M-TEER Pertama di Bali Tangani Kebocoran Katup Jantung Berat Tanpa Operasi Terbuka

Rika Riyanti • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:42 WIB
PERTAMA DI BALI: Tindakan tersebut dilakukan di Bali International Hospital (BIH) oleh dr. I Dewa Gde Dwi Sumajaya, M.Biomed, Sp.JP(K), FIHA, FICA, Konsultan Intervensi Jantung SCVC BALI, bersama dr. Ni Made Ayu Wulan Sari, M.Biomed, Sp.JP(K), Subspesialis Ekokardiografi SCVC BALI. Prosedur turut melibatkan Prof. Lam Yat Yin dari Hong Kong dan Prof. Su Xi dari China.
PERTAMA DI BALI: Tindakan tersebut dilakukan di Bali International Hospital (BIH) oleh dr. I Dewa Gde Dwi Sumajaya, M.Biomed, Sp.JP(K), FIHA, FICA, Konsultan Intervensi Jantung SCVC BALI, bersama dr. Ni Made Ayu Wulan Sari, M.Biomed, Sp.JP(K), Subspesialis Ekokardiografi SCVC BALI. Prosedur turut melibatkan Prof. Lam Yat Yin dari Hong Kong dan Prof. Su Xi dari China.

 

 

BALIEXPRESS.ID — Seorang pria berusia 68 tahun dengan mitral regurgitation (MR) berat atau kebocoran katup mitral menjalani tindakan Mitral Transcatheter Edge-to-Edge Repair (M-TEER) di Bali.

Prosedur yang dilakukan pada 2 Agustus 2026 lalu tersebut menjadi tindakan M-TEER pertama di Bali.

Pasien diketahui mengalami kebocoran katup mitral akibat proses degeneratif dan telah menunjukkan gejala gagal jantung, salah satunya pembengkakan pada kaki.

Setelah kondisi pasien dan risiko operasi terbuka dipertimbangkan, tim dokter memilih pendekatan minimal invasif melalui prosedur M-TEER.

Baca Juga: Prudential Bayarkan Klaim Rp20,9 Triliun, Tegaskan Pentingnya Perlindungan di Tengah Risiko Kesehata

Tindakan tersebut dilakukan di Bali International Hospital (BIH) oleh dr. I Dewa Gde Dwi Sumajaya, M.Biomed, Sp.JP(K), FIHA, FICA, Konsultan Intervensi Jantung SCVC BALI, bersama dr. Ni Made Ayu Wulan Sari, M.Biomed, Sp.JP(K), Subspesialis Ekokardiografi SCVC BALI. Prosedur turut melibatkan Prof. Lam Yat Yin dari Hong Kong dan Prof. Su Xi dari China.

M-TEER dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju jantung tanpa membuka tulang dada.

Dokter kemudian menggunakan perangkat khusus untuk mendekatkan bagian daun katup mitral yang mengalami kebocoran sehingga aliran balik darah dapat dikurangi.

Dalam tindakan tersebut, tim dokter menggunakan ekokardiografi transesofageal sebagai panduan secara real time untuk menentukan posisi perangkat, memastikan penjepitan katup dilakukan secara tepat, sekaligus mengevaluasi hasil tindakan. Prosedur berlangsung kurang dari dua jam.

“Keberhasilan tindakan ini tidak hanya ditentukan oleh perangkat yang digunakan, tetapi juga oleh ketepatan perencanaan dan koordinasi tim selama prosedur. Setiap tahapan tindakan juga membutuhkan panduan secara langsung dan keputusan yang presisi. Kolaborasi dengan tim internasional memberikan kesempatan bagi kami untuk menggabungkan pengalaman dan keahlian dalam menangani kasus yang kompleks, sekaligus memperkuat transfer pengetahuan kepada tim medis di Indonesia,” ujar dr. Suma.

Kasus tersebut sekaligus menyoroti persoalan penyakit katup jantung yang gejalanya kerap tidak dikenali sejak awal.

Keluhan seperti mudah lelah, sesak napas, menurunnya kemampuan beraktivitas hingga pembengkakan pada kaki dapat muncul pada pasien dengan gangguan katup jantung.

Menurut dr. Suma, sebagian masyarakat masih menganggap kelainan katup jantung cukup ditangani dengan obat.

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Lantik 163 Pejabat Pemkab Badung

Padahal, obat terutama digunakan untuk mengendalikan gejala dan kondisi pasien, bukan memperbaiki struktur katup yang mengalami kebocoran.

“Masih banyak masyarakat yang menganggap kelainan katup jantung cukup ditangani dengan obat. Padahal, obat pada dasarnya membantu mengendalikan gejala dan kondisi pasien, tidak untuk memperbaiki struktur katup yang mengalami kebocoran. Karena itu, apabila seseorang memiliki keluhan seperti mudah lelah, sesak, atau kaki membengkak, terutama pada usia lanjut, sebaiknya dilakukan pemeriksaan jantung lebih lanjut agar kondisi dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin,” jelas dr. Suma.

M-TEER menjadi salah satu pilihan penanganan bagi pasien tertentu dengan kebocoran katup mitral, khususnya ketika operasi jantung terbuka memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan.

Pendekatan ini memungkinkan tindakan dilakukan melalui kateter tanpa sayatan besar pada dada.

Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Harga, Disperpa Badung Kembangkan Cabai Seluas 42 Hektare

Tindakan pertama tersebut dilakukan oleh tim Sapporo Cardio Vascular Clinic (SCVC BALI), yang merupakan bagian dari Hong Kong Asia Medical Group (HKAMG), dengan melibatkan dokter dari Indonesia, Hong Kong, dan China.

CEO HKAMG Steven Tse mengatakan pengalaman tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan layanan jantung struktural di Indonesia.

“Keberhasilan M-TEER di SCVC BALI merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus memperluas akses terhadap layanan cardiovascular dan structural heart yang lebih canggih di Indonesia. Kami ingin memastikan bahwa pasien tidak selalu harus mencari penanganan ke luar negeri untuk mendapatkan teknologi dan keahlian medis tingkat lanjut. Di SCVC BALI, kami membangun kolaborasi antara dokter Indonesia dan para ahli dari jaringan HKAMG di Asia untuk menghadirkan layanan berkualitas tinggi sekaligus memperkuat kapasitas medis di Indonesia. Ini merupakan bagian dari visi kami dalam mengembangkan layanan kardiovaskular di Asia Tenggara,” katanya.

Keberhasilan tindakan tersebut juga melibatkan kerja sama SCVC BALI dengan Artivis dalam penyediaan alat kesehatan yang digunakan dalam prosedur.

Bagi pasien dengan gejala yang mengarah pada gangguan katup jantung, pemeriksaan menjadi penting untuk menentukan tingkat keparahan kondisi serta pilihan penanganan yang sesuai.

Terlebih, kebocoran katup mitral dapat berkembang secara perlahan dan gejalanya kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan atau kelelahan biasa.(***)

Editor : Rika Riyanti
katup jantung Bali International Hospital (BIH) china