BALIEXPRESS.ID – Bupati Gianyar, I Made Agus Mahayastra, menanggapi santai kemunculan spanduk berisi kritik yang terpasang di kawasan Ubud. Menurutnya, keberadaan spanduk tersebut tidak perlu disikapi secara berlebihan karena seorang pemimpin memang harus siap menerima berbagai bentuk masukan dari masyarakat. Pernyataan itu disampaikan Mahayastra saat menghadiri undangan upacara melaspas Bale Banjar Sindu, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Minggu (31/5).
Dalam kesempatan tersebut, Mahayastra menegaskan bahwa persoalan yang disorot dalam spanduk itu pada dasarnya merupakan kewenangan pemerintah provinsi. Namun demikian, Pemerintah Kabupaten Gianyar tetap berupaya mengambil peran dan tanggung jawab demi kepentingan masyarakat.
“Hal itu sebenarnya tidak perlu ditanggapi. Itu kewenangan provinsi, tetapi kita ambil alih di daerah demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Mahayastra juga mengajak masyarakat untuk melihat pembangunan secara menyeluruh dan tidak hanya menyoroti satu sektor tertentu. Menurutnya, berbagai pembenahan telah dilakukan pemerintah, khususnya di kawasan pusat Ubud.
Ia mencontohkan penataan infrastruktur yang kini semakin tertata, termasuk proyek penanaman kabel utilitas yang sebelumnya semrawut dan menggantung di atas jalan.
“Kalau kita bandingkan, jangan satu sektor saja. Coba lihat penataan pusat Ubud yang sudah dilakukan. Kabel-kabel tidak lagi di atas, sekarang sudah ditanam di bawah tanah,” katanya.
Selain itu, Mahayastra menyoroti sektor kesehatan yang menurutnya menjadi salah satu keberhasilan Kabupaten Gianyar. Ia menyebut masyarakat Gianyar saat ini telah menikmati layanan kesehatan gratis melalui program kesehatan mandiri yang dijalankan pemerintah daerah.
“Di sektor kesehatan misalnya, Gianyar tidak ada masalah karena kita sudah mandiri dengan kesehatan gratis,” tegasnya.
Meski demikian, Mahayastra mengaku tidak mempermasalahkan adanya kritik yang disampaikan melalui spanduk. Baginya, kritik merupakan bagian dari dinamika demokrasi yang harus diterima oleh setiap pemimpin.
“Dengan spanduk seperti itu jangan risau. Menjadi pemimpin memang harus siap diberi masukan, siap dikritik, dan siap dibully,” ucapnya.
Ia menambahkan, apabila setiap kritik ditanggapi secara berlebihan, maka fokus pemerintah dalam menjalankan program pembangunan justru akan terganggu.
“Kalau hal seperti itu kita tanggapi terus, nggak kerja-kerja kita nanti,” pungkas Mahayastra.*