Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mepejuit, Tradisi Memuja Bibit Padi di Pejeng Kangin

I
Penulis: I Putu Mardika❯
Tradisi Mepejuit di Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar (ist)
Tradisi Mepejuit di Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar (ist)

Advertisement

BALIEXPRESS.ID-Hamparan sawah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Desa Pejeng Kangin, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Di tengah kehidupan agraris tersebut, masyarakat masih mempertahankan sebuah tradisi yang berkaitan erat dengan keberlangsungan tanaman padi, yakni Upacara Mepejuit.

Tradisi yang digelar setahun sekali pada Tilem Sasih Kaulu ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus permohonan masyarakat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar tanaman pertanian tumbuh subur, terhindar dari hama dan penyakit, serta memberikan hasil panen yang melimpah.

Tokoh adat setempat, Gusti Ngurah Sudana, 60, mengatakan Mepejuit memiliki makna yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat yang sebagian besar menggantungkan kehidupannya dari sektor pertanian.

Advertisement

“Mepejuit itu berkaitan dengan memuja wit atau bibit. Intinya kami memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi agar tanaman yang ditanam masyarakat bisa tumbuh dengan baik, subur, selamat dari hama, dan memberikan hasil yang baik,” ujar Gusti Ngurah Sudana.

Secara etimologis, istilah Mepejuit berkaitan dengan kata “Mepuje” dan “Wit”. “Me” dimaknai sebagai awalan atau melakukan, sementara “Puja” berarti menyembah atau memuja. Sedangkan “Wit” dimaknai sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam pemahaman lain yang berkembang di masyarakat, Mepejuit juga berkaitan dengan istilah “ngupakara wit”, yakni memberikan pelayanan, penghormatan, atau persembahan kepada tumbuh-tumbuhan.

Advertisement

Karena masyarakat setempat mayoritas merupakan petani, khususnya petani padi, pelaksanaan Mepejuit kemudian lebih ditekankan pada tanaman padi. Meski demikian, makna ritualnya tidak terbatas hanya pada padi, tetapi juga berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan dan kehidupan pertanian secara keseluruhan.

“Padi menjadi perhatian utama karena sebagian besar masyarakat di sini adalah petani. Tetapi secara makna, kita juga memohon agar tanaman lainnya mendapatkan keselamatan dan tumbuh dengan baik,” jelas Sudana.

Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat Desa Adat Pakraman Tri Eka Citta. Pelaksanaannya hanya dilakukan satu kali dalam setahun, tepatnya pada Tilem Sasih Kaulu. Waktu pelaksanaan biasanya dimulai sekitar pukul 08.00 WITA hingga seluruh rangkaian selesai.

Keunikan Mepejuit dapat dilihat dari keterlibatan masyarakat dalam membawa berbagai sarana upacara. Krama istri, mulai dari anak-anak, remaja hingga perempuan dewasa, membawa atau nyuun sokasi Pejuwit. Di dalamnya terdapat berbagai sarana persembahan, seperti tumpeng, bunga dan sampian.

Sementara kaum laki-laki, khususnya anak-anak dan remaja, membawa berokan atau kober yang dibuat dari cabang daun jaka atau pohon enau. Berokan atau kober tersebut memiliki makna simbolis sebagai kemenangan.

Advertisement

Artikel Terkait

Entil Sanda, Bekal dari Lereng Batukaru yang Kini Jadi Kuliner Tradisional Tabanan

Entil Sanda, Bekal dari Lereng Batukaru yang Kini Jadi Kuliner Tradisional Tabanan

-Sepintas, entil mungkin terlihat seperti lontong pada umumnya. Bentuknya pipih memanjang, dibungkus daun, kemudian direbus hingga matang. Namun, ketika dibuka dan disantap, makanan tradisional yang satu ini memiliki cer

Menjaga Tradisi Sulam Kasab Aceh di Tengah Modernisasi Bersama Holding Ultra Mikro BRI Group

Menjaga Tradisi Sulam Kasab Aceh di Tengah Modernisasi Bersama Holding Ultra Mikro BRI Group

Menjaga Tradisi Sulam Kasab Aceh di Tengah Modernisasi Di tengah modernisasi dan semakin masifnya produk hasil produksi industri, kerajinan tradisional menghadapi tantangan untuk tetap bertahan.

Tradisi Mapeed Desa Adat Sukawati, Berjalan Beriringan Mendak Tirtha, Ada Sejak Abad ke-18

Tradisi Mapeed Desa Adat Sukawati, Berjalan Beriringan Mendak Tirtha, Ada Sejak Abad ke-18

Tradisi Mapeed hingga kini masih lestari di Desa Adat Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Tradisi turun-temurun ini menjadi bagian penting dalam rangkaian piodalan di sejumlah pura sekaligus menjadi bentuk b

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer