BALIEXPRESS.ID - Tradisi ngejot saat Hari Raya Idul Adha kembali dilestarikan warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (lDII) Kabupaten Tabanan, Rabu (27/5). Tidak hanya membagikan daging kurban mentah, warga LDII juga membagikan gulai kambing matang kepada masyarakat sekitar tanpa memandang agama maupun latar belakang.
Kegiatan sosial tersebut dipusatkan di Gedung Sekretariat LDII Tabanan di Jalan Tarumanegara Nomor 28, Banjar Malkangin, Dajan Peken. Usai proses penyembelihan hewan kurban selesai sekitar pukul 12.30 WITA, para pemuda LDII langsung bergerak membagikan daging ke rumah-rumah warga.
Ketua DPD LDII Tabanan, Maulana Sandijaya mengatakan, tradisi ngejot merupakan bentuk menjaga kerukunan dan mempererat persaudaraan antarumat di Bali. Tahun ini, pihaknya memasak tiga ekor kambing menjadi gulai untuk kemudian dibagikan kepada tetangga dan warga sekitar.
Baca Juga: Astra Motor Bali Perkuat Kompetensi Siswa Melalui Pembelajaran Industri TBSM
“LDII ngejot daging kurban ini sifatnya inklusif untuk semua kalangan tanpa memandang agama, suku, ras maupun golongan,” ujarnya.
Menurutnya, pembagian daging juga disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat penerima. Warga nonmuslim yang tidak mengonsumsi daging sapi diberikan daging kambing, demikian pula sebaliknya.
Menariknya, tradisi berbagi ini melibatkan generasi muda LDII mulai usia SMP hingga mahasiswa. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah, baik berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor untuk wilayah yang lebih jauh.
Baca Juga: Bocah 12 Tahun Terseret Ombak Pantai Yeh Gangga Tabanan, Begini Kronologinya
Sandijaya menilai keterlibatan anak muda penting agar nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. Selain menyasar masyarakat umum, pembagian daging kurban juga diperuntukkan bagi warga kurang mampu.
Pada Iduladha tahun ini, warga LDII Tabanan menyembelih lima ekor sapi dan 17 ekor kambing. Untuk mengurangi sampah plastik, daging kurban dibagikan menggunakan besek bambu.
Tak hanya itu, pengelolaan limbah penyembelihan juga dilakukan secara ramah lingkungan. Para juru sembelih disebut telah mengikuti pelatihan juru sembelih halal (juleha). Limbah darah dan kotoran hewan tidak dibuang sembarangan, melainkan ditanam dalam lubang khusus. Sementara untuk mengurangi bau, warga menggunakan cairan eco-enzyme organik.
“Pengelolaan limbah organik ini sebagai aksi nyata membantu pemerintah menangani sampah agar lingkungan tetap bersih dan lestari,” pungkasnya. (*)
Editor : I Gede Paramasutha