BALIEXPRESS.ID- Tingkat kebocoran jaringan pipa Perumda Air Minum Tirta Danu Arta (PDAM) Bangli masih tergolong tinggi.
Pada 2025 mencapai 25,80 persen, melampaui ambang batas maksimal sebesar 20 persen.
Kabag Teknik Perumda Air Minum Tirta Danu Arta Bangli, I Wayan Gunawan, mengatakan angka tersebut sebenarnya sudah mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya mencapai 29 persen.
Baca Juga: Berkat Abu Teko, Perajin Tanah Liat di Desa Pejaten Tabanan Dapat Solusi Kelangkaan Bahan Baku
Ia pun memperkirakan angka kebocoran pada 2026 masih belum mampu ditekan hingga maksimal 20 persen.
"Desember baru terlihat, tapi rasanya belum bisa maksimal 20 persen," kata Gunawan, Selasa (18/8/2026).
Gunawan mengatakan bahwa hampir setiap hari menangani kebocoran pipa. Penanganan lebih sering dilakukan malam hari agar tidak terlalu mengganggu pelayanan kepada pelanggan.
Baca Juga: Tepati Nazar, Siswa SMPN 5 Kubu Jalan Kaki 7 Km Sambil Bawa Piala Gerak Jalan
Selain itu, kondisi malam juga memudahkan petugas mendeteksi titik-titik kebocoran karena penggunaan air relatif lebih rendah. "Bisa jam 1 malam kami di lapangan," sebutnya.
Gunawan menjelaskan, salah satu penyebab tingginya kebocoran adalah kondisi jaringan pipa yang sudah berusia cukup tua.
Kondisi ini terutama ditemukan di wilayah Kota Bangli, karena sebagian jaringan pipanya telah terpasang sejak sekitar tahun 1970-an.“Paling banyak bocor di jaringan induk,” jelasnya.
Untuk mendeteksi kebocoran, PDAM Bangli masih melakukan sejumlah metode, termasuk pemeriksaan secara manual dengan pola penutupan jaringan per segmen.
Petugas juga memanfaatkan manometer untuk membantu memantau tekanan air pada jaringan.
Selain itu, PDAM mulai menerapkan konsep District Meter Area (DMA). Jaringan distribusi dibagi menjadi beberapa wilayah dengan pola aliran yang lebih terukur sehingga volume air yang masuk dan keluar dapat dipantau.
Tingginya kebocoran tidak hanya berdampak terhadap kondisi jaringan, tetapi juga berpengaruh pendapatan perusahaan.
Air yang sudah didistribusikan namun hilang sebelum sampai ke pelanggan tentu tidak dapat menjadi pendapatan.
Di sisi lain, pelanggan juga ikut terdampak. Air yang seharusnya diterima pelanggan bisa berkurang akibat kehilangan air di jaringan.
“Pelanggan yang posisinya lebih tinggi juga bisa mendapatkan air lebih kecil,” ungkap Gunawan.
Gunawan menegaskan, perusahaan belum bisa melakukan peremajaan pipa karena anggaran yang dibutuhkan pasti besar.
Pihak perusahan juga harus memastikan pelanggan tetap mendapat pasokan air selama proses pengerjaan. (*)
Editor : I Made Mertawan