BALIEXPRESS.ID-Dewan Pendidikan Kabupaten Tabanan menggelar forum diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama pengawas sekolah jenjang SD dan SMP se-Kabupaten Tabanan, Senin (30/3/2025). Kegiatan ini berlangsung di Aula SMP Negeri 2 Tabanan dan menjadi ruang refleksi atas dinamika pendidikan di daerah tersebut.
Ketua Dewan Pendidikan Tabanan, Drs. I Wayan Suwira, mengungkapkan bahwa kondisi pendidikan di Kabupaten Tabanan saat ini menunjukkan dua wajah yang berjalan beriringan, yakni kemajuan signifikan di satu sisi dan tantangan struktural di sisi lain.
“Capaian Rapor Pendidikan tahun 2025 yang mencapai skor 81,46 dengan kategori tuntas madya menunjukkan adanya peningkatan kualitas pendidikan yang konsisten dalam tiga tahun terakhir. Ini menjadi indikator bahwa upaya peningkatan mutu pendidikan sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Baca Juga: Rejang Ayunan di Desa Adat Pupuan: Ditarikan Pria, Ada Bermain Ayunan
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berbagai persoalan mendasar masih perlu mendapat perhatian serius, terutama yang berkaitan dengan kualitas pembelajaran dan kesenjangan pendidikan.
Kegiatan FGD ini dibuka oleh I Made Sukanitera, yang menyampaikan bahwa pendidikan di Tabanan saat ini berada dalam fase transisi menuju kualitas yang lebih baik.
“Peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga perlu menyentuh penguatan literasi dasar, perbaikan sarana dan prasarana, pemanfaatan teknologi secara edukatif, serta pembangunan ekosistem pendidikan berbasis budaya literasi,” jelasnya.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Tabanan bersifat kompleks dan multidimensional, meliputi aspek pedagogis, sosial, kultural, hingga struktural. Salah satu isu utama yang mengemuka adalah rendahnya kemampuan literasi dasar pada sebagian peserta didik, khususnya di jenjang pendidikan dasar.
Fakta di lapangan menunjukkan masih adanya siswa yang belum mampu membaca secara optimal. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan kemampuan individu, rendahnya motivasi belajar, hingga minimnya keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Selain itu, pendekatan pembelajaran yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan siswa turut memperparah situasi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri. Penggunaan perangkat digital yang belum terkelola dengan baik kerap menjadi distraksi bagi peserta didik. Namun, jika dimanfaatkan secara tepat, teknologi justru dapat menjadi sarana pembelajaran yang inovatif dan efektif.
FGD ini juga menyoroti keterbatasan fasilitas pendidikan, terutama perpustakaan sekolah. Minimnya tenaga pustakawan profesional, keterbatasan koleksi buku, serta fasilitas yang belum memadai menjadi kendala dalam membangun budaya literasi di sekolah.
Selain itu, isu putus sekolah masih menjadi perhatian, yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, lingkungan sosial, dan akses terhadap pendidikan.
Secara keseluruhan, forum ini menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Tabanan membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari sekolah, keluarga, masyarakat, hingga pemerintah.
Melalui sinergi tersebut, diharapkan sistem pendidikan di Tabanan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga mampu membangun karakter, meningkatkan literasi, serta menjamin keberlanjutan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. (dik)
Editor : I Putu Mardika