BALIEXPRESS.ID - pertumbuhan pariwisata Bali belum sepenuhnya diikuti pemerataan manfaat ekonomi bagi pelaku usaha lokal. Salah satu persoalan yang masih dihadapi adalah kesenjangan informasi antara wisatawan dengan berbagai aktivitas budaya dan layanan usaha di sekitar destinasi.
Melihat peluang tersebut, I Wayan Agus Widya Putra, yang akrab disapa Gustra, menggagas KALA, sebuah startup yang dirancang untuk membangun ekosistem pariwisata budaya berbasis teknologi.
Nama KALA berarti “waktu”, sekaligus merupakan akronim dari Knowledge-based Activity & Location Analytics. Platform ini dikembangkan dengan visi memadukan kearifan lokal Bali dengan kemudahan teknologi, sehingga wisatawan tidak hanya memperoleh informasi perjalanan, tetapi juga dapat lebih dekat dengan aktivitas dan pengetahuan budaya Bali.
“Persoalannya bukan hanya bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana memastikan mereka bisa terhubung dengan aktivitas budaya dan pelaku usaha lokal secara lebih mudah,” ujar Gustra, Rabu (12/8).
KALA dirancang memiliki sejumlah fitur utama, mulai dari penyajian jadwal acara budaya yang akurat dan real-time, pusat pembelajaran wariga digital, sistem manajemen reservasi sekaligus peningkatan visibilitas restoran lokal, hingga wadah promosi bagi pemilik vila dan penyedia jasa lepas agar dapat menjangkau wisatawan secara langsung.
Menurut Gustra, keterhubungan digital tersebut berpotensi membuka sumber pendapatan baru bagi pelaku usaha yang selama ini belum optimal menjangkau wisatawan.
Bagi wisatawan, KALA diharapkan menjadi pintu masuk untuk menemukan destinasi, kuliner, akomodasi, maupun layanan di sekitar kawasan budaya. Di saat bersamaan, wisatawan juga dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai budaya Bali melalui pusat pembelajaran wariga digital.
Salah satu aspek yang menjadi pembeda KALA adalah penerapan model crowdsourcing. Melalui pendekatan ini, komunitas dapat berpartisipasi dalam membangun ekosistem informasi budaya, dengan tetap mengedepankan akurasi dan autentisitas data.
Model tersebut dipadukan dengan teknologi geolokasi sehingga informasi mengenai aktivitas budaya dapat dikaitkan dengan lokasi dan kebutuhan wisatawan secara lebih relevan.
Gustra menilai kombinasi antara teknologi dan partisipasi masyarakat menjadi penting agar digitalisasi pariwisata tidak menghilangkan karakter budaya Bali. Sebaliknya, teknologi diharapkan menjadi sarana untuk memperluas akses terhadap pengetahuan dan aktivitas budaya.
“Teknologi seharusnya menjadi jembatan, bukan menggantikan nilai-nilai lokal. Karena itu, KALA mencoba menggabungkan teknologi geolokasi, informasi real-time, dan pengetahuan budaya yang tumbuh dari masyarakat,” katanya.
Dalam pengembangannya, Gustra akan membangun KALA bersama adik sepupunya, I Kadek Wira Atmaja, yang dipercaya sebagai CTO sekaligus Co-Founder.
Sementara itu, pendanaan awal KALA diajukan oleh kakak sepupunya, I Komang Suwiryanata, melalui program Dana Indonesia Raya. Pengajuan tersebut telah lolos tahap seleksi proposal.
Saat ini, proses pendanaan masih berada pada tahap perbaikan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan menunggu penetapan resmi sebelum memasuki tahap penandatanganan kontrak kerja sama.
I Komang Suwiryanata juga turut membantu membuka akses untuk pelaksanaan pilot project KALA sebagai bagian dari upaya menguji dan mengembangkan platform tersebut di lapangan.
KALA menempatkan digitalisasi bukan sekadar sebagai alat untuk memudahkan wisatawan mencari informasi. Lebih jauh, platform ini diarahkan untuk membangun konektivitas antara wisatawan, aktivitas budaya, dan pelaku ekonomi lokal.
Dengan memadukan teknologi geolokasi, sistem informasi real-time, pembelajaran wariga digital, serta partisipasi komunitas melalui crowdsourcing, KALA berambisi menjadi salah satu jembatan baru dalam ekosistem pariwisata Bali.
Gagasan tersebut diharapkan dapat memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus membantu mengurangi kesenjangan digital yang membuat sebagian pelaku usaha lokal belum mendapatkan manfaat optimal dari tingginya arus kunjungan wisatawan.
Bagi Gustra, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat sebuah aplikasi, melainkan memastikan teknologi tersebut mampu menciptakan ekosistem yang memberikan nilai tambah bagi Bali. *
Editor : Putu Agus AdegrantikaSumber : adegrantika