BALIEXPRESS.ID – Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti kediaman Jro Mangku Ketut Ariana di Banjar Acak, Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (9/5/2026).
Di lokasi tersebut digelar prosesi sisya turiksa sebagai bagian penting dalam tahapan calon sulinggih sebelum menjalani upacara diksa atau penyucian diri menuju jenjang spiritual yang lebih tinggi.
Prosesi sisya turiksa merupakan tahapan penelusuran dan pemeriksaan rekam jejak, latar belakang, serta kelayakan spiritual seorang calon diksita atau calon sulinggih sebelum diizinkan mengikuti proses penyucian.
Dalam prosesi tersebut, dua sisya yang menjalani tahapan spiritual yakni Jro Mangku Ketut Ariana bersama Jro Mangku Istri Ni Nyoman Korti.
Kegiatan sakral itu juga mendapat dukungan penuh dari Dadia Pasek Gaduh Banjar Acak Kampial sebagai bentuk dukungan pasemetonan terhadap perjalanan spiritual calon sulinggih.
Ida Mpu Nabe Yogiswara selaku nabe napak menjelaskan bahwa sisya turiksa bertujuan memastikan kesiapan calon sulinggih dari berbagai aspek, mulai administrasi, perilaku, riwayat kehidupan, hingga pemahaman agama hindu.
“dalam sisya turiksa ini akan dicek kebenarannya siapa guru, dan kesiapan kedua calon dan keluarga dalam mengemban tugas menjadi seorang bhawati,” jelas Ida Mpu Nabe Yogiswara.
Ia menambahkan, sesuai aturan yang disepakati Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi (MGPSSR), terdapat tiga tahapan utama untuk menjadi seorang sulinggih.
Tahapan tersebut meliputi eka jati dengan sebutan pemangku, dwi jati dengan sebutan bhawati, dan tri jati dengan sebutan pandita.
“saat ini sudah masuk ke tahap dwi jati,” ungkapnya.
Selain kesiapan spiritual, terdapat sejumlah syarat penting yang wajib dipenuhi calon sulinggih untuk munggah bhawati, di antaranya dukungan keluarga dan pasemetonan, serta keberadaan tiga nabe yakni nabe tapak, nabe waktra, dan nabe saksi.
Prosesi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesucian dan kualitas spiritual calon sulinggih di bali agar benar-benar siap mengemban tugas keagamaan di tengah masyarakat.
Editor : Wiwin Meliana