami akar spiritual seni tradisi yang mereka warisi. Ia berharap Calonarang tidak hanya dipahami sebagai pertunjukan mistis, tetapi juga sebagai karya sastra dan filosofi yang kaya makna.

Antusiasme masyarakat Desa Sayan dan sekitarnya menunjukkan bahwa seni sakral masih mendapat tempat istimewa di hati krama. Penonton bertahan hingga akhir pertunjukan sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual yang dihadirkan.

Melalui Calonarang Tantra Bhairawa ini, Banjar Pande kembali menegaskan eksistensinya sebagai penjaga tradisi sekaligus inovator seni pertunjukan Bali. "Sebuah garapan yang bukan hanya menghidupkan kisah lama, tetapi juga menyalakan kembali kesadaran akan keseimbangan dan kekuatan spiritual dalam kehidupan masyarakat Bali, " pungkas Gung Juan.*

Editor : Putu Agus Adegrantika