SINGARAJA, BALI EXPRESS — Dari puluhan naskah yang datang membawa kegelisahan, ingatan, hingga suara-suara kecil dari Timur Indonesia, akhirnya terpilih 13 penulis muda yang akan menjadi bagian dari program Emerging Writers 2026 dalam rangkaian Singaraja Literary Festival (SLF) 2026.
Program ini merupakan kolaborasi antara SLF dengan Kementerian Kebudayaan RI melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Lab dan Presentasi. Para penulis terpilih berasal dari Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka akan menjalani pelatihan intensif bersama para mentor sastra sebelum tampil mempresentasikan karya dalam ajang SLF di Singaraja pada 3–5 Juli 2026 mendatang.
Ke-13 penulis yang lolos tersebut yakni Agus Wiratama, Bunga Damai Prasasti, Eyok El Abrorii, Beatrix Polen Aran, I Gede Aries Pidrawan, I Made Sugianto, Intan Soraya, Lina PW, Lisa Pingge, Mariemon Simon, Nityasa Wijaya, Novita Hidayani, dan Puspa Seruni.
Pendiri SLF, Made Adnyana Ole, dalam jumpa pers di Komunitas Mahima Singaraja, Sabtu (16/5/2026), mengatakan program Emerging Writers menjadi ruang penting untuk menemukan sekaligus mengembangkan penulis-penulis muda berbakat dari kawasan Bali dan Nusa Tenggara.
“Setelah terpilih, mereka akan mengikuti pelatihan bersama mentor mulai 19 hingga 22 Mei secara daring. Selain itu, para penulis juga difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan untuk hadir langsung di SLF dan mempresentasikan karya mereka,” ujar Ole.
Dalam program tersebut, para peserta akan didampingi tiga kurator sekaligus mentor sastra Indonesia, yakni Royyan Julian, Kiki Sulistyo, dan Maria Pankratia.
Pendiri sekaligus Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, mengungkapkan proses kurasi berlangsung cukup ketat. Sebanyak 65 penulis dari Bali, NTB, dan NTT mengirimkan cerpen maupun premis cerita terbaik mereka untuk diseleksi.
“Para kurator membaca ratusan halaman naskah. Yang dicari bukan hanya cerita yang bagus, tetapi juga kematangan bahasa, keberanian mengeksplorasi tema, kebaruan sudut pandang, dan peluang bagi penulis pemula untuk berkembang,” jelas Sonia.
Menurut Sonia, setiap kurator memiliki perhatian berbeda dalam menentukan karya terpilih. Royyan Julian menaruh fokus pada kekuatan bahasa sebagai fondasi utama cerpen. Sementara Kiki Sulistyo melihat pentingnya ketajaman dalam mengolah tema dan keberanian menghadirkan perspektif baru. Di sisi lain, Maria Pankratia menilai akses bagi penulis pemula juga harus menjadi pertimbangan penting.
“Ketika akses diberikan kepada penulis yang tepat, dampaknya bisa luar biasa bagi perkembangan sastra Indonesia,” katanya.
Program MTN Lab dan Presentasi sendiri merupakan bagian dari MTN Seni Budaya, program prioritas nasional Kementerian Kebudayaan RI yang bertujuan menjaring, mengembangkan, serta mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara lebih terstruktur.
Melalui kolaborasi dengan SLF, program ini diharapkan mampu melahirkan karya-karya sastra baru yang segar dan relevan dengan perkembangan zaman, terutama dari kawasan timur Indonesia yang selama ini menyimpan banyak suara dan cerita yang belum banyak terdengar.
Sementara itu, SLF 2026 hadir dengan tema besar Stri Sasana yang tahun ini diperluas menjadi “Energi Keseimbangan Semesta”. Tema tersebut menjadi refleksi tentang kemampuan manusia menjaga keseimbangan hidup di tengah perubahan zaman—mulai dari kemampuan beradaptasi, ketangguhan menghadapi tantangan, hingga kebijaksanaan memainkan berbagai peran dalam masyarakat. ***
Editor : Dian Suryantini