BALIEXPRESS. ID – Di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan global yang semakin kompleks, Dr. Putu Eka Sura Adnyana, M.Ag., M.Hum., tampil sebagai salah satu intelektual Bali yang aktif menawarkan gagasan pembangunan manusia berbasis nilai budaya. Bersama dua rekannya, Ir. Gde Wikan Pradnya Dana, S.T., M.T., dan I Made Suartana, S.H., ia berhasil mengantarkan karya ilmiah berjudul “Jñana Prawĕrti: Integrasi Pendidikan Jana Kerthi dan Ekosistem Adat Banjar dalam Membentuk Manusia Bali Unggul serta Menyongsong Haluan 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125” meraih Juara Harapan II dalam Lomba Karya Tulis Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125.
Prestasi tersebut diraih di tengah persaingan ketat yang melibatkan 1.812 peserta dari 453 tim yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, akademisi, profesional, perangkat desa hingga masyarakat umum. Namun bagi Putu Eka, penghargaan tersebut bukan sekadar capaian akademik, melainkan bentuk pengabdian intelektual untuk ikut merumuskan arah pembangunan Bali pada masa mendatang.
Menurutnya, Bali saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Selain perkembangan ekonomi dan teknologi yang pesat, generasi muda juga dihadapkan pada persoalan krisis karakter, menurunnya keterlibatan dalam kehidupan komunal, kesenjangan pendidikan, hingga ancaman lunturnya identitas budaya akibat globalisasi. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya konsep Jñana Prawĕrti.
“Bali membutuhkan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada pembangunan manusia. Pendidikan dan Banjar harus menjadi ruang bersama untuk melahirkan generasi Bali yang berkarakter, unggul, dan tetap berakar pada nilai-nilai budayanya,” ujar Putu Eka pria asli Gianyar ini, Senin (29/6).
Melalui konsep Jñana Prawĕrti, ia menawarkan transformasi pengetahuan menjadi tindakan nyata. Pendidikan tidak lagi dipandang sebatas proses transfer ilmu, melainkan sarana pembentukan karakter yang melibatkan sinergi antara sekolah, pemerintah, dan institusi adat Banjar. Baginya, Banjar memiliki posisi strategis sebagai ruang pembelajaran sosial yang mampu menanamkan nilai gotong royong, solidaritas, kepemimpinan, dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Putu Eka bahkan menyebut Banjar sebagai ruang Marhaenisme sejati. Di tempat inilah nilai persamaan, kebersamaan, dan pengabdian sosial tidak hanya diajarkan, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Karena itu, ia meyakini Banjar harus tetap menjadi bagian penting dalam proses pembentukan generasi masa depan.
Dalam karya yang ditulisnya, konsep pembangunan manusia Bali dirumuskan melalui tiga karakter utama, yakni Sidhi yang mencerminkan kematangan spiritual, Sidha yang menggambarkan kompetensi dan profesionalitas, serta Sudha yang menekankan integritas moral. Ketiga nilai tersebut dipandang sebagai fondasi utama untuk mewujudkan manusia Bali yang unggul sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman.
Bagi Putu Eka Sura Adnyana, masa depan Bali tidak cukup dibangun dengan jalan, gedung, atau infrastruktur semata. Masa depan Bali harus dimulai dari pembangunan manusianya. Sebab, manusia yang berkarakter, berpengetahuan, dan berbudaya merupakan fondasi utama peradaban Bali yang akan diwariskan kepada generasi seratus tahun mendatang. Melalui gagasan Jñana Prawĕrti, ia berharap pendidikan dan Banjar dapat berjalan beriringan sebagai kekuatan utama dalam menjaga taksu Bali sekaligus menyiapkan generasi unggul di era baru.*