BALIEXPRESS.ID-Persoalan migrasi talenta muda dari Bali Utara kembali menjadi perhatian dalam rangkaian Buleleng Festival (Bulfest) pada Kamis (20/8) di Gedung Sasana Budaya. Budayawan sekaligus peneliti naskah kuno asal Buleleng, Sugi Lanus, mengangkat isu brain drain atau keluarnya sumber daya manusia terdidik dari Buleleng dalam seminar kebudayaan yang dihadiri kalangan pemuda, akademisi dan pelaku industri kreatif.
Menurut Sugi Lanus, brain drain yang terjadi di Buleleng tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan kesempatan kerja atau pilihan individu. Fenomena tersebut memiliki akar sejarah yang panjang dan berkaitan dengan perubahan posisi Buleleng dalam peta politik, pemerintahan, ekonomi dan kebudayaan Bali.
Ia mengajak masyarakat melihat kembali sejarah Singaraja sebagai pusat pemerintahan dan intelektual di Bali Utara. Menurutnya, pada masa ketika Singaraja menjadi pusat pemerintahan Bali dan Kepulauan Sunda Kecil, kota tersebut memiliki daya tarik yang kuat bagi masyarakat terdidik.
“Kita harus melihat sejarah secara jernih. Antara tahun 1849 hingga 1958, Singaraja adalah ibu kota Bali dan Kepulauan Sunda Kecil. Kota ini adalah magnet birokrasi dan pusat literasi termaju, rumah bagi peradaban intelektual yang melahirkan institusi legendaris seperti Gedong Kirtya. Namun, ketika pusat pemerintahan dipindahkan secara total ke Denpasar pada tahun 1958, Buleleng seketika kehilangan pengaruh politik dan ekonominya,” ujar Sugi Lanus.
Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya memindahkan pusat pemerintahan secara administratif, tetapi juga mengubah orientasi mobilitas masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat dari berbagai daerah datang ke Singaraja untuk memperoleh pendidikan, bekerja dan mengembangkan karier, setelah pusat pemerintahan bergeser ke Bali Selatan, arus mobilitas perlahan berbalik.
Kondisi tersebut kemudian membentuk kebiasaan migrasi yang berlangsung lintas generasi. Anak-anak muda Buleleng yang memperoleh pendidikan tinggi akhirnya melihat Bali Selatan maupun luar negeri sebagai ruang yang menawarkan kesempatan lebih besar.
Di sisi lain, Buleleng tetap berkembang sebagai salah satu daerah pendidikan di Bali. Setiap tahun perguruan tinggi di wilayah tersebut menghasilkan ribuan lulusan dengan beragam keahlian. Persoalannya, pertumbuhan sumber daya manusia terdidik tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan ketersediaan lapangan kerja yang sesuai dengan kompetensi mereka.
Akibatnya, lulusan terbaik cenderung mencari pekerjaan ke Denpasar, Badung, Gianyar, bahkan ke luar Bali dan luar negeri. Dalam perspektif pembangunan daerah, kondisi tersebut menjadi persoalan karena daerah asal kehilangan sebagian sumber daya manusia yang seharusnya dapat menjadi penggerak perubahan.
Baca Juga: OKK PWI Bali, Sepuh Jurnalis Widminarko Bekali 102 Wartawan tentang Sejarah Organisasi Pers Tertua
Sugi Lanus menilai, persoalan tersebut semakin kompleks ketika sektor-sektor ekonomi tradisional Buleleng, seperti pertanian, belum sepenuhnya mampu bertransformasi menjadi sektor yang menarik bagi generasi muda terdidik. Demikian pula industri kreatif yang memiliki potensi besar belum berkembang dalam skala yang mampu menampung seluruh talenta muda.
Tidak hanya berbicara mengenai lapangan pekerjaan, Sugi Lanus juga menyoroti persoalan sosial yang menurutnya perlu mendapat perhatian serius. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak kehilangan produktivitas sebelum mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi.
Menurutnya, pemerintah daerah bersama desa adat perlu menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pendidikan, kreativitas dan aktivitas produktif anak muda. Ia mengkritisi munculnya sejumlah aktivitas hiburan dan perilaku sosial yang berpotensi mengganggu produktivitas generasi muda.
“Kita tidak bisa membiarkan talenta-talenta muda kita layu sebelum berkembang. Pemerintah daerah bersama desa adat harus mengambil tindakan tegas untuk mengantisipasi penurunan produktivitas ini. Pengetatan izin hiburan malam liar, pembatasan kafe musik liar, serta pengawasan ketat terhadap penjualan alkohol terbuka di pelosok desa yang menyasar anak-anak di bawah umur harus segera dilakukan,” tegasnya.
Ia juga menyinggung fenomena judi online, judi konvensional seperti tajen liar dan aksi balap liar yang menurutnya perlu menjadi perhatian bersama. Aktivitas tersebut dinilai bukan sekadar persoalan ketertiban sosial, tetapi juga berkaitan dengan hilangnya waktu, energi dan sumber daya ekonomi generasi muda.
Salah satu persoalan yang disorot adalah penggunaan dana kiriman pekerja migran Indonesia asal Buleleng. Dana yang seharusnya dapat menjadi modal untuk membangun usaha di desa asal, menurutnya, perlu diarahkan menjadi investasi produktif.
“Solusinya adalah pembalikan arah anggaran. Alokasikan pendanaan daerah secara masif untuk mendukung kegiatan positif pemuda, siswa, dan mahasiswa di bidang akademik, sastra, seni budaya, serta industri kreatif. Berikan mereka panggung dan ruang ekspresi yang sehat di tanah kelahiran mereka sendiri,” tambahnya.
Baca Juga: Griya Sabha Ketewel, Tonjolkan Ekoteologi, Gunakan Dekorasi Alami hingga Piring Daun
Untuk mengatasi brain drain, Sugi Lanus menawarkan pendekatan lintas sektor. Salah satunya adalah modernisasi pertanian melalui konsep smart farming. Menurutnya, pertanian tidak boleh terus dipersepsikan sebagai pekerjaan tradisional yang hanya mengandalkan tenaga fisik.
Teknologi seperti Internet of Things (IoT), sensor, sistem irigasi pintar, analisis data dan pemasaran digital dapat digunakan untuk mengubah pertanian menjadi bisnis modern. Dengan demikian, generasi muda berpendidikan tinggi dapat masuk ke sektor pertanian dengan membawa kompetensi teknologi, manajemen, komunikasi maupun pemasaran.
“Pertanian harus dibuat menjadi bisnis yang bergengsi bagi generasi muda terdidik,” menjadi salah satu gagasan yang ditekankan dalam paparannya.
Langkah tersebut juga penting untuk menghadapi persoalan semakin menua atau aging population di kalangan petani. Jika generasi muda tidak tertarik masuk ke sektor pertanian, keberlanjutan sektor tersebut dalam jangka panjang akan menghadapi tantangan serius.
Selain pertanian, konektivitas digital dinilai menjadi salah satu jalan keluar. Infrastruktur internet cepat tidak cukup hanya tersedia di pusat kota, tetapi perlu menjangkau desa-desa adat. Dengan konektivitas yang baik, peluang remote working dapat berkembang.
Anak muda Buleleng tidak harus selalu pindah ke Denpasar atau keluar Bali untuk memperoleh pekerjaan dengan perusahaan nasional dan internasional. Mereka dapat bekerja dari Buleleng untuk perusahaan yang berkantor di berbagai kota bahkan berbagai negara.
Gagasan berikutnya adalah memperkuat regulasi dan investasi produktif. Pemerintah Kabupaten Buleleng didorong merancang kebijakan yang memberikan insentif bagi perusahaan rintisan atau startup lokal. Selain itu, perlu dibangun mekanisme kurasi dan pendampingan agar dana investasi yang berasal dari pekerja migran dapat masuk ke sektor produktif di daerah.
Dengan cara tersebut, migrasi tidak selalu harus dipandang sebagai kehilangan. Tenaga kerja Buleleng yang bekerja di luar daerah atau luar negeri dapat tetap memiliki hubungan ekonomi dengan daerah asal melalui investasi, transfer pengetahuan dan jaringan bisnis.
Baca Juga: Prudential Bayarkan Klaim Rp20,9 Triliun, Tegaskan Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Sugi Lanus menegaskan bahwa penyelesaian brain drain membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, desa adat, dunia usaha, komunitas kreatif dan masyarakat. Pemerintah tidak cukup hanya menyediakan lapangan kerja, tetapi harus membangun ekosistem yang membuat talenta muda merasa memiliki alasan untuk tetap tinggal dan berkarya di Buleleng.
Perguruan tinggi juga memiliki posisi penting dalam menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan daerah. Riset, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat perlu diarahkan pada persoalan nyata Buleleng sehingga ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas atau jurnal akademik, tetapi dapat menjadi solusi bagi masyarakat.
Begitu pula desa adat dapat berperan menciptakan ruang sosial dan budaya yang sehat bagi generasi muda. Seni, sastra, budaya, teknologi dan industri kreatif dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi baru Buleleng.
“Buleleng Festival bukan sekadar ajang selebrasi seni tahunan, melainkan momentum untuk merebut kembali marwah intelektual Bali Utara. Kita harus menghentikan laju brain drain ini dengan membangun ekosistem yang menghargai kecerdasan, menjaga ketertiban sosial, dan menyediakan masa depan yang layak bagi anak-anak muda di tanah kelahiran mereka sendiri,” pungkas Sugi Lanus. (dik)
Editor : I Putu Mardika