Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kasi Pendah Kemenag Gianyar, I Nyoman Mudana, dari Pematung Kini Kepala Kantor Kemenag Bangli

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 10 Juli 2026 | 15:54 WIB
KEPALA : Kepala Seksi Pendidikan Hindu, Kemenag Gianyar, I Nyoman Mudana yang kini dilantik menjadi Kepala Kantor Kemenag Bangli.
KEPALA : Kepala Seksi Pendidikan Hindu, Kemenag Gianyar, I Nyoman Mudana yang kini dilantik menjadi Kepala Kantor Kemenag Bangli.

BALIEXPRESS.ID – Tidak banyak yang menyangka, perjalanan karier I Nyoman Mudana dimulai bukan dari balik meja birokrasi, melainkan dari tangan yang piawai memahat batu dan kayu. Sebelum dikenal sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama, pria kelahiran 31 Maret 1976 itu lebih dahulu menekuni dunia seni pahat yang menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Ubud.

Lahir dan besar di Banjar Mawang Kelod, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar, Mudana tumbuh di lingkungan yang kental dengan tradisi seni dan budaya Bali. Dunia seni menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, di balik kecintaannya pada seni pahat, tersimpan keinginan lain yang tak kalah besar, yakni mengabdikan diri melalui pendidikan dan pelayanan keagamaan.

Keinginan tersebut membawanya menempuh pendidikan hingga meraih gelar Magister Pendidikan Hindu (M.Pd.H). Bekal akademik itu kemudian menjadi pintu masuk untuk meniti karier sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Agama.

Tonggak penting perjalanan hidupnya dimulai pada 8 Agustus 2008. Saat itu, I Nyoman Mudana resmi diangkat sebagai Penyuluh Agama Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli. Jabatan tersebut menjadi titik awal pengabdiannya dalam membina umat Hindu melalui penyuluhan keagamaan di tengah masyarakat.

Baca Juga: Wamen ATR/Waka BPN: Kepala Daerah Berperan Strategis dalam Penyelesaian Persoalan Pertanahan dan Tata Ruang

Selama menjadi penyuluh, Mudana dikenal aktif turun langsung ke desa-desa. Ia tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga membangun komunikasi dengan tokoh adat, pengurus pasraman, hingga generasi muda. Baginya, penyuluh agama adalah jembatan yang menghubungkan nilai-nilai agama dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Pengalaman panjang di lapangan membentuk cara pandangnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Ia meyakini bahwa pembinaan umat tidak cukup dilakukan melalui ceramah, tetapi juga harus diwujudkan melalui keteladanan, dialog, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Dedikasi tersebut mengantarkannya pada amanah yang lebih besar. Tepat pada 8 Agustus 2022, Mudana dipercaya menjabat sebagai Kepala Seksi Pendidikan Hindu (Pendah) pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Gianyar.

Di posisi itu, ruang pengabdiannya semakin luas. Ia tidak lagi hanya berfokus pada pembinaan umat, tetapi juga bertanggung jawab mengawal berbagai program pendidikan Hindu, mulai dari pembinaan pasraman, penguatan pendidikan keagamaan, hingga peningkatan kompetensi tenaga pendidik, dan mendampingi 13 sekolah widyalaya yang ada di Gianyar.

Menurut Mudana, pendidikan agama memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Karena itu, pendidikan Hindu harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.

"Agama bukan hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi harus menjadi pedoman dalam bersikap dan bertindak. Pendidikan menjadi salah satu jalan terbaik untuk menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda," ujarnya.

Perjalanan kariernya kembali memasuki babak baru ketika dipercaya memimpin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli pada Jumat (10/7). Amanah tersebut menjadi puncak dari proses panjang yang dijalani selama bertahun-tahun, mulai dari seorang penyuluh di lapangan hingga menduduki jabatan pimpinan.

Meski kini mengemban tanggung jawab yang lebih besar, Mudana mengaku tidak pernah melupakan pengalaman saat menjadi penyuluh agama. Baginya, masa-masa mendampingi masyarakat secara langsung menjadi sekolah kehidupan yang membentuk kepemimpinannya hingga saat ini.

Latar belakang sebagai seorang pematung juga memberi warna tersendiri dalam cara ia memandang tugas. Seperti halnya memahat sebuah karya seni yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan proses panjang, membangun sumber daya manusia juga memerlukan ketekunan serta komitmen yang tidak bisa dilakukan secara instan.

Filosofi itu pula yang terus dipegangnya dalam memimpin. Ia percaya setiap orang memiliki potensi yang dapat berkembang apabila diberikan ruang, pembinaan, dan kepercayaan.

Perjalanan I Nyoman Mudana menjadi bukti bahwa pengabdian tidak mengenal batas profesi. Dari bengkel seni pahat, ruang-ruang penyuluhan agama, hingga memimpin Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli, benang merah yang selalu ia jaga adalah semangat melayani. Bagi Mudana, jabatan hanyalah amanah, sedangkan pengabdian kepada masyarakat dan umat merupakan karya yang sesungguhnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika
#kemenag bangli #kasi pendah #penyuluh agama #Kemenag Gianyar