Bukan Usia Galon, Pakar Sebut Faktor Ini yang Menentukan Keamanan AMDK

Rika Riyanti • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:12 WIB
AMAN: Lama penggunaan galon air minum guna ulang dinilai bukan menjadi ukuran utama untuk menentukan keamanan air di dalamnya
AMAN: Lama penggunaan galon air minum guna ulang dinilai bukan menjadi ukuran utama untuk menentukan keamanan air di dalamnya

 

BALIEXPRESS.ID - Lama penggunaan galon air minum guna ulang dinilai bukan menjadi ukuran utama untuk menentukan keamanan air di dalamnya.

Para pakar menyebut kualitas dan keamanan lebih berkaitan dengan kondisi fisik kemasan, proses sanitasi, cara penyimpanan, serta pengawasan mutu yang dilakukan produsen.

Guru Besar Bidang Rekayasa Pengemasan Pangan IPB, Prof. Nugraha Edhi Suyatma mengatakan hingga kini belum terdapat standar yang menetapkan batas usia penggunaan galon guna ulang.

Produsen air minum dalam kemasan (AMDK), menurutnya, telah menerapkan pengendalian mutu untuk memastikan galon yang digunakan tetap memenuhi persyaratan keamanan pangan.

Baca Juga: Usaha Gerabah Warisan Leluhur Tetap Lestari, KUR BRI Perkuat Perajin Menjaga Tradisi Pengabenan Bali

"Mereka sudah punya standar internal terkait mutu fisik, kimia dan keamanan pangannya. Jadi, insyaallah aman," kata Nugraha.

Ia menyebut riset kolaborasi Seafast IPB dan BPOM menemukan galon yang telah digunakan hingga 50 kali, termasuk setelah disimpan dalam kondisi ekstrem, masih memenuhi batas migrasi Bisphenol A (BPA) yang ditetapkan BPOM.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan kembali galon tidak secara otomatis membuat air minum di dalamnya menjadi tidak aman.

Menurut Nugraha, kondisi galon justru lebih banyak dipengaruhi oleh bagaimana kemasan tersebut diperlakukan selama digunakan.

Cara mencuci hingga potensi munculnya goresan pada bagian dalam galon dapat memengaruhi ketahanan kemasan.

"Jadi, perlakuan para konsumen lebih mempengaruhi usia atau ketahanan daripada galon itu menjadi cepat rusak atau tidak," katanya.

Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian (TIN) IPB yang mendalami bidang air, Prof. Suprihatin, juga menyatakan belum ada bukti ilmiah yang mengaitkan gangguan kesehatan dengan galon guna ulang hanya karena telah digunakan dalam jangka waktu panjang.

"Selama ini tidak ada laporan ilmiah yang menunjukkan galon guna ulang menimbulkan dampak kesehatan hanya karena faktor usia pemakaian," katanya.

Suprihatin mengatakan perhatian utama seharusnya diarahkan pada kondisi kebersihan galon serta penerapan sanitasi dan pengawasan mikrobiologis.

Baca Juga: Jejak Hindu-Buddha di Pura Goa Giri Putri, Pelinggih Dewi Kwan Im hingga Hyang Ciwa Amerta Simbol Akulturasi

Apabila kemasan tetap memenuhi standar kebersihan dan diproses sesuai prosedur, kualitas air minum dinilai tetap dapat terjaga.

Ia menambahkan, perusahaan AMDK yang telah memiliki reputasi biasanya menerapkan pemeriksaan berlapis sebelum galon kembali digunakan.

Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi fisik, umur pakai, serta aspek kebersihan secara kimia dan mikrobiologis.

"Perusahaan AMDK yang sudah punya nama umumnya memperhatikan hal tersebut dan jarang menggunakan galon yang lanjut usia," katanya.

Baca Juga: Prefabrikasi Mulai Dilirik untuk Menjawab Kebutuhan Pembangunan Hospitality di Bali

Terkait BPA, Suprihatin menjelaskan bahwa usia galon bukan faktor yang menentukan laju migrasi zat tersebut ke dalam air.

Migrasi lebih berkaitan dengan kondisi fisik dan kimia tertentu, termasuk tingkat keasaman, paparan suhu tinggi, serta durasi kontak antara kemasan dan produk.

"Migrasi BPA hanya terjadi dalam kondisi ekstrim tertentu. Secara teoritis, laju migrasi BPA dari galon ke AMDK tidak dipengaruhi oleh frekuensi pemakaian galon," katanya.

Sementara itu, Pakar Teknik Kimia Steven Soen menilai anggapan bahwa galon yang telah digunakan selama bertahun-tahun otomatis menjadi berbahaya tidak dapat dibenarkan tanpa melihat faktor lainnya.

Menurutnya, penyimpanan dan penggunaan selama masa pakai justru lebih berpengaruh terhadap potensi migrasi material.

"Cara penyimpanan dan penggunaan galon jauh lebih berpengaruh (memicu migrasi) dibanding sekadar lamanya usia pakai," katanya.

Baca Juga: 55 Pejabat di Pemkab Tabanan Dilantik, Bupati Tekankan Profesionalisme

Steven menjelaskan, risiko migrasi material dapat meningkat ketika galon digunakan atau disimpan secara tidak tepat, seperti terpapar panas secara terus-menerus atau digunakan di luar peruntukannya.

Kondisi tersebut, menurut dia, tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan usia kemasan.

"Itu manajemen penyimpanan saja. Kalau memang buat minum, simpan baik-baik di dalam rumah. Jadi balik lagi ke kita manusianya, bukan plastiknya, bukan BPA-nya, tapi ke kita. Gimana kita dengan bijak menyimpan produk itu. Gimana kita juga dengan bijak mengolah sampahnya," katanya.

Ia juga membantah anggapan bahwa produsen AMDK menggunakan galon yang sama tanpa mengenal batas masa pemakaian.

Baca Juga: 29 Pasang Peserta Adu Cepat di Sungai Perancak, Lomba Sampan Jadi Magnet HUT Kota Negara

Menurut Steven, produsen memiliki ketentuan internal mengenai frekuensi penggunaan dan umur pakai galon.

Kemasan yang sudah tidak memenuhi persyaratan akan dikeluarkan dari peredaran dan diganti.

"Apakah memang semua orang galon pemberian kakek ini terus dipakai? Enggak juga. Pabrik juga pasti punya kebijakan. Dia juga cuci-cuci pasti ada batasnya, enggak mungkin dari zaman ratusan tahun itu terus dipakai. Pasti dia bikin lagi. Jadi enggak mungkin galon itu dipakai bertahun-tahun terus tanpa ada penggantian. Pasti pada akhirnya kembali di-recycle dan pabrik mengeluarkan yang baru," katanya.(***)

Editor : Rika Riyanti
bali Mutu Galon amdk