BALIEXPRESS.ID- Kondisi memprihatinkan terjadi di SD Negeri 6 Bhuana Giri, Banjar Dinas Komala, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem.
Jumlah tenaga pendidik di sekolah tersebut kini justru lebih banyak dibandingkan peserta didiknya.
Saat ini, hanya terdapat empat murid di sekolah tersebut, sementara guru termasuk kepala sekolah mencapai tujuh orang.
Baca Juga: Ayah di Buleleng Diduga Aniaya Anak Kandung, Hasil Tes Urine Positif Narkoba
Minimnya jumlah peserta didik terjadi setelah SDN 6 Bhuana Giri kembali tidak mendapatkan siswa baru pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027.
Kepala SDN 6 Bhuana Giri, I Made Suartika, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung selama empat tahun berturut-turut.
Tahun ini kembali tidak ada satu pun siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut. "Ya, tahun ini kami kembali nggak dapat siswa baru," ujarnya, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: SDN 5 Pohsanten Hanya Dapat Dua Murid Baru, Masuk Evaluasi Disdikpora Jembrana
Empat siswa yang masih bertahan terdiri atas dua siswa kelas III dan dua siswa kelas VI. Sementara kelas I, II, IV, dan V tidak memiliki peserta didik.
Menurut Suartika, dua siswa kelas III merupakan anak kembar yang tetap bersekolah di sana karena sebelumnya kakaknya juga merupakan siswa di SD tersebut.
Baca Juga: SDN 5 Pohsanten Hanya Dapat Dua Murid Baru, Masuk Evaluasi Disdikpora Jembrana
Dengan jumlah siswa yang terus menyusut, sekolah kini memiliki tujuh tenaga pendidik, terdiri dari empat guru kelas, seorang guru pendidikan jasmani, seorang guru agama, serta kepala sekolah.
Kondisi itu membuat pihak sekolah harus mengatur pembagian jam mengajar agar seluruh guru tetap memiliki beban kerja.
Suartika mengungkapkan pihak sekolah sebenarnya telah berupaya mencari calon peserta didik dengan mendatangi masyarakat sebelum penerimaan siswa baru dibuka.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil karena jumlah penduduk usia sekolah di wilayah setempat sangat terbatas.
Di Banjar Dinas Komala hanya terdapat sekitar 50 kepala keluarga. Sebagian besar warga usia produktif merantau ke Denpasar, sedangkan yang menetap didominasi kelompok lanjut usia.
Selain itu, posisi sekolah yang berada di dekat beberapa SD lain membuat banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang dianggap lebih diminati. (*)
Editor : I Made Mertawan