Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Bangli Tekan Volume ke TPA

I Made Mertawan • Rabu, 15 April 2026 | 07:03 WIB
 Kepala SMAN 2 Bangli I Gede Kariawan (kiri) menunjukkan teba modern yang bagian atas dimanfaatkan sebagai meja beton. (DOK Bali Express)
 Kepala SMAN 2 Bangli I Gede Kariawan (kiri) menunjukkan teba modern yang bagian atas dimanfaatkan sebagai meja beton. (DOK Bali Express)

BALIEXPRESS.ID- Kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber yang diterapkan di Kabupaten Bangli mulai menunjukkan hasil positif.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangli mencatat adanya penurunan volume sampah yang masuk ke TPA di Landih hingga 3 ton.

Kepala DLH Bangli, I Putu Ganda Wijaya, mengungkapkan bahwa sebelum kebijakan ini diterapkan, jumlah sampah yang masuk ke TPA mencapai sekitar 74 ton per hari. Kini menjadi sekitar 71 ton dan masih bercampur sampah organik, anorganik dan residu.

Baca Juga: Tukang Las di Seraya Timur Meninggal Mendadak, Polisi Pastikan Bukan Tersengat Listrik

“Semenjak diterapkannya kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber di Bangli, penurunan sampah yang masuk ke TPA sampai 3 ton. Itu yang dapat kami kutip datanya dari pendataan sampah masuk ke TPA setiap harinya oleh petugas kami di TPA,” ungkap Ganda Wijaya, Selasa (14/4/2026).

Menurutnya, pengurangan volume sampah ini didorong oleh berbagai metode pengelolaan di tingkat sumber, seperti pemanfaatan teba modern, penggunaan komposter, serta kerja sama dengan pihak ketiga.

Kebijakan ini mulai terlihat efektif sejak November 2025. DLH Bangli pun menargetkan penerapan sistem pengelolaan sampah yang lebih terarah ke depan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.

Baca Juga: Waspada DBD di Buleleng: 109 Kasus Tercatat, Gerokgak Jadi Wilayah Tertinggi

Dalam regulasi tersebut, TPA diarahkan hanya untuk mengelola sampah residu dengan metode controlled landfill.

Sementara itu, sampah organik dan anorganik diharapkan dapat diselesaikan di tingkat sumber.

Menurut Ganda perkiraan jumlah residu yang masuk ke TPA sekitar 30 persen dari total sampah.

“Target kami pada Agustus tahun ini Bangli sudah menerapkan controlled landfill," jelasnya.

Ganda menegaskan,  controlled landfill tidak akan maksimal jika sampah didominasi organik dan anorganik.

Oleh karena itu, sosialisasi pengelolaan sampah berbasis sumber harus digencarkan.   DLH, lanjut pejabat asal Lingkungan Tegal, Kelurahan Bebalang ini,  telah membentuk tim komunikasi, informasi, dan edukasi yang melibatkan berbagai unsur.

Tim ini terdiri dari internal DLH, tokoh masyarakat, hingga pemerhati pariwisata  turun langsung ke lapangan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait pentingnya memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya.

Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mempercepat terwujudnya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di Kabupaten Bangli. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bangli #sampah berbasis sumber #teba modern