BALIEXPRESS.ID – Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA UNAIR) Bali didorong untuk memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung percepatan pembangunan di Pulau Dewata.
Ajakan tersebut disampaikan Ketua Umum IKA UNAIR Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri agenda organisasi di Kabupaten Badung, Kamis (16/7).
Khofifah menilai jejaring alumni yang berasal dari berbagai latar belakang profesi memiliki potensi besar untuk berkontribusi melalui gagasan maupun aksi nyata.
Karena itu, ia mengajak alumni membangun sinergi bersama pemerintah daerah dan sektor swasta dalam mengembangkan berbagai potensi Bali.
Baca Juga: Mau Healing, Ngonten, hingga Konseran, Indosat 5G Hadir di Bali dan Nusa Tenggara
“Terkait sumbangsih yang diharapkan, saya sampaikan bagaimana sinergi antara alumni kemudian Pemprov Bali, juga sektor privat lainnya terkait potensi yang bisa didorong,” katanya.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian ialah pengembangan akses Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk sebagai jalur penghubung utama Jawa Timur dan Bali.
Menurut Khofifah, kawasan tersebut masih kerap mengalami kepadatan kendaraan, terutama pada periode libur panjang.
Ia menyebut Kementerian Perhubungan telah memberikan perhatian terhadap pengembangan akses di kawasan tersebut.
Oleh sebab itu, proyek tersebut dinilai perlu didorong menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) agar penanganannya lebih optimal, termasuk penyediaan kawasan penyangga di kedua wilayah.
“Berangkat jalur mana pulang jalur mana kemarin dibahas, saya minta itu PSN agar lebih fokus, ada beberapa area yang harus dibebaskan, jadi kalau misalnya di daerah Gilimanuk ada area penyangga, di Jawa Timur sama buffer zonenya gimana,” terangnya.
Apabila pengembangan itu berjalan dengan baik dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, ia berharap persoalan kemacetan yang selama ini terjadi saat Natal dan Tahun Baru, Idulfitri, maupun menjelang Hari Raya Nyepi dapat teratasi.
Selain infrastruktur, Khofifah juga melihat peluang kerja sama di sektor peternakan, khususnya pengembangan sapi wagyu.
Baca Juga: Tiga Pasar Tradisi di Karangasem Masuk Revitalisasi, Pemkab Gelontorkan Rp853 Juta
Ia menilai keberhasilan Bali dalam menghasilkan sapi lokal berkualitas dapat dipadukan dengan pengalaman budidaya yang dimiliki Jawa Timur.
Menurutnya, kebutuhan daging wagyu di Bali sangat besar karena ditopang industri pariwisata.
Padahal hingga kini pasokan masih bergantung pada impor, sehingga pengembangan budidaya lokal berpotensi membuka sumber ekonomi baru.
“Saya rasa sangat banyak kebutuhan daging wagyu di Bali, selama ini 100 persen impor padahal daging wagyu itu di atas Rp1 juta per kg sehingga ini sumber ekonomi baru,” ucap Khofifah.
Baca Juga: Saksi Fakta Ungkap Tak Ada Perantara Jual Beli Lahan di Jombang
Ketua IKA UNAIR Bali Nyoman Dhukajaya memastikan pihaknya siap mengambil bagian dalam pembangunan daerah.
Ia mengatakan organisasi alumni harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi Bali.
“Harus hadir sebagai kekuatan intelektual yang mampu memberikan solusi nyata pada berbagai persoalan yang dihadapi Bali saat ini seperti ketimpangan pembangunan, persoalan sampah, kemacetan, pemerataan akses dan mutu pendidikan, kualitas layanan kesehatan, ketahanan lingkungan, hingga penguatan ekonomi,” jelas Dhukajaya, usai dilantik sebagai ketua untuk periode 2025-2030.
Sebagai tindak lanjut, IKA UNAIR Bali akan berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung ketahanan pangan dan penguatan ekonomi melalui kerja sama dengan Balai Inseminasi Buatan untuk mengembangkan budidaya sapi yang lebih berkualitas.
Dhukajaya menegaskan, para alumni memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi sesuai bidang keahlian masing-masing, baik melalui pemikiran, inovasi, jejaring, maupun aksi di lapangan.
“Sebagai alumni yang memiliki beragam keahlian dan profesi, kami memiliki tanggung jawab moral untuk menyumbangkan gagasan, inovasi, jejaring, dan aksi nyata,” tutupnya.(***)
Editor : Rika Riyanti