Truk Parkir Bikin Macet, Badung Harus Memiliki Terminal Angkutan Barang

Putu Resa Kertawedangga • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:04 WIB
Kadishub Badung, Anak Agung Gde Rahmadi. (ist)
Kadishub Badung, Anak Agung Gde Rahmadi. (ist)

BALIEXPRESS.ID - Permasalahan truk barang yang parkir di kawasan Kabupaten Badung ternyata tidak murni kesalahan dari pengemudi.

Hal ini lantaran hingga saat ini Gumi Keris belum memiliki terminal angkutan barang.

Akibatnya, kendaraan bertonase besar terpaksa mencari tempat berhenti sendiri sebelum menuju lokasi tujuan, yang pada akhirnya ikut membebani lalu lintas.

Baca Juga: Hak Waris Perempuan Bali dalam Skema Ategen Asuun, Adilkah?

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Badung, Anak Agung Gde Rahmadi mengatakan, keberadaan terminal angkutan barang menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurai persoalan yang kini terjadi.

Selain dapat mengatasi kemacetan yang ditimbulkan truk parkir, keberadaan terminal dapat melayani kendaraan angkutan barang antar kabupaten maupun kendaraan dengan muatan besar.

Rencana tersebut bahkan telah masuk dalam perencanaan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD).

Baca Juga: Pengukuran Terjadwal Hadirkan Kepastian Waktu, Masyarakat Tak Perlu Lama Menunggu Layanan Pertanahan

"Di Gilimanuk ada terminal barang, di Negara ada, di Tabanan ada. Di Badung belum ada terminal barang, adanya terminal penumpang," ujar Rahmadi, Selasa (11/8).

Hanya saja pembangunan terminal barang tersebut memerlukan pembahasan dan sinkronisasi dengan Pemerintah Provinsi Bali.

Terlebih, rencana pengembangan terminal angkutan barang harus disesuaikan dengan pembangunan jaringan jalan ke depan, termasuk rencana jalan tol.

Baca Juga: Menteri Nusron Ajak BPKAD dan IPPAT Se-Jateng Perkuat Sinergi Wujudkan Transformasi Layanan Pertanahan

"Di tiap-tiap kabupaten harusnya ada. Tapi kita harus sinkron dengan rencana jalan yang dibangun, kemudian dengan rencana Provinsi bagaimana. Kalau informasinya BPTD mau bikin di belakang terminal penumpang itu, tapi ini baru yang saya dapat," ungkapnya.

Rahmadi menerangkan, persoalan yang terjadi saat ini adalah banyak truk masuk ke Badung sebelum waktunya.

Kendaraan bertonase besar ini kemudian berhenti atau ngetem menunggu hingga waktu yang dianggap tepat untuk menuju tempat tujuan.

Menurutnya, pola seperti ini semestinya dapat diubah diperhitungkan dengan pengaturan waktu bongkar muat.

"Harusnya mereka berhitung. Diam dulu di Gilimanuk, diam dulu di Jembrana, telepon dulu langganannya atau mitra usahanya yang ada di Badung. Jam segini baru langsung ke tempat tujuan," tegasnya.

Lebih lanjut dirinya menyatakan, ketika truk menunggu atau parkir di ruas jalan, ruang lalu lintas ikut tergerus dan berpotensi memperparah kepadatan.

Untuk itu, penertiban kendaraan yang dilakukan Dishub Badung saat ini menurutnya baru sebatas solusi cepat untuk mengatasi persoalan di lapangan.

"Yang terjadi macet sekarang ya inilah obat sementara. Kita lakukan penertiban, mereka kembali muncul. Nah ini yang harus dipikirkan ke depannya," jelasnya. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
terminal angkutan barang parkir badung