BALIEXPRESS.ID- Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Karangasem diwarnai kabar duka.
I Gede Abdi Cahyanta Wiguna, 17, siswa SMAN 2 Amlapura, meninggal dunia setelah mengikuti lomba gerak jalan 17 kilometer, Senin (10/8/2026).
Cahyanta sempat mengikuti perlombaan meski sehari sebelumnya dikabarkan mengalami diare.
Baca Juga: Pemkab Tabanan Salurkan Dana BOSP Kinerja Rp965 Juta untuk 40 Satuan Pendidikan
Kondisi fisiknya disebut belum sepenuhnya fit. Namun, keinginan untuk tetap membela sekolah membuatnya memilih turun dalam perlombaan.
Perjalanan Cahyanta bersama peserta lainnya berlangsung hingga memasuki rute Jasri–Ahmad Yani.
Sekitar pukul 14.30 Wita, kondisi tubuhnya tiba-tiba menurun. Ia kemudian tumbang dan tidak sadarkan diri.
Baca Juga: Bakeuda Tabanan Ingatkan ASN Bayar Pajak Kendaraan Tepat Waktu, Singgung Opsen PKB
Sebelumnya, Cahyanta sempat diminta menghentikan perlombaan dan digantikan peserta cadangan, namun menolak dan tetap berusaha melanjutkan gerak jalan.
Cahyanta dievakuasi ke RSUD Karangasem untuk mendapatkan pertolongan medis.
Baca Juga: Dokumen Tercecer Ternyata Dipegang Nany Widjaja
Ia tiba dalam kondisi tidak sadarkan diri dan menjalani penanganan intensif selama sekitar empat jam.
Kabid Pelayanan RSUD Karangasem I Gusti Lanang Putu Udiyana mengatakan, berdasarkan kondisi pasien saat tiba, pihak rumah sakit menduga Cahyanta mengalami dehidrasi parah.
Selain itu, terdapat dugaan penyakit bawaan yang sebelumnya tidak terdeteksi.
“Kami menduga pasien mengalami dehidrasi parah, dan diduga memiliki penyakit bawaan yang tidak terdeteksi sebelumnya,” ujar Lanang.
Kondisinya terus memburuk di RSUD, Cahyanta kemudian dirujuk ke RSUP Prof. Ngoerah Denpasar pada Senin malam.
Namun, upaya medis untuk menyelamatkan nyawanya tidak membuahkan hasil. Cahyanta meninggal dunia.
Kepala SMAN 2 Amlapura I Wayan Puja Astawa membenarkan kabar duka tersebut.
Ia mengatakan kepergian Cahyanta menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar sekolah.
“Kepergian ini meninggalkan duka dan kehilangan yang mendalam bagi kami. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujar Puja Astawa.
Menurut Puja, sebelum keberangkatan mengikuti perlombaan, Cahyanta tidak menyampaikan keluhan sakit kepada pihak sekolah.
“Kami melayat setelah pihak keluarga sudah berada di rumah duka,” tandasnya. (*)
Editor : I Made MertawanSumber : Radar Bali