Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Market Kripto Terkoreksi Imbas Gejolak Global, Tokocrypto Klaim Pengguna Tembus 5 Juta

Rika Riyanti • Senin, 25 Mei 2026 | 11:55 WIB
MARKET: Perayaan Bitcoin Pizza Day di Badung, Minggu (24/5)
MARKET: Perayaan Bitcoin Pizza Day di Badung, Minggu (24/5)

 

BALIEXPRESS.ID – Pasar aset kripto tengah mengalami fase koreksi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik dan tekanan ekonomi dunia.

Kondisi tersebut disebut turut memengaruhi minat investasi masyarakat, dengan tren penurunan volume perdagangan yang terjadi tidak hanya pada aset kripto, tetapi juga instrumen investasi lain.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, mengatakan situasi global saat ini memberi tekanan pada perilaku investor, terutama ketika penguatan dolar AS dan kenaikan inflasi membuat masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam mengelola dana.

“Oh, tentu, tentu. Ya, karena kan sekarang dengan pergerakan dolar yang semakin naik, inflasi naik, ya kan? Semua menjadi lebih mahal. Semua investor retail yang ingin berinvestasi di Bitcoin pun juga kadang-kadang mereka mikir gitu loh. Apakah ini sekarang mereka lebih baik pegang cash gitu kan? Atau mereka berinvestasi? Pasti ada pengaruhnya,” ujarnya di sela perayaan Bitcoin Pizza Day di Badung, Minggu (24/5).

Baca Juga: Dorong Sepeda Jadi Moda Harian, Diskusi Publik Soroti Transportasi Berkelanjutan di Denpasar

Menurut dia, perlambatan tersebut terjadi secara luas di berbagai pasar investasi global.

“Dari trading volume di semua exchange-exchange bukan hanya di Indonesia tapi globally juga menurun. Bukan hanya di crypto tapi yang di investasi instrumen yang lain pun, emas dan segala macam pun itu juga mengalami koreksi, saham juga mengalami koreksi semuanya gitu. Itu pasti berpengaruh sama,” kata Calvin.

Meski pasar berada dalam tren koreksi, Tokocrypto menilai kondisi tersebut justru kerap menjadi momentum masuk bagi sebagian investor baru.

Edukasi kepada pengguna, kata Calvin, tetap menjadi fokus perusahaan di tengah fluktuasi pasar.

 

“Jadi saat lagi market lesu itu justru kita encourage teman-teman, encourage retail user untuk mulai berinvestasi. Karena saat harga koreksi itu kan harga justru jatuh ya. Jadi kita jangan yang namanya investasi itu jangan beli di saat tinggi, jual di saat harga rendah,” ujarnya.

Ia mencontohkan harga Bitcoin yang sempat bergerak di bawah US$70.000 dalam beberapa pekan terakhir.

Menurutnya, koreksi harga menjadi salah satu fase yang dicermati investor dengan strategi jangka panjang.

Di tengah dinamika pasar tersebut, Tokocrypto mengklaim tetap mencatatkan pertumbuhan bisnis.

Baca Juga: Antusiasme Hari Pertama Lampaui Ekspektasi, Big Bad Wolf Bali 2026 Dibuka hingga 7 Juni

Calvin menyebut platform itu baru mencapai 5 juta pengguna dengan pertumbuhan active users sekitar 75 persen secara tahunan.

“Perkembangan kita sangat luar biasa ya, kalau kita bicara dari sisi user kita barusan tadi saya sampaikan kita seminggu yang lalu baru mencetak 5 juta pelanggan di Indonesia ya kita menjadi exchange yang terbesar di Indonesia, pertumbuhan kita kurang lebih sekitar 75% dari tahun ke tahun,” ujarnya.

Ia menambahkan, perusahaan juga menyiapkan sejumlah inovasi produk, termasuk layanan perpetual trading atau futures dengan leverage hingga 25 kali yang saat ini masih menunggu kesiapan perizinan regulator.

Di sisi lain, isu koreksi pasar tersebut turut menjadi salah satu bahasan dalam peringatan Bitcoin Pizza Day yang digelar Tokocrypto.

Baca Juga: Pemkab Jembrana Bagikan Hewan Qurban ke 69 Masjid, Anggaran Naik Jadi Rp246 Juta

Perayaan tahunan komunitas kripto itu berlangsung melalui roadshow di Surabaya, Malang, dan Bali, dengan melibatkan lebih dari 300 peserta dari komunitas, mahasiswa hingga masyarakat umum.

Bitcoin Pizza Day diperingati setiap 22 Mei untuk mengenang transaksi bersejarah pada 2010 ketika developer asal Florida, Laszlo Hanyecz, menggunakan 10.000 Bitcoin untuk membeli dua loyang pizza—momen yang dianggap sebagai penggunaan pertama Bitcoin untuk membeli barang nyata.

Calvin mengatakan peringatan tersebut bukan sekadar seremoni komunitas, melainkan pengingat atas perjalanan Bitcoin sebagai aset digital yang terus berkembang.

“Ini adalah acara tahunan untuk komunitas di industri kripto. Kita sebutnya Bitcoin Pizza Day. Kenapa? Karena memang memperingati di masa lalu saat Bitcoin itu diciptakan ada satu kejadian di mana ada seseorang yang membeli pizza dua loyang senilai 10.000 Bitcoin,” katanya.

Ia menilai perjalanan Bitcoin sejak saat itu menunjukkan bahwa aset digital bukan fenomena sementara.

“Bitcoin itu bukan sesuatu yang diciptakan hanya untuk sementara waktu tapi last until today gitu dan hari nilainya berkembang terus ya dan bahkan menjadi sebuah instrumen investasi yang sangat menarik,” ujar Calvin.

Baca Juga: Ipat Kembali Pimpin KONI Jembrana 2026-2030, Fokus Cetak Atlet Berprestasi hingga Level Internasional

Tokocrypto menyebut momentum Bitcoin Pizza Day juga dimanfaatkan untuk memperluas edukasi mengenai aset digital, risiko investasi, serta perkembangan adopsi kripto di Indonesia yang kini telah berada di bawah pengawasan regulator.(***)

Editor : Rika Riyanti
#bali #investasi #pizza #Tokocrypto #bitcoin