Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Saat Warisan Leluhur Menjadi Catwalk, Gianyar Memikat dalam Parade Busana Adat PKB 2026

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 23 Juni 2026 | 12:07 WIB
BUSANA : Parade Busana Adat Bali Duta Gianyar di PKB 2026.
BUSANA : Parade Busana Adat Bali Duta Gianyar di PKB 2026.

 

BALIEXPRESS.ID– Gemerlap panggung Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Minggu (21/6), menjadi saksi pesona budaya Kabupaten Gianyar dalam Parade Busana Adat Bali pada rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026. Tampil sebagai penampil pertama, Duta Kabupaten Gianyar sukses memukau penonton dengan suguhan busana adat yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga sarat filosofi dan nilai budaya.

 

Di bawah arahan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gianyar, Dr. Ida Ayu Surya Adnyani Mahayastra, penampilan Gianyar menghadirkan sebuah perjalanan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Setiap busana yang diperagakan menjadi cerminan identitas, tradisi, dan warisan leluhur yang hingga kini tetap terjaga di Bumi Seni.

 

Parade dibuka dengan kemunculan Busana Pecalang, simbol penjaga keamanan adat Bali yang tampil berwibawa. Balutan busana berwarna gelap berpadu saput poleng hitam-putih menggambarkan filosofi Rwa Bhineda, keseimbangan dua kekuatan yang saling melengkapi. Keris yang terselip di pinggang dan udeng yang dikenakan semakin menegaskan peran pecalang sebagai penjaga ketertiban sekaligus kesucian wilayah adat.

 

Nuansa panggung kemudian berubah menjadi lebih sakral saat ditampilkan Tradisi Nuuh dari Banjar Sebatu, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang. Tradisi yang juga dikenal dengan sebutan Mejarag Jaje Lempeng itu merupakan ungkapan syukur masyarakat Subak atas hasil panen sekaligus permohonan keselamatan dan perlindungan bagi keberlangsungan sektor pertanian.

 

Tokoh Tukang Adur yang menjadi sentral dalam tradisi tersebut tampil sederhana mengenakan kamen hitam, kampuh poleng, umpal, sumpang pucuk, dan ikat kepala janur. Kesederhanaan busana yang ditampilkan justru memperlihatkan eratnya hubungan masyarakat Gianyar dengan alam serta kuatnya nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Kekayaan budaya Gianyar kembali ditampilkan melalui Rakean Baris Bebaturan dan Rejang Mesatya, dua warisan budaya yang kerap hadir dalam prosesi pelebon di wilayah Gianyar dan Tampaksiring. Rakean Baris Bebaturan menghadirkan sosok prajurit tangguh melalui busana serba putih dan tombak sebagai simbol kesucian serta pengabdian kepada leluhur. Sementara Rejang Mesatya tampil anggun dalam balutan kebaya putih dengan hiasan janur sederhana yang melambangkan kesetiaan, ketulusan, dan pengabdian.

 

Sebagai penutup, kemegahan Payas Agung Gianyar berhasil mencuri perhatian penonton. Busana pengantin khas Gianyar tersebut menampilkan kekayaan estetika yang menjadi identitas daerah. Pengantin perempuan tampil mempesona dengan pusung kletek mandel yang dihiasi bunga merak kuning, sandat megubah, petitis, dan semi mopong. Sedangkan pengantin pria mengenakan udeng emas, kampuh songket, keris, umpal, serta beskap beludru hitam berhias benang gim yang memancarkan kesan gagah dan berwibawa.

 

Sekretaris I TP PKK Kabupaten Gianyar, Ida Ayu Diana Dewi Agung Mayun, mengatakan keikutsertaan Gianyar dalam Parade Busana Adat Bali merupakan bagian dari upaya pelestarian sekaligus promosi budaya daerah kepada masyarakat luas. “Setiap busana yang ditampilkan tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mengandung filosofi, sejarah, dan identitas masyarakat Gianyar yang patut dijaga bersama,” ujarnya.

 

Melalui penampilan yang memadukan seni, tradisi, dan nilai-nilai luhur budaya Bali, Duta Kabupaten Gianyar berhasil menghadirkan pertunjukan yang bukan sekadar parade busana. Dari ketegasan Pecalang, kesakralan Tradisi Nuuh, kewibawaan Rakean Baris Bebaturan, ketulusan Rejang Mesatya hingga kemegahan Payas Agung Gianyar, seluruhnya menjadi bukti bahwa Gianyar tetap kokoh sebagai salah satu pusat pelestarian seni dan budaya Bali. (ade)

Editor : Wiwin Meliana
#gianyar #busana adat #pkb