Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Desa Adat Kedonganan Pastikan Kembali Gelar Tradisi Mabuug-buugan

Putu Resa Kertawedangga • 2026-03-17 15:43:16
Tradisi mabuug-buugan yang kembali akan dilaksanakan di Pantai Timur Kedonganan. (Dok. Bali Express)
Tradisi mabuug-buugan yang kembali akan dilaksanakan di Pantai Timur Kedonganan. (Dok. Bali Express)

BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Kedonganan dipastikan kembali akan menggelar tradisi mabuug-buugan.

Tradisi ini kembali akan digelar pada Hari Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi.

Makna dari tradisi mabuug-buugan ini adalah sebagai wujud syukur atas berkah yang diterima.

Baca Juga: Aktivis Tomy Wiria Didakwa 4 Pasal Buntut Demo Pecah di Bali, Ruang Sidang Bergemuruh "Bebaskan Kawan Kami"

Dalam pelaksanaan tradisi ini, para peserta akan berkumpul terlebih dahulu di Bale Agung.

Kemudian para peserta akan menuju pantai timur Kedonganan, di sana para peserta akan bermain lumpur (buug).

Kebetulan pantai timur tersebut adalah kawasan hutan mangrove atau bakau, sehingga para peserta akan saling melumuri sekujur tubuh dengan lumpur.

Baca Juga: Buntut Video Esek-Esek Berjaket Ojol, Konten Kreator asal Prancis Callmeslo dan 2 WNA Lain Ditangkap

Setelah puas bermain lumpur, para peserta akan menuju ke arah barat di Pantai Kedonganan.

Nantinya seluruh tubuh akan dibersihkan dengan air laut dan akan diperciki tirta oleh jero mangku.

Bendesa Adat kedonganan, Wayan Sutarja mengatakan, tradisi mabuug-buugan akan kembali digela saar Ngembak Geni.

Baca Juga: Cegah Kebocoran Anggaran MBG, Pemerintah Perkuat Tata Kelola hingga Tingkat Dapur

Pihaknya pun telah memberikan informasi kepada anak- anak, sekaa teruna, dan krama desa terkait pelaksanaannya.

“Kita sampaikan juga kepada anak-anak, kepada semua kalangan baik itu dari anak-anak, sekaa teruna, kemudian juga dari masyarakat kita. Kita ajak itu bersama-sama melaksanakan karena Mabuug-buugan itu adalah warisan budaya tak benda yang sudah diakui oleh Kementerian Kebudayaan Nasional,” ungkap Sutarja.
Pihaknya menyebutkan, setiap tahunnya antusias masyarakat untuk mengikuti tradisi ini selalu meningkat.

Untuk pelaksanaan tahun ini, ia mengaku diperkirakan akan dilakukan sekitar pukul 14.00 Wita.

Nantinya para peserta akan berkumpul di Bale Agung untuk menuju Pantai Timur Kedonganan, atau hutan mangrove.

“Biasanya kami laksanakan dari jam 2 sore, kemudian nunggu airnya surut di situ kan harus kita menunggu air surut juga, setelah air surut baru kita ke dalam mencari lumpurnya,” ungkapnya.

Kemudian Sutarja menerangkan, para peserta yang telah berlumuran lumpur akan berjalan menuju Pantai Kedonganan di sebelah barat desa.

Di Pantai para peserta akan membersihkan dirinya dengan air laut.

“Maknanya ini adalah bagaimana kita mensyukuri, merasa bersyukur bahwa apa yang kita lakukan setahun dan setelahnya itu, baik itu kepada nelayan kami. Terutamanya karena kami diapit oleh dua laut yaitu laut sebelah barat dan sebelah timur yang di mana sebelah timur itu ada mangrovenya. Jadi sini kita merasa bersyukur diberikan rahmat seperti itu,” (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#kedonganan #ngembak geni #tradisi