Keren! Hutan Adat Bukit Demulih Bangli Raih Terbaik III Nasional, Kental Nuansa Spiritual

I Made Mertawan • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 07:32 WIB
Hutan Adat Bukit Demulih meraih penghargaan. (I Made Mertawan/Bali Express)

 
Hutan Adat Bukit Demulih meraih penghargaan. (I Made Mertawan/Bali Express)  

BALIEXPRESS.ID – Hutan Adat Bukit Demulih, Desa Adat Demulih, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli meraih penghargaan Wana Lestari 2026 kategori Pengelolaan Hutan Adat Terbaik III Tingkat Nasional.

Penghargaan tersebut diserahkan langsung Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni kepada Bendesa Adat Demulih I Nengah Karsana, Kamis (13/8/2026).

Penghargaan itu menjadi pengakuan atas upaya masyarakat adat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan yang memiliki luas sekitar 40 hektare tersebut.

Baca Juga: Berkat Abu Teko, Perajin Tanah Liat di Desa Pejaten Tabanan Dapat Solusi Kelangkaan Bahan Baku

Karsana mengatakan, penilaian dilakukan secara bertahap. Tim dari Provinsi Bali melakukan penilaian pada April 2026, kemudian dilanjutkan dengan penilaian dari tingkat pusat pada Juli 2026.

Karsana ditemui pada Selasa (18/8/2026) mengungkapkan bahwa Hutan Adat Bukit Demulih merupakan hutan adat yang telah mendapatkan surat keputusan (SK) hutan adat sejak 2021.

Kelestarian hutan selama ini dijaga melalui awig-awig. Salah satunya mengatur larangan berburu dan larangan menebang pohon secara sembarangan. “Kalau melanggar kena sanksi. Sampai sekarang warga masih patuh,” ujar Karsana.

Baca Juga: Tepati Nazar, Siswa SMPN 5 Kubu Jalan Kaki 7 Km Sambil Bawa Piala Gerak Jalan

Kepatuhan masyarakat terhadap aturan adat membuat kondisi hutan tetap terjaga. Berbagai jenis burung masih dapat ditemukan di kawasan tersebut.

Jenis pohon yang tumbuh juga beragam, termasuk tanaman yang menghasilkan seperti durian, manggis, dan cengkeh, selain berbagai jenis kayu lainnya.

Baca Juga: Dari Australia hingga Amerika Serikat, PT MJEthnic Craft Indonesia dari Jayapura Angkat Budaya Lokal Menembus Pasar Internasional Berkat Pelatihan Ekspor BRI Peduli

Kawasan Bukit Demulih juga memiliki nilai sakral bagi masyarakat setempat. Di kawasan hutan dengan ketinggian sekitar 400 mdpl tersebut terdapat 11 pura desa.

Kawasan hutan juga menyimpan sumber mata air atau petirtaan. Di bagian bawah bukit terdapat aliran air yang biasa digunakan masyarakat untuk malukat.

"Apabila ada warga kami yang baru pulang menjalani perawatan di rumah sakit, malukat di sana," jelasnya.

Ke depan, pihaknya memiliki rencana untuk menata kawasan tersebut agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat malukat bagi masyarakat umum.

Kawasan itu juga dinilai potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, karena pemandangan dari atas bukit dinilai sangat indah sehingga kawasan tersebut diharapkan dapat dikembangkan sebagai objek wisata spiritual.

Namun demikian, Karsana yang menjabat sebagai bendesa sejak 2022 itu menegaskan tidak sembarangan boleh naik ke puncak bukit.

Misalnya saat ada warga Demulih meninggal dunia, semua warga pantang ke puncak selama 12 hari.

"Itu sudah berlaku dari dulu, tidak ada berani melanggar," jelas pensiunan PNS Pemkab Bangli ini. (*)

Editor : I Made Mertawan
hutan adat bukit demulih wana lestari bangli