BALIEXPRESS.ID- Semangat persatuan Nusantara membuncah di panggung puncak Dies Natalis Perdana pada Jumat, (8/5) malam. Melalui parade budaya bertajuk “Amukti Palapa: Janji Agung Majapahit”, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dharma Duta sukses memukau civitas akademika dan para tamu undangan dengan pertunjukan kolosal yang sarat pesan sejarah, budaya, dan nasionalisme.
Parade dibuka dengan penampilan Tari Janger yang dibawakan pasangan teruna-teruni Dharma Duta sebagai pembawa papan nama fakultas. Tampil anggun dengan tatanan rambut dan riasan tradisional, para penari langsung menyedot perhatian penonton sejak awal pertunjukan.
Nuansa megah semakin terasa ketika kisah kejayaan Majapahit mulai dipentaskan. Melalui dramatari “Amukti Palapa”, mahasiswa Fakultas Dharma Duta mengangkat momentum bersejarah saat Mahapatih Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa di hadapan Tribhuwana Tunggadewi sekitar tahun 1334 Masehi.
Dalam narasi pertunjukan digambarkan bagaimana Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati kenikmatan duniawi sebelum berhasil mempersatukan Nusantara. Semangat persatuan itulah yang kemudian dihadirkan kembali melalui ragam tarian daerah dari berbagai penjuru Indonesia.
Wakil Ketua BEM Fakultas Dharma Duta, Gede Bagus Kusuma Wardana mengatakan pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk refleksi mahasiswa terhadap nilai persatuan bangsa yang diwariskan leluhur Nusantara.
Baca Juga: PMI Buleleng Terbanyak di Bali, Disnakertrans Gandeng BP3MI Perkuat Perlindungan
“Melalui parade ini kami ingin menunjukkan bahwa keberagaman budaya Indonesia adalah kekuatan besar yang harus terus dijaga. Semangat Sumpah Palapa dari Gajah Mada menjadi simbol persatuan yang relevan hingga saat ini,” ujarnya usai pementasan.
Ia menjelaskan, konsep pertunjukan dirancang untuk menggambarkan perjalanan budaya dari Sabang sampai Merauke. Setiap tarian dipilih karena memiliki makna filosofis tentang kebersamaan, penghormatan, keberanian, hingga rasa syukur.
Penampilan diawali dengan Tari Saman dari Aceh yang dibawakan penuh kekompakan. Gerakan duduk yang cepat dan serempak menghadirkan suasana energik di atas panggung. Tarian ini menggambarkan disiplin dan kekuatan dalam kebersamaan.
Perjalanan budaya kemudian berlanjut ke Sumatera Utara melalui Tari Tortor khas Batak yang sarat makna penghormatan kepada leluhur. Iringan gondang dan gerakan sederhana namun sakral menghadirkan nuansa adat yang kental.
Dari Pulau Sumatera, penonton diajak menuju Banyuwangi lewat Tari Tanjung Gemirang yang menggambarkan kelembutan perempuan Osing. Gerakan lemah gemulai dengan balutan busana cerah menghadirkan suasana anggun dan penuh pesona.
Sorak penonton semakin riuh saat Tari Mandau dari Kalimantan tampil dengan semangat kepahlawanan suku Dayak. Properti mandau yang digunakan para penari menjadi simbol keberanian dan kehormatan masyarakat Dayak.
Tak berhenti di sana, mahasiswa Dharma Duta juga menampilkan Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan yang identik dengan gerakan lembut dan penggunaan kipas. Tarian ini menggambarkan kesabaran serta kelembutan hati perempuan Bugis-Makassar.
Suasana kemudian berubah penuh semangat ketika Tari Yamko Rambe Yamko dari Papua dipentaskan. Gerakan dinamis dan enerjik para penari berhasil menghidupkan atmosfer panggung, sekaligus menggambarkan semangat juang masyarakat timur Indonesia.
Sebagai penutup, Tari Kembang Girang khas Bali tampil memikat dengan gerakan halus dan penuh ekspresi. Tarian kreasi Bali itu melambangkan kebahagiaan, keindahan, dan rasa syukur, sekaligus menjadi simbol kembalinya perjalanan budaya ke Pulau Dewata.
Menurut Gede Bagus Kusuma Wardhana, seluruh proses latihan dilakukan secara intens selama beberapa minggu oleh mahasiswa lintas program studi di lingkungan Fakultas Dharma Duta.
“Kami melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi, mulai dari Ilmu Komunikasi, Pariwisata Budaya dan Keagamaan, Penerangan Agama Hindu, hingga Manajemen Ekonomi. Semua bersatu dalam semangat berkarya dan berkolaborasi,” katanya.
Ia juga mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang ikut menyukseskan pementasan, mulai dari civitas akademika Fakultas Dharma Duta, paguyuban teruna-teruni, himpunan mahasiswa program studi, hingga para pendukung tata rias dan artistik.
Pementasan ini turut digarap oleh tim kreatif mahasiswa dengan penanggung jawab Pande Nyoman Trimahanarayani. Sementara penataan tari, musik, properti, dan busana dikerjakan secara kolaboratif oleh mahasiswa Fakultas Dharma Duta.
Atraksi budaya yang megah dan penuh warna tersebut sukses mendapat tepuk tangan meriah dari penonton. Tidak sedikit yang mengabadikan momen parade menggunakan telepon genggam karena terpukau dengan perpaduan dramatari, musik tradisional, dan keberagaman kostum Nusantara yang ditampilkan.
Melalui parade “Amukti Palapa”, mahasiswa Fakultas Dharma Duta tidak hanya menghadirkan hiburan dalam perayaan Dies Natalis, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman budaya Indonesia. (dik)
Editor : I Putu Mardika