BALIEXPRESS. ID - Di tengah hiruk-pikuk dunia akademik, kisah I Wayan Budiantara menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari kesederhanaan. Anak seorang petani yang sehari-hari bekerja sebagai tukang tandur padi ini kini selangkah lagi meraih gelar doktor setelah mengikuti Ujian Seminar Hasil Penelitian Disertasi Program S3 Doktor Ilmu Agama di Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Perjalanan Budiantara menuju jenjang pendidikan tertinggi tidaklah mudah. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Sejak kecil, ia menyaksikan langsung bagaimana kedua orang tuanya bekerja keras di bawah terik matahari, menanam padi demi memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anak mereka.
“Tangan yang menanam padi itu adalah tangan yang membesarkan saya. Tangan yang bekerja tanpa mengenal lelah demi memberikan kehidupan dan pendidikan kepada anak-anaknya,” ungkap Budiantara saat menceritakan perjalanan hidupnya, Senin (10/8).
Momentum mengikuti seminar hasil disertasi menjadi titik yang sangat emosional baginya. Duduk di ruang ujian doktoral, pria yang menjadi Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Kelembagaan pada Direktorat Urusan Agama Hindu, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI ini mengaku tidak hanya membawa hasil penelitian, tetapi juga membawa doa, harapan, dan pengorbanan panjang dari keluarga yang selama ini menjadi sumber kekuatannya.
Di balik tumpukan referensi dan lembaran disertasi yang disusunnya, tersimpan kisah perjuangan yang tidak terlihat oleh banyak orang. Ada doa orang tua, dukungan istri tercinta, keringat keluarga, hingga berbagai tantangan yang harus dihadapi selama menempuh pendidikan.
“Di balik meja dan lembaran disertasi ini, ada doa orang tua, doa istri tercinta, serta perjuangan panjang yang tidak mudah. Ada air mata, rasa lelah, kegagalan, dan keberanian untuk terus melangkah,” tutur pria Asli Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Tabanan ini.
Baca Juga: Bupati Kembang Apresiasi Taman Organik Satria Mandala, Warga Kelola Sampah Secara Swadaya
Budiantara mengaku tidak pernah membayangkan bahwa dirinya yang berasal dari keluarga petani sederhana suatu hari akan sampai pada tahap pendidikan doktoral. Namun keyakinan dan semangat untuk terus belajar membuatnya bertahan menghadapi berbagai keterbatasan.
Menurutnya, keberhasilan yang diraih bukan karena dirinya paling pintar. Ia justru meyakini bahwa ketekunan dan kemauan untuk terus mencoba menjadi kunci utama dalam perjalanan akademiknya.
“Bukan karena saya paling pintar. Saya sampai di sini karena tidak berhenti mencoba ketika keadaan terasa sulit,” katanya.
Perjalanan menempuh pendidikan tinggi juga harus dijalani bersamaan dengan tanggung jawab pekerjaan. Tidak sedikit waktu yang harus dibagi antara menyelesaikan tugas profesional dan memenuhi tuntutan akademik yang semakin kompleks.
Ada banyak hari ketika rasa lelah datang menghampiri. Namun setiap kali semangat mulai surut, ia selalu mengingat pengorbanan orang tuanya yang bekerja keras di sawah demi masa depan anak-anaknya.
Kenangan itulah yang menjadi bahan bakar untuk terus melangkah. Ketika keinginan untuk menyerah muncul, Budiantara kembali mengingat bahwa pendidikan adalah salah satu jalan terbaik untuk membalas pengorbanan orang tua.
Baginya, gelar akademik bukan sekadar pencapaian pribadi. Lebih dari itu, pendidikan merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan keluarga yang telah mengorbankan banyak hal demi masa depan yang lebih baik.
Kisah Budiantara juga menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana. Latar belakang ekonomi, menurutnya, tidak boleh menjadi penghalang untuk meraih cita-cita setinggi mungkin.
Ia percaya bahwa kesempatan untuk sukses terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan belajar dan keteguhan hati. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan kerja keras.
Perjalanan dari sawah menuju ruang ujian doktoral menjadi simbol bahwa pendidikan mampu membuka jalan perubahan hidup. Dari lingkungan yang penuh kesederhanaan, lahir tekad yang membawa seseorang mencapai puncak akademik.
Kini, langkah Budiantara menuju gelar doktor tinggal selangkah lagi. Namun bagi dirinya, pencapaian terbesar bukanlah gelar yang akan disandang, melainkan kemampuan untuk membuktikan bahwa pengorbanan orang tua tidak sia-sia.
Di balik keberhasilannya, tersimpan pesan sederhana namun kuat: jangan pernah menyerah pada keadaan. Sebab, mimpi yang dirawat dengan kerja keras dan doa memiliki jalan untuk menemukan kenyataan.
Kisah I Wayan Budiantara menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang, ia tumbuh dari lumpur sawah, dari tangan-tangan pekerja keras, dan dari tekad seorang anak yang ingin membalas cinta orang tuanya melalui pendidikan. *
Editor : Putu Agus AdegrantikaSumber : adegrantika