BALIEXPRESS. ID- Di balik tenangnya kehidupan adat di Desa Adat Manuaba, Desa Kenderan, Kecamatan Tegallalang, terdapat sosok pengabdi yang dikenal dekat dengan masyarakat. Namanya, I Ketut Gambar, seorang tokoh desa yang kini mengemban tugas sebagai Bendesa Adat Manuaba setelah sebelumnya mengabdikan diri cukup lama di pemerintahan desa menjadi Perbekel Desa Kenderan.
Perjalanan pengabdian I Ketut Gambar bukanlah kisah instan. Ia pernah dipercaya menjadi perbekel pada tahun 1998 dan kembali menjabat selama dua periode berikutnya. Total, dirinya mengemban amanah pemerintahan desa selama kurang lebih 14 tahun. Pengalaman panjang tersebut menjadi bekal penting dalam memahami kebutuhan masyarakat, baik dalam aspek pembangunan maupun pelestarian adat dan budaya.
Kini, setelah sekitar setahun menjabat sebagai bendesa adat, I Ketut Gambar mengaku perannya lebih banyak difokuskan pada penguatan kehidupan adat dan gotong royong masyarakat, serta di bidang seni. Baginya, menjaga warisan leluhur bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk pengabdian yang harus dijalankan dengan tulus.
Ia mengenang masa awal pengabdian yang dijalani dengan penuh kesederhanaan. Saat masih aktif dalam pelayanan masyarakat, honor atau gaji yang diterima hanya sekitar Rp150 ribu per bulan. Namun keterbatasan itu tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap ngayah atau bekerja demi kepentingan bersama.
“Dulu memang sederhana sekali, tapi semangat ngayah tetap ada. Yang penting desa bisa maju dan masyarakat tetap kompak,” ungkap I Ketut Gambar saat ditemui di kediamannya.
Dalam masa kepemimpinannya, pembangunan berbasis budaya menjadi salah satu fokus utama. Menjelang berbagai program pengembangan desa, termasuk momentum yang berkaitan dengan kunjungan pembangunan nasional, ia mendorong penguatan identitas lokal melalui ukiran khas Kenderan yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Tidak hanya itu, sejumlah destinasi dan kawasan sakral juga terus dipelihara. Air Terjun, Pesiram Dedari, hingga kawasan spiritual yang dikenal sebagai Dedari Kenderan menjadi bagian dari perhatian serius agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Berbagai pura di wilayah adat juga terus dilanjutkan pembangunannya dan dijaga keberlangsungannya. Salah satunya kawasan Pura Griya Sakti yang menjadi pusat spiritual masyarakat. Menurutnya, menjaga pura bukan hanya tentang bangunan fisik, tetapi juga menjaga harmoni sosial dan nilai-nilai kebersamaan warga.
Semangat kebersihan lingkungan adat juga terus digelorakan. Bersama warga, termasuk kelompok pemuda Sekaa Teruna Teruni (STT), kegiatan mereresik atau bersih-bersih rutin dilakukan setiap bulan. Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat dari seluruh Desa Adat Manuaba agar lingkungan tidak terlihat kumuh dan tetap nyaman.
Menariknya, keterlibatan masyarakat tidak hanya datang dari kalangan dewasa. I Ketut Gambar justru menonjolkan peran anak-anak dan lansia dalam berbagai kegiatan adat dan sosial. Menurutnya, generasi muda perlu dikenalkan sejak dini pada budaya dan rasa memiliki terhadap desa.
Salah satu program yang mendapat perhatian adalah kegiatan pada sanggar seni “Suara Bende Mas Manuaba”, sebuah gerakan sosial budaya yang melibatkan masyarakat desa. Bahkan, keterlibatan masyarakat meluas hingga mencakup 10 banjar yang berada di wilayah Desa Kenderan dan sekitarnya, menjadikan kebersamaan sebagai kekuatan utama desa.
Kelompok lansia pun tidak luput dari perhatian. Dalam berbagai agenda adat maupun sosial, para lanjut usia dilibatkan agar tetap aktif dan merasa menjadi bagian penting dari kehidupan desa. Baginya, desa yang maju adalah desa yang tidak meninggalkan generasi tua maupun generasi mudanya.
Di tengah kesibukannya sebagai bendesa adat, I Ketut Gambar tetap meluangkan waktu bersama keluarga. Kehadiran anak-anaknya juga menjadi dukungan besar dalam berbagai aktivitas sosial dan adat, termasuk membantu kegiatan kebersihan dan pelestarian lingkungan.
Upaya penguatan budaya dan pengelolaan potensi desa perlahan membuahkan hasil. Desa wisata mulai berkembang dan mendapat perhatian. Keunikan budaya seperti Rejang Dedari Kenderan menjadi daya tarik tersendiri yang memperkuat identitas lokal.
Bagi I Ketut Gambar, jabatan hanyalah sarana pengabdian. Yang paling penting adalah bagaimana menjaga adat, memberdayakan masyarakat, serta memastikan anak-anak dan lansia tetap menjadi bagian utama dalam denyut kehidupan Desa Adat Manuaba. *
Editor : Putu Agus Adegrantika