Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Gerindra Bali Kerahkan 500 Kader Bersih-bersih Pantai Legian, Soroti Penanganan Sampah Musiman

Rika Riyanti • Jumat, 6 Maret 2026 | 12:23 WIB

BERSIH SAMPAH: Ratusan kader Partai Gerindra Bali menggelar aksi bersih-bersih pantai di kawasan Pantai Gapura Padma, Legian, Badung, Jumat (6/3)
BERSIH SAMPAH: Ratusan kader Partai Gerindra Bali menggelar aksi bersih-bersih pantai di kawasan Pantai Gapura Padma, Legian, Badung, Jumat (6/3)

BALIEXPRESS.ID– Ratusan kader Partai Gerindra Bali menggelar aksi bersih-bersih pantai di kawasan Pantai Gapura Padma, Legian, Badung, Jumat (6/3). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari ulang tahun Partai Gerindra sekaligus menjalankan instruksi pimpinan pusat sekaligus Presiden RI Prabowo Subianto untuk menjaga kebersihan lingkungan.

 

Ketua DPD Gerindra Bali, Made Muliawan Arya, mengatakan kegiatan bersih-bersih lingkungan tersebut merupakan program rutin yang wajib dilakukan kader partai.

 

“Ya, kegiatan ini seperti instruksi Pak Ketua Umum dan Presiden Republik Indonesia untuk menjaga halaman kita ya. Jadi, ya kami kader Gerindra diwajibkan melakukan kegiatan bersih-bersih di mana pun, tidak sebatas tempat umum saja. Di lingkungan rumah, di mana pun. Yang penting kita tetap lakukan rutin, minimal seminggu sekali. Ini menjadi program rutin kita,” ujarnya.

 

Ia menegaskan kegiatan tersebut akan terus dilaksanakan secara berkala sesuai arahan pimpinan partai.

 Baca Juga: Bupati Badung Bersama Gubernur Bali Dampingi Menteri LH Tinjau TPS3R di Badung

De Gadjah menyebutkan sedikitnya lebih dari 500 kader terlibat dalam kegiatan bersih-bersih pantai tersebut. Jumlah tersebut direncanakan akan tetap sama dalam kegiatan serupa setiap pekannya.

 

“Banyak. Lebih dari 500 orang. Setiap Jumat 500 orang. Minggu depan ada lagi,” ujarnya.

 

Dalam kegiatan itu, para kader juga menemukan tumpukan sampah yang cukup besar di kawasan pesisir Legian. Menurut De Gadjah, kondisi tersebut akan dilaporkan ke pemerintah pusat.

 

“Saya akan sampaikan ke pusat bahwa ini keadaan di Bali,” katanya.

 

Ia menilai persoalan sampah kiriman yang muncul setiap musim angin barat seharusnya sudah memiliki solusi permanen.

 

“Bukan ironis lagi, beliau pasti tahu, pasti sedih dan marah lah. Dan sebenarnya masalah ini kan sudah terjadi tiap tahun ke tahun, setiap angin barat. Harusnya sudah ada solusi yang bisa dilakukan permanen. Jadi tiap tahun ada seperti ini. Kayak Jepang lah, dia rawan dengan gempa, akhirnya saking seringnya ada gempa, bagaimana dia menciptakan rumah anti gempa. Nah, kita kalau sudah tiap tahun seperti ini harusnya ada solusi,” ujarnya.

 

Menurutnya, penyelesaian masalah sampah pesisir memerlukan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat.

 

“Ya, saya berkomunikasi. Komunikasi sama Bupati baik, sama Pak Gubernur baik. Ya, semua harus bersama, dilakukan bersama baik pemerintah, masyarakat—masyarakat harus sadar, kesadarannya harus ditingkatkan—pengusaha, desa adat, dan tentu pemerintah pusat juga. Nah, kalau tidak mulai dari kita sekarang, siapa lagi untuk ke depannya anak cucu kita? Sekarang harus kita mulai berani membuat suatu perubahan yang berani lah, agar tidak ini menjadi suatu budaya. Jadi harus berani keluar dari zona nyaman,” katanya.

 

Sementara itu, Anggota DPRD Badung dari Fraksi Gerindra, I Wayan Puspa Negara, mengatakan pada kondisi normal di luar musim angin barat, kawasan Pantai Legian relatif bersih karena adanya keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga kebersihan.

 Baca Juga: 38 Pelaku Love Scamming di Denpasar Divonis Berbeda, Satu Terdakwa Dihukum Lebih Ringan karena Miliki Bayi

“Kalau sehari-hari, kalau kondisi tidak musim angin barat, pantai kita pasti bersih ya. Karena kita melibatkan tenaga pantai, masyarakat, stakeholder, dan kami sudah 5 tahun bersih-bersih pantai rutin sebagai kader Gerindra. Diperintah atau tidak diperintah, karena lingkungan adalah isu strategis dan kami menyadari lingkungan harus dijaga ekosistemnya,” ujarnya.

 

Namun saat musim angin barat, volume sampah yang terdampar di pesisir meningkat signifikan. Ia menyebut sepanjang garis Pantai Legian sekitar 1,6 kilometer dapat menerima puluhan ton sampah setiap hari.

 

“Nah, kalau kita bicara keseharian Pantai Legian di musim angin barat, rata-rata per hari itu di sepanjang pantai Legian saja yang 1,6 km ini, setiap hari itu menepi antara 20 sampai 25 ton sampah. Dan ini memang sangat sulit buat kita karena sampah ini tidak bisa diurai, tidak bisa kita pilah karena dia amis dan berkolaborasi dari berbagai kontur sampah. Kalau kita lihat dari tipikal yang datang, ini dari berbagai daerah dilihat dari merek-merek yang terdampar gitu ya,” katanya.

 

Ia menilai persoalan tersebut membutuhkan langkah penanganan yang tidak biasa agar bisa diselesaikan secara efektif.

 

“Memang ini harus ada solusi yang spektakuler seperti kata Pak Ketua tadi, bahwa ini harus out of the box dalam teori maupun praktik menyelesaikan sampah di tempat ini. Sementara kita masih butuh tempat penampungan untuk sampah ini. Kalau digunduk di tempat ini selama 3 bulan, terlihat kita seperti tidak sanggup menyelesaikan persoalan sampah, padahal masyarakat sudah bahu-membahu bekerja terus setiap hari untuk membersihkan,” ujarnya.

 

Menurut Puspa Negara, persoalan berikutnya adalah penanganan akhir sampah yang telah dikumpulkan dari pesisir.

 

“Ending-nya yang kita masih tidak tahu harus dibawa ke mana. Karena kita punya unit teknis DLHK yang harusnya bertanggung jawab, pemerintah daerah kabupaten dan kota. Karena kewenangan di sampah pesisir ini kewenangan kabupaten/kota, sedangkan tengah laut itu kewenangan KKP. Sampah ini kan floating di tengah laut berjuta-juta ton, kemudian ditiup angin karena pantai kita menghadap ke barat. Pantai kitalah yang diserbu sampah kiriman ini, yang kita kenal dengan nama ‘badai sampah’. Ini harus ditangani secara extraordinary oleh pemerintah,” katanya.

 

Ia menambahkan volume sampah kiriman saat musim angin barat relatif konsisten setiap tahun.

 

“Biasanya volumenya rata-rata hampir sama tiap tahun karena angin west monsoon ini datangnya 3 bulan; Desember, Januari, Februari, dan pertengahan Maret. Dia rutin seperti itu. Kalau dulu tipikalnya saja yang berbeda. Kalau dulu sampahnya bisa dipakai masyarakat, sekarang karena ada konversi, sampah nggak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.

 

Jenis sampah yang paling banyak ditemukan antara lain kayu, ranting, plastik hingga sampah rumah tangga yang diperkirakan berasal dari berbagai wilayah.

 Baca Juga: Hasil Tes DNA Identik 99,99 Persen! Korban Mutilasi Adalah WNA Ukraina yang Diculik di Bali

“Sebagian besar kayu, ranting, plastik, dan sampah rumah tangga. Ini kita perkirakan dari berbagai daerah dan aliran sungai yang ada di Bali maupun di luar Bali karena sampah itu floating di tengah laut berjuta-juta ton,” katanya.

 

Puspa Negara berharap setelah sampah dikumpulkan, pemerintah daerah melalui unit teknis terkait dapat segera mengangkutnya ke tempat pembuangan akhir.

 

“Kita berharap dibawa ke TPA. Kan itu tugas unit teknis. Tugas kita kan bersih-bersih, setelah kita bersihkan tugas merekalah yang memindahkan,” ujarnya.(Ika)

Editor : Wiwin Meliana
#bali #bersih bersih #gerindra