SINGARAJA, BALI EXPRESS - Bunga krisan tidak lagi sekadar penghias lobi hotel atau rangkaian bunga di toko florist. Dalam beberapa tahun terakhir, komoditas hortikultura ini mengalami perluasan pasar yang signifikan di Bali. Selain menopang sektor pariwisata, krisan kini semakin banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan ritual dan upacara adat, menciptakan peluang ekonomi baru bagi para petani bunga.
Perubahan pola konsumsi tersebut dirasakan langsung oleh para petani krisan di Desa Pancasari, Buleleng. Salah satunya adalah I Gusti Made Arjana, petani bunga yang telah menggeluti budidaya krisan sejak tahun 2004. Menurutnya, permintaan bunga terus mengalami peningkatan seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat terhadap bunga segar untuk berbagai kegiatan keagamaan dan budaya.
“Sekarang kebutuhan ritual juga meningkat,” ujar Arjana, ujarnya belum lama ini.
Di Bali, bunga memiliki posisi penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hampir setiap kegiatan keagamaan membutuhkan bunga sebagai sarana persembahyangan. Krisan menjadi salah satu pilihan favorit karena memiliki warna yang beragam, daya tahan yang cukup lama, serta mudah dipadukan dengan jenis bunga lainnya.
Kebutuhan tersebut semakin terasa saat pelaksanaan odalan di pura-pura, perayaan purnama dan tilem, upacara adat, hingga berbagai festival budaya yang rutin digelar sepanjang tahun. Momentum tersebut menciptakan permintaan yang relatif stabil, bahkan cenderung meningkat pada periode tertentu.
Kondisi ini memberikan keuntungan tersendiri bagi petani krisan. Jika sebelumnya pasar bunga sangat bergantung pada sektor pariwisata, kini mereka memiliki sumber permintaan yang lebih beragam. Diversifikasi pasar tersebut membuat usaha budidaya bunga menjadi lebih tahan terhadap gejolak ekonomi maupun fluktuasi kunjungan wisatawan.
Pelaku usaha bunga juga melihat adanya perubahan perilaku konsumen. Masyarakat kini semakin memperhatikan estetika dalam pelaksanaan upacara maupun dekorasi berbagai kegiatan adat. Penggunaan bunga segar tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap ritual, tetapi juga menjadi bagian dari identitas visual yang memperkuat nilai budaya Bali.
“Sekarang yang viral adalah gebogan buah saat dibuat oleh ibu-ibu itu. Bunganya pakai krisan. Jadi gebogannya terlihat cantik,” ungkapnya.
Pertumbuhan pasar ini turut menciptakan efek berantai bagi perekonomian lokal. Selain membuka peluang bagi petani, meningkatnya permintaan bunga juga menggerakkan sektor lain seperti pedagang bunga, penyedia dekorasi, jasa transportasi, hingga pelaku usaha kecil yang memanfaatkan bunga sebagai bahan baku produk kreatif.
Bagi Arjana, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa krisan telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar komoditas pertanian. Bunga yang dahulu identik dengan kebutuhan industri pariwisata kini menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali.
Dengan terus tumbuhnya kebutuhan ritual dan budaya, prospek usaha krisan dinilai masih sangat menjanjikan. Selama tradisi dan kegiatan keagamaan tetap terjaga, permintaan bunga diperkirakan akan terus meningkat. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi petani lokal untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkuat kontribusi sektor florikultura terhadap perekonomian Bali. ***
Editor : Dian Suryantini