Anak dan Layar Digital: Berapa Lama Screen Time yang Dianjurkan?

Ninuk Febriani • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 12:14 WIB
Oleh: dr. Ida Ayu Agung Wijayanti, Sp.A.
Oleh: dr. Ida Ayu Agung Wijayanti, Sp.A.
 

 

BALIEXPRESS.ID-Perangkat digital seperti telepon pintar, tablet, televisi, dan komputer telah menjadi bagian dari kehidupan anak. Perangkat elektronik tersebut dapat bermanfaat sebagai sarana komunikasi, hiburan, dan pembelajaran. Namun, penggunaannya perlu dibatasi karena screen time yang berlebihan dapat mengurangi waktu anak untuk bergerak, bermain, tidur, belajar, dan berinteraksi secara langsung.

Screen time adalah waktu yang digunakan anak untuk melihat atau menggunakan perangkat berlayar. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan rekomendasi penggunaan layar berdasarkan usia anak.

Rekomendasi Berdasarkan Usia

Durasi tersebut sebaiknya tidak digunakan sekaligus, tetapi dibagi menjadi beberapa sesi. Orang tua juga perlu membantu anak memahami isi tayangan, terutama pada usia dini.

Perhatikan Isi Tayangannya

Pengaturan screen time tidak hanya berkaitan dengan lamanya anak berada di depan layar. Jenis tayangan dan aplikasi yang digunakan juga perlu diperhatikan.

Pilihlah konten yang sesuai dengan usia, mudah dipahami, dan memberikan manfaat. Hindari tayangan yang mengandung kekerasan, pornografi, perjudian, bahasa kasar, serta perilaku berbahaya yang mudah ditiru.

Orang tua sebaiknya mendampingi anak saat menonton, mematikan fitur pemutaran video otomatis, dan memastikan anak tidak berkomunikasi dengan orang yang tidak dikenal melalui internet.

Dampak Penggunaan Layar Berlebihan

Penggunaan layar yang berlebihan dapat menyebabkan anak kurang bergerak dan meningkatkan risiko kelebihan berat badan. Paparan layar pada malam hari juga dapat mengganggu tidur sehingga anak menjadi mudah lelah, sulit berkonsentrasi, atau lebih mudah marah.

Pada anak usia dini, terlalu banyak menggunakan ponsel atau perangkat elektronik dapat mengurangi kesempatan untuk berbicara, bermain secara kreatif, dan berinteraksi dengan orang lain. Masalah terutama muncul ketika penggunaan layar menggantikan aktivitas penting yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.

Orang tua perlu waspada apabila anak terus-menerus meminta ponsel, marah berlebihan ketika layar dimatikan, kehilangan minat bermain, atau mengabaikan waktu makan dan tidur.

Terapkan Aturan Bebas Layar

Ponsel, tablet, atau televisi sebaiknya tidak digunakan saat makan. Kebiasaan makan sambil menonton dapat membuat anak kurang mengenali rasa lapar dan kenyang serta tidak memperhatikan makanan yang dikonsumsi.

Penggunaan layar juga perlu dihentikan setidaknya satu jam sebelum tidur. Televisi, tablet, dan telepon pintar sebaiknya tidak diletakkan di kamar tidur anak.

Buatlah waktu dan tempat bebas layar, misalnya saat makan bersama, belajar, beribadah, berkumpul dengan keluarga, dan menjelang tidur. Sediakan pula kegiatan pengganti, seperti membaca buku, menggambar, berolahraga, bermain di luar rumah, atau membantu pekerjaan rumah sederhana.

Orang tua perlu menjadi teladan. Anak akan lebih mudah mengikuti aturan apabila orang tua juga tidak terus-menerus menggunakan telepon saat makan atau ketika sedang berbicara dengan anak.

Ponsel dan perangkat elektronik bukanlah musuh bagi anak. Teknologi tetap dapat memberikan manfaat apabila digunakan sesuai usia, dengan durasi terbatas, konten yang tepat, serta pendampingan orang tua. Hal terpenting adalah memastikan penggunaan layar tidak menggantikan kebutuhan anak untuk tidur, bergerak, bermain, belajar, dan berinteraksi secara langsung.

Sumber: American Academy of Pediatrics. Media and Young Minds. Pediatrics. 2016;138(5):e20162591

Editor : Wiwin Meliana
anak tablet digital