SINGARAJA, BALI EXPRESS — Musim hujan datang dengan caranya sendiri di pesisir timur Kabupaten Buleleng. Di Desa Les, Kecamatan Tejakula, langit kadang seperti menyimpan dua musim sekaligus. Di satu sisi desa hujan turun deras, sementara wilayah pesisir masih terang disinari matahari. Cuaca berubah cepat, sulit ditebak. Sebagian warga menyebutnya pancaroba, sebagian lain mengaitkannya dengan krisis iklim yang mulai terasa nyata.
Di tengah perubahan cuaca itu, seorang pemuda Desa Les, Nyoman Nadiana, memilih kembali menyusuri jalur lama di punggung Bukit Mendeha. Jalur setapak yang dahulu menjadi urat nadi penghubung masyarakat pesisir Desa Les dengan warga Desa Subaya, Kintamani, Bangli. Perjalanan itu bukan sekadar pendakian biasa.
“Ini seperti jalan untuk mengingat kembali hubungan orang-orang dulu dengan alam dan sesama,” ujar Nadiana usai turun dari Bukit Mendeha, beberapa waktu lalu.
Pagi itu, Nadiana memulai perjalanan dari kaki bukit menuju Batu Payung, sebuah batu besar di punggung bukit yang bentuknya menyerupai payung. Dibutuhkan waktu sekitar 40 menit berjalan kaki untuk mencapai titik tersebut.
Sepanjang perjalanan, ingatannya terus melayang pada cerita masa kecilnya. Ia masih mengingat keberadaan rumah polisi hutan yang kini sudah hilang dimakan usia. Bangunan itu terakhir kali ia lihat masih berdiri ketika dirinya duduk di bangku SMA sekitar tahun 2006.
Kini, yang tersisa hanya jalan setapak tua dan pepohonan yang perlahan kembali tumbuh. Namun di balik sunyinya bukit itu, tersimpan jejak sejarah panjang hubungan ekonomi masyarakat hulu dan hilir.
Dahulu, warga Desa Subaya menjadikan jalur Bukit Mendeha sebagai akses utama menuju pasar Desa Les. Setiap malam hingga dini hari, punggung bukit itu dipenuhi cahaya obor atau bobok yang dibawa para pedagang dari pegunungan. Mereka berjalan kaki sejauh sekitar 17 kilometer sambil memikul hasil bumi dari kebun.
“Waktu kecil saya sering melihat cahaya obor bergerak di bukit pada malam hari. Itu warga Subaya turun ke pasar Les,” kenang Nadiana.
Hasil kebun seperti pisang, sirih, dan pinang dibawa turun ke pesisir untuk dijual atau ditukar dengan kebutuhan sehari-hari. Dari Desa Les, warga pegunungan membawa pulang garam, ikan, dan berbagai barang pokok lainnya.
Di jalur yang sama, masyarakat dua wilayah juga membangun hubungan budaya dan spiritual. Setiap tahun, warga Desa Les beramai-ramai mendaki menuju Pura Mendeha di wilayah Desa Subaya untuk melaksanakan persembahyangan bersama.
“Dulu hubungan hulu dan hilir sangat terasa. Orang-orang hidup saling membutuhkan,” katanya.
Bukit Mendeha juga pernah menjadi ruang hidup masyarakat untuk mencari pakan ternak. Berdasarkan cerita orang tuanya, jalur itu dahulu ramai dilalui warga yang ngarit atau mencari rumput dan dedaunan bagi hewan peliharaan. Namun keadaan berubah perlahan ketika akses jalan beraspal mulai dibangun.
Aktivitas perdagangan tradisional lewat jalur bukit mulai ditinggalkan. Warga memilih kendaraan bermotor dan jalan raya yang lebih cepat. Bukit Mendeha yang dulu hidup kini berubah hening.
Bagi Nadiana, jalur tua itu bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga ruang untuk merawat kesadaran ekologis masyarakat.
Beberapa tahun lalu, ia bersama komunitas pemuda Desa Les sempat melakukan penanaman pohon beringin di beberapa titik puncak dan tebing bukit. Sebagian pohon berhasil tumbuh dan mulai menghijaukan kawasan tersebut. Dari kejauhan, perubahan itu mulai terlihat.
“Hulu harus tetap dijaga kalau ingin hilir tetap hidup,” ucapnya.
Ia menilai Bukit Mendeha menyimpan potensi besar sebagai jalur wisata trekking berbasis sejarah dan lingkungan. Selain menawarkan panorama pesisir utara Bali dari ketinggian, jalur tersebut juga menyimpan kisah tentang ketahanan hidup masyarakat zaman dulu.
Dari Batu Payung, hamparan Desa Les tampak jelas dari atas. Di sisi kanan terlihat Desa Penuktukan, sementara Desa Tejakula membentang di sebelah kiri. Punggung Bukit Mendeha berdiri seperti benteng hijau yang memisahkan laut dan pegunungan. ***
Editor : Dian Suryantini