BALIEXPRESS.ID - Komitmen SMA Negeri 2 Semarapura dalam menjaga kelestarian seni lukis Wayang Kamasan membuahkan prestasi membanggakan.
Sekolah yang juga disebut SMADARA ini dipastikan menerima Anugerah Bali Swacitta Nugraha 2026 setelah inovasi yang dikembangkan berhasil menjadi yang terbaik pada ajang lomba inovasi yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali.
Kepastian itu diperoleh berdasarkan surat penetapan pemenang yang diterbitkan BRIDA Provinsi Bali tertanggal 24 Juli 2026.
Baca Juga: Astra Motor dan FIFASTRA Gelar Suksma Customer Day Untuk Masyarakat Bali
Melalui inovasi bertajuk RESIK (Revitalisasi Seni Kamasan) Integrasi Seni Lukis Wayang Kamasan dalam Pembelajaran sebagai Upaya Pelestarian Kearifan Lokal bagi Generasi Muda, SMADARA meraih Juara I pada kategori Inovasi Digital.
Kepala SMA Negeri 2 Semarapura I Wayan Janiarta menjelaskan, keberhasilan tersebut diraih setelah melalui serangkaian tahapan penilaian yang cukup ketat.
Mulai dari seleksi proposal, presentasi di hadapan dewan juri, hingga visitasi langsung ke sekolah. "Persiapan sudah kami lakukan sejak Februari 2026. Seluruh tahapan kami lalui dengan maksimal hingga akhirnya memperoleh hasil yang membanggakan," ujarnya.
Baca Juga: Pengurus KONI Karangasem Dilantik, Pandu Ingatkan Semangat Juang Pendahulu Karangasem
Janiarta mengatakan, penghargaan tersebut merupakan hasil kerja sama delapan guru yang tergabung dalam tim inovasi sekolah. Penghargaan rencananya akan diserahkan pada peringatan Hari Ulang Tahun Provinsi Bali, 14 Agustus 2026.
Menurutnya, lahirnya inovasi RESIK berangkat dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya minat generasi muda mempelajari seni lukis klasik Wayang Kamasan yang menjadi salah satu warisan budaya Bali.
Melalui program tersebut, seni lukis Wayang Kamasan tidak hanya dikenalkan dalam proses pembelajaran, tetapi juga dikembangkan dengan pendekatan yang lebih kreatif agar dekat dengan kehidupan pelajar.
Salah satu bentuk nyatanya dengan menghadirkan karya Wayang Kamasan pada berbagai media selain kanvas, seperti tumbler, kipas, dan produk kreatif lainnya. "Harapan kami, siswa tidak hanya mengenal Wayang Kamasan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu mengembangkan nilai ekonominya tanpa menghilangkan pakem yang ada," kata Janiarta. (*)
Editor : I Gede Paramasutha