BALIEXPRESS.ID - Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Art Center Provinsi Bali, bergemuruh saat Sanggar Seni Tugek Carangsari, dari Banjar Pemijian, Desa Carangsari, Kecamatan Petang, Duta Kabupaten Badung, menampilkan garapan kolosal bertajuk "Sanggama Rohani" pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Jumat (3/7).
Mengusung kekuatan tradisi dan nilai spiritual, pertunjukan ini sukses memikat ribuan penonton yang memadati arena pertunjukan.
Penampilan Duta Gumi Keris ini pun menampilkan sebuah tradisi siat tipat yang hingga kini dijaga kelestariannya.
Mengangkat kisah perjalanan Patih Kebo Iwa, garapan tersebut mengisahkan saat Raja Bumi Banten mengutus Kebo Iwa untuk merestorasi Pura Sada di Desa Kapal.
Dalam perjalanannya bersama empat pengabih, Kebo Iwa mendapati masyarakat Desa Kapal tengah dilanda wabah penyakit.
Di tengah situasi tersebut, Kebo Iwa melakukan meditasi di Pura Sada hingga memperoleh pawisik atau petunjuk spiritual agar masyarakat melaksanakan ritual penyucian roh.
Baca Juga: Perbaiki 30 SD, Disdikpora Badung Optimis Rampung Desember 2026
Ritual tersebut kemudian diwujudkan melalui Tradisi Siat Tipat Bantal yang hingga kini masih dilaksanakan setiap Sasih Purnama Kapat sebagai simbol penyucian sekaligus keharmonisan kehidupan.
Pertunjukan kolosal ini memadukan tari, dramatari, musik tradisional, serta tata artistik yang megah, sehingga mampu menghadirkan suasana sakral sekaligus spektakuler di atas panggung.
Tak hanya menyuguhkan hiburan, garapan ini juga menjadi media edukasi tentang kekayaan warisan budaya Kabupaten Badung.
Baca Juga: Dari Kisah Nyata ke Buku, Klissy Myring Tuangkan Pahit Manis Cinta dalam Unfinished Love
Koreografer sekaligus penata kostum, Gusti Ngurah Gede Oka Wiratmaja mengatakan, penampilan tahun ini terasa sangat istimewa karena mengangkat salah satu tradisi yang masih lestari di Desa Adat Kapal, yakni Tradisi Siat Tipat Bantal atau yang yang juga dikenal Aci Tabuh Rah Pengangon.
Sebanyak kurang lebih 150 seniman terlibat dalam menyukseskan pertunjukan kolosal tersebut.
"Hari ini sangat spesial karena kami menampilkan sebuah tradisi tentang Siat Tipat Bantal yang ada di Desa Adat Kapal. Tradisi inilah yang kami angkat pada kesempatan kali ini bersama sekitar 150 peserta," ujarnya.
Menurutnya, pemilihan tema tersebut didasari keinginan memperkenalkan salah satu kekayaan budaya Kabupaten Badung kepada masyarakat luas melalui panggung PKB.
Ia menjelaskan, Siat Tipat Bantal memiliki makna filosofis yang sangat mendalam sebagai simbol pertemuan purusa dan pradana, atau laki-laki dan perempuan, yang melahirkan kehidupan baru.
Filosofi itulah yang ingin diterjemahkan dalam garapan seni yang ditampilkan.
"Tipat Bantal merupakan simbol pertemuan purusa dan pradana. Dari pertemuan itu lahir kehidupan baru. Filosofi tersebut kami harapkan juga mampu melahirkan karya-karya baru yang terus menjaga dan mengembangkan tradisi Bali," jelasnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga