BALIEXPRESS.ID – Keluarga almarhum KD, 38, korban pengeroyokan asal Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, berharap aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus yang menewaskan anggota keluarganya.
Meski penyidik telah menetapkan lima orang sebagai tersangka, keluarga menilai proses hukum masih harus terus dikembangkan apabila ditemukan keterlibatan pihak lain dalam peristiwa tersebut.
Harapan itu disampaikan Made Parta, sepupu korban. Ia menegaskan keluarga menyerahkan sepenuhnya proses penanganan perkara kepada kepolisian, namun meminta agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan seluruh pelaku yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.
Baca Juga: Lacak Lewat GPS, Polisi Bangli Bongkar Aksi Pemuda Buleleng Gelapkan N-Max Rental
"Kami dari keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum. Kami berharap siapa pun yang terlibat bisa segera ditangkap dan diproses sesuai aturan," ujarnya, Senin (27/7/2026).
Parta mengaku dirinya tidak memahami secara mendalam proses hukum yang sedang berjalan.
Karena itu, keluarga memilih mempercayakan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.
Namun demikian, ia mengakui keluarga masih merasa belum puas apabila hanya lima orang yang ditetapkan sebagai tersangka apabila nantinya ditemukan fakta adanya pelaku lain yang turut terlibat.
Selain mengawal proses hukum, keluarga juga menyampaikan apresiasi atas berbagai bentuk perhatian yang terus berdatangan sejak kasus tersebut menjadi perhatian publik.
Baca Juga: Catat! Ini Keutamaan Manusia dalam Sarasamuscaya, Hanya Manusia yang Mampu Menolong Dirinya Sendiri
Bantuan datang dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat, pemerintah hingga sejumlah tokoh nasional.
Menurut Parta, keluarga sangat bersyukur atas kepedulian yang diberikan kepada mereka di tengah situasi yang sedang dihadapi.
Bantuan tersebut dinilai sangat membantu meringankan beban keluarga yang kehilangan tulang punggung ekonomi.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu keluarga kami. Kami sangat bersyukur atas perhatian yang diberikan," katanya.
Perhatian keluarga juga tertuju pada masa depan anak-anak yang ditinggalkan almarhum. Korban diketahui meninggalkan tiga orang anak yang kini diasuh oleh keluarga.
Parta menjelaskan, anak sulung yang baru memasuki bangku SMA telah memperoleh jaminan pendidikan dari pemerintah melalui program Sekolah Rakyat.
Dengan adanya bantuan tersebut, biaya pendidikan anak pertama sudah dapat ditanggung.
Sementara itu, dua anak lainnya yang masih berusia lebih muda masih membutuhkan dukungan, baik untuk kebutuhan pendidikan maupun biaya hidup sehari-hari.
"Kami berharap ada perhatian juga untuk dua anak yang masih kecil karena mereka masih membutuhkan biaya hidup dan pendidikan ke depan," katanya.
Ia mengungkapkan, keluarga yang kini mengasuh anak-anak korban sebagian besar merupakan perempuan sehingga membutuhkan dukungan lebih besar dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelum meninggal dunia, KD diketahui bekerja sebagai buruh harian. Saat musim panen cengkeh, ia bekerja sebagai buruh petik cengkeh.
Di luar musim panen, korban mencari nafkah dengan bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Parta juga menceritakan bahwa beberapa hari sebelum kejadian, korban sempat menyerahkan uang sekitar Rp2,7 juta untuk membayar biaya pendidikan anaknya yang bersekolah pada jenjang SMA. Uang tersebut diperuntukkan bagi pembayaran uang gedung sekolah.
Dalam kesempatan itu, Parta turut mengungkapkan kronologi saat pertama kali mengetahui adanya penemuan jenazah yang belakangan dipastikan merupakan sepupunya.
Ia mengaku mendapat informasi dari aparat desa mengenai adanya penemuan mayat di kawasan Baturiti.
Setelah menerima informasi tersebut, ia langsung menuju lokasi sebelum jenazah kemudian dibawa ke rumah sakit.
Saat itu, Parta mengira korban meninggal secara biasa karena belum mengetahui adanya dugaan tindak kekerasan.
Berdasarkan pemahaman tersebut, ia bahkan sempat menandatangani surat perdamaian karena mengira tidak ada unsur pidana dalam kematian korban.
Namun situasi berubah setelah beredarnya video kejadian di media sosial yang memperlihatkan dugaan aksi pengeroyokan terhadap korban.
Rekaman tersebut membuat keluarga terkejut karena sebelumnya tidak memperoleh penjelasan utuh mengenai penyebab kematian KD.
"Saya baru tahu setelah melihat video yang beredar di media sosial. Saat itu saya benar-benar kaget karena sebelumnya saya mengira korban meninggal biasa," tuturnya.
Ia mengaku informasi mengenai dugaan pengeroyokan baru diketahuinya sehari setelah jenazah ditemukan.
Kondisi itulah yang membuat keluarga kemudian memilih melanjutkan proses hukum dan tidak lagi mempertahankan kesepakatan damai yang sempat dibuat sebelumnya.
Menurut Parta, pihak keluarga juga menyatakan bersedia apabila diperlukan tindakan autopsi terhadap jenazah demi kepentingan pembuktian dalam proses penyidikan. Bahkan seluruh perlengkapan maupun persiapan dari pihak keluarga telah disiapkan apabila tindakan tersebut diperlukan.
"Kami dari keluarga siap membantu proses hukum, termasuk jika memang diperlukan autopsi," ujarnya.
Di sisi lain, kondisi psikologis anak-anak korban masih menjadi perhatian keluarga.
Ia mengatakan anak sulung terlihat lebih pendiam sejak peristiwa tersebut terjadi dan beberapa kali menangis ketika mengingat ayahnya.
Sementara anak yang lebih kecil belum sepenuhnya memahami kehilangan yang dialami karena usianya masih sangat muda.
Meski demikian, keluarga terus berupaya memberikan pendampingan agar kondisi mental anak-anak tetap terjaga.
Dalam waktu dekat, keluarga juga berencana kembali melaporkan perkembangan perkara kepada kepolisian.
Mereka berharap penyidik terus mendalami kasus tersebut sehingga seluruh fakta dapat terungkap secara menyeluruh.
"Kami hanya berharap keadilan ditegakkan dan semua yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum. Itu harapan keluarga," tutup Parta. (*)
Editor : I Made Mertawan