Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sanggar Naya Art, Wajah Kreativitas Batubulan yang Mengharumkan Gianyar di Panggung PKB XLVIII

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 9 Juli 2026 | 16:55 WIB
PENTAS : Pementasan Sanggar Naya Art dalam ajang ajang Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa di PKB 2026.
PENTAS : Pementasan Sanggar Naya Art dalam ajang ajang Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa di PKB 2026.

BALIEXPRESS.ID - Di balik gemerlap panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, ada dedikasi panjang para seniman yang bekerja dalam diam. Salah satunya adalah Komunitas Seni Sanggar Naya Art dari Banjar Menguntur, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati. Tahun ini, sanggar tersebut dipercaya menjadi Duta Kabupaten Gianyar pada ajang Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa, membuktikan konsistensinya sebagai salah satu ruang kreatif yang terus menjaga denyut seni tradisi Bali.

Tampil di Panggung Terbuka Ardha Candra, Rabu (8/7), Sanggar Naya Art tidak sekadar menyajikan sebuah pertunjukan, tetapi menghadirkan perjalanan estetika yang memadukan tradisi, filosofi, dan kreativitas generasi muda. Penampilan mereka bahkan disaksikan langsung oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, serta ribuan pecinta seni yang memadati arena PKB.

Berawal dari denting Tabuh Lima Lelambatan "Guntur Madu", para penabuh membawa penonton memasuki ruang musikal khas Batubulan–Singapadu. Garapan ini mengangkat filosofi tentang kekuatan dan anugerah sebagai dua energi yang saling melengkapi dalam kehidupan. Karakter tabuh diperkuat melalui permainan gegulak kendang dan terompong yang menjadi ciri khas daerah asal sanggar.

Bagi Sanggar Naya Art, musik bukan sekadar irama, melainkan media untuk menyampaikan pesan kehidupan. "Guntur Madu" mengajak setiap orang berdamai dengan masa lalu, menghadapi masa kini dengan keberanian, serta menatap masa depan penuh harapan dan bhakti.

Baca Juga: Penguatan Dana Murah Berbuah Manis, BRI Sukses Tekan Cost of Fund dan Perkuat Profitabilitas di Bawah Supervisi Danantara

Keindahan musikal kemudian berlanjut melalui Tari Kreasi Kekebyaran "Gonggang". Garapan ini menghadirkan kisah Pangeran Kodok yang mencari cinta sekaligus menemukan jati dirinya. Berlandaskan konsep Atma Kerthi, tari tersebut menggambarkan perjalanan penyucian jiwa dari rasa rendah diri menuju kesempurnaan batin.

Koreografi yang terinspirasi dari Tari Oleg Tamulilingan dipadukan dengan karakter unik Pangeran Kodok menghadirkan eksplorasi gerak yang dinamis, ekspresif, dan sarat makna. Perpaduan tersebut menjadi bukti keberanian Sanggar Naya Art mengembangkan tradisi tanpa meninggalkan akar budayanya.

Sebagai klimaks pertunjukan, Sanggar Naya Art membawakan Fragmentari "Sri Tanjung", kisah klasik yang telah lama hidup dalam khazanah sastra Nusantara. Cerita tentang kesucian, fitnah, pengorbanan, dan penebusan dosa dikemas dalam dramatari yang menyentuh emosi penonton. Melalui kisah Raden Sidapaksa dan Sri Tanjung, sanggar menghadirkan refleksi tentang pentingnya kejujuran, kesetiaan, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Kepercayaan menjadi Duta Kabupaten Gianyar bukanlah capaian yang diraih secara instan. Di balik setiap tabuhan gamelan, setiap gerak tari, dan setiap adegan dramatari, terdapat proses latihan yang panjang, disiplin tinggi, serta semangat kebersamaan para seniman dari berbagai generasi. Sanggar Naya Art tumbuh sebagai ruang kreativitas yang terus melahirkan inovasi, sekaligus menjaga pakem seni tradisi Bali agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Usai menyaksikan penampilan tersebut, Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, menyampaikan apresiasinya atas penampilan para seniman Gianyar yang dinilai berhasil memukau penonton.

"Saya sangat bangga dengan penampilan Duta Kabupaten Gianyar. Kreativitas, kualitas garapan, dan semangat para seniman mampu memberikan suguhan yang luar biasa serta memikat perhatian masyarakat yang hadir," ujarnya.

Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Gianyar akan terus memberikan dukungan kepada para pelaku seni agar tetap produktif berkarya sekaligus menjaga kelestarian seni budaya Bali sebagai identitas daerah.

Bagi Sanggar Naya Art, panggung PKB bukan sekadar arena pertunjukan, melainkan ruang untuk menunjukkan bahwa seni tradisi Bali akan terus hidup selama ada generasi yang mau belajar, berkarya, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada masa depan. Dari Banjar Menguntur, semangat itu terus ditabuh, ditarikan, dan diceritakan kepada dunia melalui karya-karya yang lahir dari kecintaan terhadap seni dan budaya Bali.*

 

Editor : Putu Agus Adegrantika
#duta gianyar #pkb