SINGARAJA, BALI EXPRESS — Gubernur Bali, Wayan Koster, kembali menegaskan penataan Pelabuhan Sangsit, dalam mempercepat pembangunan infrastruktur strategis di Kabupaten Buleleng. Salah satu fokus utama yang tengah didorong adalah pengembangan pelabuhan, baik di wilayah timur maupun barat Buleleng, sebagai upaya menghidupkan kembali roda perekonomian kawasan utara Bali.
Pelabuhan Sangsit menjadi salah satu proyek prioritas yang saat ini masih berada pada tahap awal perencanaan. Koster mengungkapkan bahwa proyek tersebut tengah memasuki fase visibility study atau studi kelayakan awal. Studi ini ditargetkan rampung pada akhir Maret 2026.
“Pelabuhan Sangsit masih tahap visibility study. Ini dirancang sebagai pelabuhan terpadu, mencakup layanan logistik, penumpang, hingga kapal pesiar (cruise),” ujar Koster, Senin (30/3) saat membuka Parade Budaya Kecamatan di Buleleng.
Ia menambahkan, setelah studi tersebut selesai, pemerintah akan melanjutkan ke tahap presentasi desain yang dijadwalkan mulai April mendatang. Langkah ini menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan proyek sebelum masuk ke tahap pembangunan fisik.
Tak hanya Sangsit, perhatian juga diarahkan pada Pelabuhan Celukan Bawang yang saat ini dinilai belum berfungsi secara optimal. Menurut Koster, pelabuhan tersebut akan ditata kembali agar memiliki peran lebih strategis dalam mendukung distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
“Pelabuhan Celukan Bawang saat ini fungsinya masih sangat terbatas. Ke depan akan kami tata kembali agar bisa menunjang Buleleng bagian barat, tengah, hingga timur,” jelasnya.
Penataan dua pelabuhan ini diharapkan mampu menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi di Buleleng secara menyeluruh. Dengan konektivitas yang lebih baik, distribusi logistik, pariwisata, dan aktivitas perdagangan diyakini akan meningkat signifikan.
Koster juga menaruh harapan besar agar proyek-proyek tersebut dapat terealisasi sebelum masa jabatannya berakhir pada 20 Februari 2030. Ia menegaskan keseriusannya dalam mendorong percepatan pembangunan di Buleleng, yang memiliki nilai historis penting dalam perjalanan Bali.
“Buleleng ini pernah menjadi ibu kota Sunda Kecil pada masanya. Karena itu, harus kita bangun dengan serius agar kembali maju,” tegasnya.
Selain pembangunan fisik, Koster juga mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap berbagai tawaran atau proposal yang tidak jelas, terutama yang berpotensi merugikan generasi mendatang. Ia menekankan pentingnya menjaga arah pembangunan agar tetap terencana dan berkelanjutan.
“Agar Buleleng ini maju secara terarah, harus dijaga dengan baik. Jangan mudah tergiur dengan pancingan yang tidak jelas. Hati-hati dengan proposal-proposal yang bisa menyesatkan, jangan sampai salah langkah,” pesannya.
Dengan dorongan pembangunan infrastruktur yang masif dan perencanaan yang matang, Pemerintah Provinsi Bali berharap Buleleng dapat kembali menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Bali, sekaligus mengurangi kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Bali. ***
Editor : Dian Suryantini