Kebutuhan Air PDAM Khusus di Kintamani Meningkat saat Kemarau, Harus Diatur Lebih Ketat

I Made Mertawan • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:52 WIB
Ilustrasi air minum dalam kemasan.
Ilustrasi air minum dalam kemasan.

BALIEXPRESS.ID- Perumda Air Minum Tirta Danu Arta (PDAM) Bangli memastikan ketersediaan air masih aman saat musim kemarau.

Saat ini, PDAM memanfaatkan 22 sumber mata air untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

Kabag Teknik Perumda Air Minum Tirta Danu Arta Bangli, I Wayan Gunawan, mengatakan karakteristik sumber mata air di Bangli cukup baik.

Baca Juga: PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Kaderisasi Wartawan

Debit sumber mata air secara umum tidak mengalami penurunan saat musim kemarau ini. “Untuk sementara aman,” kata Gunawan, Selasa (18/8/2026).

Kendati sumber mata air masih aman, kebutuhan air pelanggan dipastikan meningkat saat musim kemarau, khususnya di Kecamatan Kintamani.

Pelanggan yang memiliki area pertanian menggunakan air lebih banyak dari biasanya. "Saat musim kemarau, pertanian mengandalkan air PDAM," jelasnya.

Baca Juga: BRI Perkenalkan Tampilan Baru Qlola, Perkuat Solusi Digital Terintegrasi bagi Ekosistem Bisnis

“Kalau musim hujan, pelanggan banyak menampung air hujan untuk pertanian, jadi pemakaian air PDAM kecil, hanya untuk rumah tangga," tambah Gunawan.

Peningkatan kebutuhan saat musim kemarau ini membuat pendistribusian air di Kintamani harus diatur lebih ketat.

Baca Juga: Fenomena Brain Drain Buleleng, Budayawan Sugi Lanus Dorong Anak Muda Berkarya di Tanah Kelahiran

Pengaturan dilakukan agar pasokan air tetap dapat menjangkau pelanggan secara merata.

Sumber utama untuk pelayanan pelanggan di Kintamani adalah mata air Pebini di Desa Catur. Sumber mata air ini memiliki debit sekitar 35 liter per detik.

Dalam kondisi normal, pelanggan yang mencapai 6.000 di Kintamani mendapat aliran air setiap dua hari sekali. Sekali dialirkan, air dapat mengalir hingga sekitar 12 jam.

Saat musim kemarau, pola distribusi tetap dilakukan setiap dua hari sekali. Durasi aliran dapat berkurang menjadi sekitar sembilan jam karena air lebih cepat habis akibat meningkatnya pemakaian.

“Jelas pendistribusian harus diatur karena air sumber mata air Pebini sebagai sumber mata air utama debitnya 35 liter per detik,” ujarnya.

Selain air Pebini, PDAM sebenarnya memiliki sumber mata air di wilayah Lembean, Kintamani.

Namun, kapasitas sumber tersebut terbatas sehingga hanya mampu melayani pelanggan di tiga desa, yakni Lembean, Bunutin, dan Manikliu. 

Sementara disinggung terkait pemakaian air di Kecamatan Bangli, Susut dan Tembuku, Gunawan memastikan masih stabil. Tidak terpengaruh musim kemarau. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
Kintamani musim kemarau PDAM Bangli