BALIEXPRESS.ID - Setra Agung Desa Adat Sayan, Ubud, dipenuhi suasana khidmat pada Jumat (7/8). Warga dari Banjar Sindu, Banjar Baung, Banjar Mas, dan Banjar Pande berkumpul untuk mengikuti puncak pelaksanaan Ngaben Massal, sebuah upacara suci yang menjadi wujud bhakti kepada para leluhur.
Di balik megahnya prosesi yang berlangsung hari itu, terdapat perjalanan panjang yang telah dilalui para krama desa. Rangkaian upacara tidak berlangsung dalam sehari, melainkan diawali dengan berbagai tahapan yang dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan tradisi dan tata upacara yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu tahapan penting adalah ngwangun, yakni proses awal pelaksanaan Ngaben Massal di Desa Adat Sayan. Pada prosesi ini, semangat gotong royong begitu terasa. Krama dari masing-masing banjar bahu-membahu mempersiapkan kebutuhan upacara, mulai dari banten, perlengkapan upacara, hingga penataan lokasi pelaksanaan.
Hari-hari menjelang puncak karya menjadi momentum yang memperlihatkan kekuatan solidaritas masyarakat Desa Sayan. Tidak hanya keluarga peserta ngaben, warga lainnya juga terlibat aktif sebagai bentuk ngayah dan pengabdian kepada desa adat.
Bagi umat Hindu, ngaben bukan sekadar prosesi pelepasan jasad. Upacara ini memiliki makna mendalam sebagai penyucian dan pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta ke asalnya, sekaligus membantu perjalanan atma menuju alam yang lebih luhur.
Bandesa Adat Sayan, Anak Agung Rai Sugiartha, menjelaskan bahwa Ngaben Massal merupakan bentuk nyata pelaksanaan Pitra Yadnya, yaitu pengorbanan suci yang ditujukan kepada leluhur dan orang tua yang telah meninggal dunia.
"Ini merupakan wujud bhakti krama kepada leluhur. Melalui Ngaben Massal, masyarakat dapat melaksanakan kewajiban suci kepada para pitra dengan semangat kebersamaan dan gotong royong," ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan secara massal juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga. Semangat saling membantu dan saling mendukung terlihat selama seluruh tahapan karya berlangsung.
Puncak prosesi pada 7 Agustus ditandai dengan pelaksanaan pengutangan, sebuah tahapan penting dalam rangkaian ngaben yang dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan. Seluruh keluarga peserta mengikuti prosesi dengan rasa haru dan ketulusan.
Di antara keramaian upacara, tampak sejumlah keluarga larut dalam suasana emosional. Ada rasa kehilangan yang masih tersimpan, namun juga muncul kelegaan karena kewajiban kepada leluhur dapat dilaksanakan dengan baik.
Anak-anak dan generasi muda yang hadir menjadi saksi hidup berlangsungnya tradisi yang telah diwariskan oleh leluhur mereka selama berabad-abad. Mereka menyaksikan secara langsung bagaimana nilai penghormatan kepada orang tua dan leluhur diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Bali.
"Bagi Desa Sayan, Ngaben Massal tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menjadi ruang pendidikan budaya bagi generasi penerus. Nilai gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan kepada leluhur diajarkan melalui praktik nyata," imbuhnya.
Pelaksanaan karya yang melibatkan empat banjar ini juga menunjukkan kuatnya persatuan masyarakat desa adat. Perbedaan wilayah banjar melebur dalam satu tujuan bersama, yakni menyukseskan yadnya yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas.
Anak Agung Rai Sugiartha menilai kebersamaan tersebut menjadi kekuatan utama desa adat dalam menjaga keberlangsungan tradisi di tengah perkembangan zaman yang terus berubah.
Setelah pelaksanaan ngaben dan pengutangan, masyarakat masih akan melanjutkan rangkaian upacara berikutnya sebagai bagian dari penyempurnaan penghormatan kepada para leluhur.
Tahapan nyekah dijadwalkan berlangsung pada Senin, 10 Agustus 2026. Upacara ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Pitra Yadnya sebagai proses penyucian lanjutan bagi atma leluhur yang telah diupacarai.
Bagi masyarakat Desa Adat Sayan, seluruh rangkaian karya ini bukan sekadar tradisi tahunan. Namun merupakan warisan nilai luhur yang mengajarkan tentang bakti, ketulusan, dan penghormatan kepada leluhur. Di tengah perubahan zaman, Ngaben Massal tetap menjadi pengingat bahwa hubungan antara generasi yang hidup dan para pendahulunya akan selalu terjaga melalui yadnya yang dilandasi keikhlasan dan kebersamaan.*
Editor : Putu Agus AdegrantikaSumber : adegrantika