BALIEXPRESS.ID – Proses hukum kasus tewasnya seorang pria berinisial KD, 38, warga Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, yang menjadi korban aksi main hakim sendiri di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, terus bergulir.
Pada Senin (27/7/2026), tim medis melakukan pembongkaran makam untuk melaksanakan otopsi sebagai bagian dari penyidikan guna mengungkap penyebab pasti kematian korban.
Perbekel Desa Sidetapa, I Made Sutama, mengatakan pemerintah desa terus mengikuti perkembangan penanganan kasus tersebut dengan berkoordinasi secara intensif bersama aparat kepolisian.
Baca Juga: Lacak Lewat GPS, Polisi Bangli Bongkar Aksi Pemuda Buleleng Gelapkan N-Max Rental
Menurutnya, seluruh proses hukum telah berjalan sesuai prosedur yang berlaku dan saat ini penyidik masih mengumpulkan alat bukti untuk mengungkap secara terang peristiwa yang menimpa warganya.
"Kuburannya dibongkar kembali sebagai bagian dari proses penyelidikan. Kami sudah mendapat informasi bahwa seluruh tahapan berjalan sebagaimana mestinya," ujar Sutama.
Ia menjelaskan, Pemerintah Desa Sidetapa juga mengutus Sekretaris Desa bersama Klian Banjar Delod Pura untuk mendampingi keluarga korban selama proses otopsi berlangsung di Tabanan.
Kehadiran perangkat desa tersebut merupakan bentuk pendampingan sekaligus memastikan keluarga memperoleh informasi yang jelas mengenai perkembangan penanganan perkara.
Sutama mengaku selama ini rutin berkomunikasi dengan pihak kepolisian terkait perkembangan penyidikan.
Baca Juga: Catat! Ini Keutamaan Manusia dalam Sarasamuscaya, Hanya Manusia yang Mampu Menolong Dirinya Sendiri
Berdasarkan informasi yang diterimanya, polisi telah memeriksa sejumlah orang yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan terhadap KD.
Korban sebelumnya menjadi sasaran amuk massa setelah dituduh melakukan pencurian ayam di wilayah Kabupaten Tabanan.
Dugaan aksi main hakim sendiri tersebut kemudian berujung pada meninggalnya korban dan memicu perhatian luas dari masyarakat maupun berbagai pihak.
"Informasi yang kami terima, pemeriksaan terhadap orang-orang yang diduga melakukan pengeroyokan sudah dilaksanakan oleh pihak kepolisian," katanya.
Selain mengawal proses hukum, perhatian terhadap keluarga korban juga terus mengalir dari berbagai kalangan.
Bantuan datang dari masyarakat, tokoh politik, perusahaan, hingga para dermawan yang merasa prihatin atas peristiwa tersebut.
Menurut Sutama, seluruh bantuan yang diberikan disalurkan melalui keluarga besar korban agar dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan.
"Banyak sekali bantuan yang datang. Kami titipkan kepada keluarga korban agar pengelolaannya lebih mudah. Bantuan datang dari berbagai daerah, dari anggota dewan, perusahaan, hingga masyarakat umum yang ikut menunjukkan kepeduliannya," ungkapnya.
Salah satu bantuan yang diterima keluarga berasal dari KDM yang menyerahkan deposito senilai Rp50 juta bagi anak korban yang masih berusia kecil.
Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi tabungan pendidikan dan jaminan masa depan bagi anak yang ditinggalkan.
Di samping itu, Pemkab Buleleng juga memberikan perhatian kepada keluarga korban.
Sutama menyebutkan Bupati Buleleng melalui Kepala Dinas Sosial dan Kepala Dinas Pendidikan telah mengunjungi keluarga untuk memberikan dukungan.
Dalam kunjungan tersebut, salah seorang anak korban yang baru lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) disarankan melanjutkan pendidikan melalui program Sekolah Rakyat yang berada di Kabupaten Karangasem.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu keberlanjutan pendidikan anak korban di tengah kondisi keluarga yang sedang berduka.
Sutama menggambarkan keseharian KD sebagai pekerja serabutan yang mengandalkan berbagai jenis pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Korban kerap bekerja sebagai pemetik cengkeh ketika musim panen tiba, membersihkan rumput, maupun melakukan pekerjaan lain yang tersedia.
"Sehari-harinya beliau bekerja serabutan. Kadang memetik cengkeh, membersihkan rumput, dan pekerjaan lainnya. Sesekali juga mencari hiburan dengan datang ke arena tajen," jelasnya.
Ia juga mengakui bahwa berdasarkan informasi yang diketahuinya, korban pernah tersangkut persoalan hukum yang sempat ditangani Polres Tabanan beberapa tahun lalu.
Namun, dirinya tidak mengetahui secara pasti kapan peristiwa tersebut terjadi maupun perkara yang pernah menjerat korban.
Sementara itu, kepergian KD meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya. Korban meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak.
Anak pertama telah berkeluarga, sedangkan dua anak lainnya masih menempuh pendidikan.
Salah satunya akan memasuki jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), sementara anak bungsunya masih duduk di bangku Sekolah Dasar kelas II.
Perhatian terhadap keluarga korban juga datang dari Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni.
Sahroni mengirimkan bantuan kemanusiaan berupa kebutuhan pokok kepada keluarga korban sebagai bentuk kepedulian atas musibah yang terjadi.
Paket bantuan tersebut terdiri atas 50 kilogram beras, 30 dus mie instan, 200 liter minyak goreng, dan 25 kilogram telur.
Melalui keterangannya, Sahroni menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban sekaligus menegaskan bahwa tindakan main hakim sendiri tidak dapat dibenarkan dalam negara hukum.
"Saya turut berbelasungkawa atas apa yang terjadi kepada korban dan keluarganya. Main hakim sendiri jelas merupakan tindakan yang salah dan para pelaku harus diusut. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban keluarga yang ditinggalkan," ujarnya.
Sepupu korban, Made Parta, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan bantuan yang diberikan. Ia mengatakan seluruh keluarga merasa terbantu oleh dukungan yang terus berdatangan dari berbagai pihak.
"Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih kepada Pak Ahmad Sahroni. Bantuan ini sangat berarti bagi kami dan akan dimanfaatkan sebaik-baiknya," katanya.
Kasus dugaan persekusi yang berujung meninggalnya KD kini menjadi perhatian publik.
Masyarakat berharap proses hukum dapat berjalan secara transparan dan profesional sehingga seluruh pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Di sisi lain, berbagai bentuk solidaritas yang terus mengalir diharapkan mampu membantu keluarga korban menghadapi masa sulit sekaligus menjamin keberlangsungan pendidikan anak-anak yang ditinggalkan.
Pemerintah desa bersama pemerintah daerah juga menyatakan akan terus memberikan pendampingan kepada keluarga hingga proses hukum maupun pemenuhan kebutuhan sosial mereka dapat berjalan dengan baik. (*)
Editor : I Made Mertawan