BALIEXPRESS.ID– Upaya menjaga keberlangsungan kesenian langka di Bali dinilai tidak cukup hanya dengan menampilkannya dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Diperlukan langkah berkelanjutan berupa inventarisasi, dokumentasi, hingga strategi pelestarian yang mampu memastikan kesenian tersebut tetap hidup di tengah masyarakat. PKB sendiri selama ini menjadi ruang pelestarian dan pengembangan seni budaya Bali yang melibatkan berbagai potensi kesenian dari desa-desa di seluruh Bali.
Hal itu mengemuka dalam Diskusi Budaya yang diselenggarakan Kawiya bersama PWI Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya, Denpasar, Minggu (22/6). Salah satu narasumber, Prof. Ida Ayu Trisnawati, menyoroti banyaknya kesenian yang direkonstruksi untuk kebutuhan pementasan, namun kembali tidak berkembang setelah acara berakhir.
"Bukan sekadar panggung pertunjukan. Banyak yang direkonstruksi, setelah event PKB kembali ke desa dan tidur lagi. Itu yang tidak diharapkan. Harus ada strategi lain, harus dipantau," kata Prof. Ida Ayu Trisnawati.
Menurut dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali itu, perkembangan teknologi dan media sosial membuat kemunculan karya-karya seni baru berlangsung sangat cepat. Di sisi lain, sejumlah kesenian tradisional mulai kehilangan fungsi aslinya seiring perubahan zaman. Kondisi tersebut diperparah oleh persoalan pendanaan yang kerap menjadi hambatan utama dalam upaya pelestarian.
"Keterbatasan pendanaan. Dananya tidak otomatis, padahal itu sama dengan darah (bagi kesenian)," terang Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali tersebut.
Ia menilai keberadaan basis data yang kuat menjadi kebutuhan mendesak untuk mendukung pelestarian seni langka. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menyusun peta persebaran kesenian di Bali, disertai pengembangan dokumentasi digital seperti film dan museum virtual.
"Perlu ada film dokumenter PKB agar Pesta Kesenian Bali tidak kelihatan monoton, perlu penampilan lain. Museum juga bisa menampilkan koleksi secara virtual," bebernya.
Prof. Trisnawati menambahkan, desa adat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian langka, dengan dukungan pemerintah kabupaten/kota maupun Pemerintah Provinsi Bali. Rekonstruksi, menurutnya, perlu dilakukan terhadap kesenian yang sudah tua dan berisiko hilang. Jika tidak memungkinkan untuk dibangun kembali, setidaknya harus didokumentasikan secara baik.
"Menggali kembali kesenian klasik yang tersebar di desa-desa dan memberikan ruang ekspresi untuk menampilkan hasil kreativitas," bebernya.
Sementara itu, praktisi seni langka Komang Maryana atau yang akrab disapa Mang Bo menilai ancaman terbesar terhadap kesenian langka justru datang dari minimnya perhatian generasi penerus yang mewarisinya.
"Posisi kita bagaimana kesenian langka itu bisa bertahan kalau tidak dipedulikan pewarisnya. Tanggung jawab pewaris-lah yang menjaga, kalau memang sudah punya pemikiran (kepedulian) seperti itu," imbuhnya.
Mang Bo sepakat bahwa pemanfaatan teknologi digital melalui pengembangan laman atau web dokumentasi sangat penting. Namun, menurutnya, keberlangsungan kesenian langka tetap bergantung pada peran desa adat sebagai penjaga tradisi.
Ia mencontohkan tari Wali yang telah hidup sejak sekitar abad ke-11 sebagai salah satu bentuk kesenian langka yang masih bertahan karena memiliki fungsi ritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali.
"Wali adalah salah satu contoh bagaimana kesenian langka itu hidup. Dalam hal ini, pemimpin desa harus tahu fungsi ritual kesenian tersebut. Di beberapa tempat ada yang abai karena menganggapnya kurang penting di era kekinian, padahal itu bagian dari pemujaan dan persembahan. Kalau persembahannya berupa tari, ya itu harus dijalankan. Jika tari sakral tidak ada regenerasi, makanya menjadi langka," beber praktisi yang pernah rekonstruksi gamela gambang.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kesenian langka hanya dapat bertahan apabila terus difungsikan dalam kehidupan masyarakat. Pembatasan aktivitas kesenian, seperti yang pernah terjadi saat pandemi Covid-19, disebut berpotensi memutus mata rantai regenerasi dan pelestariannya.
"Kalau tidak ada narasi yang dibangun dari pemerintah sampai ke desa adat, saya yakin ke depan kita malah akan belajar sama orang asing karena mereka lebih ketat dalam melakukan inventarisasi data. Apakah akan terus seperti itu? Narasi dan perspektif yang sama harus dibangun bersama-sama agar generasi baru bisa bangkit untuk melestarikan yang langka," jelasnya.
Editor : Wiwin Meliana