BALIEXPRESS.ID-Buleleng punya banyak talenta kreatif, dan salah satu yang sedang naik daun adalah I Gede Agus Sumardita atau yang akrab disapa De Ciply. Seniman muda ini dikenal sebagai pemain topeng bondres sekaligus MC yang piawai menghidupkan suasana. Menariknya, di balik kesibukannya di dunia hiburan, De Ciply juga tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi di Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan.
Sejak bergabung dengan Sanggar Seni Sunari Bajra pada 2013, De Ciply perlahan membangun kariernya dari panggung ke panggung. Ia tak hanya tampil sebagai bondres, tetapi juga aktif sebagai penabuh, pemain drama gong, hingga aktor teater. Dari sinilah kemampuannya dalam berkomunikasi dan menghibur mulai terasah.
Kemampuan tersebut kemudian membawanya ke dunia MC. Gaya khasnya yang santai, komunikatif, dan penuh humor membuatnya sering dipercaya membawakan berbagai acara. Mulai dari HUT Kota Singaraja, anniversary Krisna, Gerokgak Festival, konser amal, launching album, hingga acara pernikahan. Bahkan, ia juga kerap tampil di berbagai kegiatan masyarakat seperti perayaan Hari Kemerdekaan.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), De Ciply mengaku jika menjadi seorang MC sekaligus pemain Topeng Bondres merupakan pengalaman yang tidak pernah terduga. Sebab, seiring berjalannya waktu kedua peran tersebut sejatinya memberikan makna yang penuh warna di hidupnya
“Bagi saya, ada sisi menyenangkan sekaligus tantangan yang harus dihadapi setiap penampilan saya. Di satu sisi, peran ini memberi kepuasan batin karena bisa menghibur penonton dan memberikan kesan membanggakan pada diri sendiri karena berhadapan langsung dengan masyarakat, menyampaikan pesan dengan cara yang ringan dan menyentuh,” imbuhnya.
Ia menambahkan, menjadi MC sekaligus Bondres bersama parternya, Ketut Wartadana yang secara langsung dapat melakukan interaksi dengan audiens. Hal ini juga sering menghadirkan momen spontan yang membangun suana lucu dan berkesan.
Namun di sisi lain, ada tekanan untuk selalu tampil maksimal, menjaga energi dan emosi, serta mampu improvisasi ketika situasi tidak sesuai. “Selain itu menampilkan kesiapan mental dan kreativitas tinggi agar tidak terkesan monoton, serta kemampuan membaca suasana agar penampilan tetap relevan dan menarik,” ungkapnya.
Tak hanya di panggung langsung, De Ciply juga aktif di dunia kreatif digital. Ia pernah menjadi model dalam sejumlah video klip lokal seperti Motifora, Harmonee Bali, hingga Join Kopi. Selain itu, ia juga tampil dalam film Jaye Prana Layon Sari serta video edukasi Covid-19 yang diproduksi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Di dunia seni pertunjukan tradisional, rekam jejaknya juga tidak main-main. Ia pernah terlibat dalam drama gong seperti Sampik Engtay, Sukreni Gadis Bali, dan Koetkoetbi. Bahkan, ia ikut ambil bagian dalam drama kolosal Mayadenawa yang dipentaskan di Jakarta. Pengalaman ini menunjukkan bahwa De Ciply mampu bergerak dari panggung lokal hingga skala nasional.
Selain itu, ia juga dipercaya sebagai brand ambassador Pogo Mojito dan terlibat dalam berbagai event promosi seperti Kopi Banyuatis. Ini menandakan bahwa kehadirannya tidak hanya kuat di seni, tetapi juga dilirik dalam dunia promosi dan industri kreatif.
Menariknya, latar belakangnya sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi memberi nilai tambah tersendiri. Kemampuan public speaking, penguasaan audiens, hingga strategi komunikasi yang ia pelajari di kampus, tampak selaras dengan profesinya sebagai MC dan entertainer. Ia seperti mempraktikkan langsung teori komunikasi di dunia nyata.
Konsistensinya selama lebih dari satu dekade di Sanggar Sunari Bajra menunjukkan bahwa De Ciply bukan sekadar seniman panggung, tetapi juga pekerja kreatif yang serius menekuni bidangnya. Ia menjadi contoh bagaimana generasi muda bisa tetap menjaga seni tradisional, sambil tetap relevan di era modern.
Kini, nama De Ciply semakin dikenal luas di Bali, khususnya di Buleleng. Dengan gaya khasnya yang menghibur dan fleksibel di berbagai panggung, ia terus membuktikan bahwa seni tradisional seperti bondres masih punya tempat di hati masyarakat—asal dikemas dengan cara yang segar dan dekat dengan penonton.
“Tentu saya mengucapkan terima kasih banyak kepada masyarakat Bali khususnya di Buleleng yang sudah banyak memberikan saya ruang belajar untuk bertumbuh menjadi MC sekaligus Bondres,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika